Tentang BungRam
Personal Information
83B8FDC7-7CD9-4DAD-BC36-D051D749DC9F
A. Ramdani, S.Pd.I

Saat ini sebagai konsultan pendidikan dalam hal pengembangan program sekolah dan SDM guru. Aktif sebagai penulis buku dan artikel pendidikan, juga aktif di beberapa komunitas relawan

Info Kegiatan
Memilih Untuk Mengabdi

Sebagai tenaga pendidik, karir saya sudah dimulai sejak tahun 1991. Di Pondok Pesantren Daaruttaqwa Cibinong Bogor.


Mengabdikan diri menjadi guru itu adalan jalan sunyi, jalan yang kadang membuat orang berpikir bahwa dunia pendidikan di negeri ini sudah sejak zaman ‘baheula’ dipandang dunianya orang-orang yang mapan. Mapan dalam artian tidak perlu berpikir macam-macam, kecuali rutinitas mengajar dan berjibaku dengan buku  dan anak-anak di depan kelas. 

‘No less No more.’

{"uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1604709673354","source":"other","origin":"unknown","sources":["329774461073201"]}
1F4A075B-3F74-4AB3-B323-AB8F317ACA5B


Lebih suka mie ayam dengan toping jamur dan agak banyak ditaburi daun bawang.  

Senang mengunjungi museum daripada jalan-jalan ke mall, karena lebih hemat.  



29 years later.......


Pendidikan kini memiliki dinamika yang ‘unpredictable’. Bicara pendidikan saingannya ‘Artificial Intelligence.’ Saat ini saya menjadi salah satu pengelola sekolah Islam, yang nota bene masuk kategori lembaga pendidikan modern, nampak modern jika dibandingkan dengan beberapa sekolah milik pemerintah di sekitarnya.Hampir sepuluh tahun saya nongkrong di lembaga ini, dan masih dalam garis edar orang-orang yang menempuh jejak  pewaris para nabi. Membuat  rentetan aksi sebagaimana diamanahkan Undang-Undang Sisdiknas “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Lalu saya  bermimpi suatu saat anak-anak yang saat ini mengikuti proses tangan-tangan guru sederha lagi manut, dan bebas dari ambisi dunia, menjalankan intruksi atasannya, atau tepatnya kemauan mpunya sekolah, tak boleh menggerutu, mengeluh, apalagi menuntut jaminan pensiun atau perbaikan kesejahteraaan seperti para pendemo RUU Cipta Kerja, tumbuh menggantikan para pemimpin korup dan serakah yang mengangkangi bangsa. 

Di antara berbagai hal yang membuat saya jatuh cinta pada dunia pendidikan adalah karena saya dibesarkan oleh Ibu saya yang juga pernah jadi guru, dan bahkan hingga kini Ibu saya tetap menjadi guru, meski bukan guru pengajar sebuah lembaga sekolah. Namun guru mengaji di kalangan Ibu-ibu sekitar rumah.  

Perkenalan saya dengan dunia volunteer di tahun 2013 dimulai lewat keterlibatan saya sebagai Relawan PAUD DKI dibawah  naungan Yayasan Indonesia Mengajar. Kemudian pada tahun 2015, melalui kegiatan   Festival  Gerakan Indonesia  Mengajar

{"uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1604546939737","source":"other","origin":"unknown"}

saya terpilih menjadi relawan Narasumber RUBI (Ruang Berbagi Ilmu), salah satu program dari Yayasan Indonesia Mengajar untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru dan kepala sekolah di berbagai daerah terpencil. Dan waktu itu saya dikirim ke Majene Sulawesi Barat. 


Hingga tahun 2019, alhamdulillah saya tetap bisa mengabdikan diri sebagai relawan narasumber di kegiatan Ruang Berbagi ailmu (RUBI) Yayasan Indonesia Mengajar. Menjadi relawan di Jombang pada tahun 2018, dan Di Karangasem Bali 2019. 


Memilih untuk mengabdi, jalan sunyi yang tidak banyak dipilih oleh sebagian tenaga pengajar. Saya pikir semua punya tujuan dalam karirnya, bahkan tukang cukur asal Garut, kang Apuy yang saya tanya, dia mengatakan “menjadi tukang cukur itu juga bagian dari mengabdi supaya orang lain tampil pede”. Keren kan?


Dalam karir pendidikan juga, alhamdulillah saya pernah menjadi kepala sekolah di beberapa sekolah, termasuk di sekolah yang saat ini saya bantu kelola, Sekolah Islam Citra Nuanasa, di Mekarsari Cileungsi Bogor.

 
E322FFBA-585C-4E33-82E0-C53609A46F97
Hidup tidak kekal, yang membuat kita abadi adalah seberapa banyak orang lain merasakan manfaat dari kehadiran kita di tengah-tengah mereka.

RUBI Karangasem Bali, 2019.


Ini adalah  kegiatan berbagi dalam aktifitas pelatihan untuk guru dan kepala sekolah yang ketiga kalinya saya ikuti, sebagai relawan narasumber.  Bersama para panitia lokal KI Bali yang super keren, kegiatan yang mencakup kurang lebih 30 sekolah se-Kabupaten Karangasem Bali itu menjadi sebuah pengalaman kerelawanan yang mengesankan. Secara saya juga  baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah  pulau Dewata. Jadi hitung-hitung jalan-jalan juga sambil berbagi pengalaman dengan guru-guru di Karangasem.  Pastinya banyak cerita sarat makna dan pesan  berbalut harapan dari obrolan santai dengan para kepala sekolah yang ikut di kelas materi saya.

Lorem ipsum dolor sit amet

Artikel BungRam

Pendidikan
Agama Islam
Parenting
Sosial Politik