Hubungi BungRam    

Puasa Melatih Diri Untuk ‘Imsak’ Jangka Panjang


Ramadhan adalah bulan istimewa yang diyakini oleh seluruh umat Islam sebagai bulan yang penuh berkah, rahmat dan  memiliki keutamaan dibanding bulan-bulan lainnya.

 

Hal tersebut paling tidak dapat diyakini dengan adanya pernyataan (hadits) Rasulullah Muhammad SAW;

 

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta setan-setan dibelenggu” (HR. Ahmad)

 

Tidak habis kajian tentang keistimewaan bulan Ramadhan dan ibadah puasa, serta amalan-amalan lainnya. Hal itu senantiasa diulang disampaikan, di mimbar khutbah ataupun di tengah kumpulan orang-orang dalam kajian keagamaan di bulan Ramadhan.

 

Tidak kurang ayat tentang kewajiban puasa dilantunkan beserta beragam penafsiran ulama atasnya.

 

Pertanyaan pentingnya adalah, apakah bulan Ramadhan sebagai “madrasah ruhaniah” ini benar-benar membentuk kepribadian kita sebagai insan bertaqwa?

 

Ramadhan, jika kita pandang sebagai satu waktu di mana kita melakukan rekontruksi diri, melakukan ‘ihtisab’ atas apa yang sudah kita lalui sebagai hamba Allah SWT. Tanggungjawab moral kita dari apa yang sudah kita pahami, tanggung jawab sosial kita dari apa yang sudah Allah anugerahkan selama ini.

 

Jika puasa kita belum juga mampu menahan diri kita untuk “menuhankan” makanan. Maka Ramadhan yang sudah bertahun-tahun kita jalani setiap satu bulan, tidaklah memberikan apa-apa kacuali lapar dan haus.

 

“Betapa sedikit yang berpuasa, dan betapa banyak orang yang lapar” kata nabi.

 

Dalam konsep ‘imsak’, sejatinya kita memahami makna imsak dalam terminologi ibadah, sebagai upaya menahan, menjaga diri dengan cakupan yang lebih kongkret dan bermakna.

 

Kongkret artinya definisi imsak dalam konteks fiqih puasa, yaitu menahan atau mencegah dari hal-hal yang membahayakan atau merusak amalan  puasa. Atau menahan untuk tidak melakukan sesuatu yang membatalkan ibadah puasa; makan, minum, berhubungan suami istri, muntah, hilang akal dan sebagainya.

 

Dalam konsep ‘imsak’ secara komprehensif, kita menariknya ke dalam konsep ‘self awareness’ atas apa-apa yang membuat diri kita terjebak ke dalam perbuatan buruk atau berlebihan, atau sebagai perbuatan yang menjauhkan kita dari nilai-nilai inti tujuan berpuasa.

 

Pengendalian diri dalam puasa bisa kita pahami sebagaimana dalam 

 dunia psikologi dan dunia neurosains disebut  dengan  kemampuan untuk mengelola impuls, emosi, dan perilaku seseorang untuk mencapai tujuan jangka panjang. Itu yang membedakan manusia dengan makhluk mamalia lainnya. Karena hewan mamalia hanya punya tujuan jangka pendek; makan, berkembang biak, kemudian mati.

 

Pengendalian diri, dalam neurosains dihubungkan kepada aktifitas otak, terutama berakar pada korteks prefrontal — pusat perencanaan, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan di otak — yang secara signifikan lebih besar pada manusia daripada mamalia lain.

 

Kekayaan koneksi saraf di korteks prefrontal memungkinkan orang untuk merencanakan, mengevaluasi tindakan alternatif, dan idealnya menghindari melakukan hal-hal yang nantinya akan mereka sesali, daripada segera menanggapi setiap impuls yang muncul.

 

Kemampuan kontrol diri atas respons impulsif, dilatih lewat ibadah puasa. Maka selama sebulan paling tidak secara fisik, mulai dari organ  pencernaan, hingga organ lainnya melakukan rekondisi kepada kebiasaan yang baik. Otak melakukan pemetaan kembali jalur pikiran, yang sebelumnya bisa dengan enteng melakukan apapun, kini dalam ritual puasa, ada “alarm” yang berupaya menstimulus tentang hal-hal yang mulia.

 

Dengan demikian, kita benar-benar melakukan ‘imsak’ yang sesungguhnya selama bulan Ramadhan, dan sikap impuls dalam mengkonsumsi juga menjadi terkendalikan setelah bulan Ramadhan. Karena kita kemudian memiliki perencanaan, kesadaran diri, untuk ‘imsak’ dari berbagai hal (yang buruk) agar bisa mencapai tujuan jangka panjang perjalanan hidup kita, yaitu berjumpa Allah di akhirat.


[Bungram-18042021]


 

Bagikan

Menolak vaksin COVID-19