Hubungi BungRam    

Self determination
151BD811-119B-46C5-AB37-9552DFA911FE

Sekolah Orangtua

Mengembangkan Self Determination Pada Diri Anak

Leadership of Parenting #6

  

Jika tindakan Anda menginspirasi orang lain untuk lebih banyak bermimpi, belajar lebih banyak, berbuat lebih banyak, dan menjadi lebih banyak, Anda adalah seorang pemimpin."  (John Quincy Adams)

 

 

Dalam To Kill a Mockingbird,  Atticus Finch berkata kepada anaknya, “Ada banyak hal buruk di dunia ini, nak. Aku berharap aku bisa menjauhkan mereka darimu. ” ungkapan itu menggambarkan bagaimana seorang Ayah berdiri sebagai pelindung yang terdepan bagi anaknya, seorang “hero”. Ini seperti orang tua pada akhir 1990-an membaca itu dan memutuskan mereka akan menjadi generasi yang akan  melindungi anak mereka dari segala keburukan.  Namun ada yang dilupakan dari lanjutan percakapan itu adalah bahwa dia melanjutkan kalimatnya, “Itu tidak mungkin.”

 

Itulah sikap atau posisi yang diambil oleh orangtua yang menjadi “helikopter” dalam mengontrol segala aktifitas anak. Mengasuh anak adalah hal yang sangat menegangkan, penuh resiko dan bahaya mengintai terhadap anak-anak. Sehingga “orangtua helikopter” akan memantau secara totalitas, menyeluruh dari atas  seluas udara di mana helikopter terbang.

 

‘Helicopter Parenting’ adalah gaya pengasuhan yang sangat ketat dan terarah dengan tujuan melindungi kenyamanan fisik dan mental anak, kadang-kadang bahkan dengan cara mengekang anak. Orangtua dengan perilaku “helikopter” tidak sedikitpun membiarkan anak-anaknya lepas dari pantauan dan kontrol mereka, dalam setiap kesempatan. Orangtua yang helikopter tidak segan-segan melarang anaknya bermain dengan teman tetangganya, bilamana ia merasa khawatir tetangganya itu akan bermain secara bebas, atau menggunakan barang mainan miliknya. Atau khawatir anak tetangganya akan menyakiti anaknya karena memperebutkan mainan. Hal biasa terjadi di antara anak-anak, namun bagi orangtua yang helikopter, hal itu amat mengganggu dan mengkhawatirkan.

 

Menurut Edward Deci dan Richard Ryan dalam karyanya  ‘Self Determination Theory’ (2008), menyebutkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki tiga kebutuhan bawaan yang dibutuhkan untuk pengembangan diri yang baik. Tiga kebutuhan bawaan  tersebut adalah:

 

1.    Kebutuhan akan otonomi

2.    Kebutuhan untuk  percaya diri dalam hal kemampuan dan prestasi 

3.    Kebutuhan untuk merasa dicintai dan diperhatikan

 

‘Self determination ‘ merupakan salah satu konsep yang berkaitan dengan motivasi dan kepribadian manusia. Self determination adalah rasa percaya bahwa individu dapat mengendalikan nasibnya sendiri. Self  Determination atau penentuan  nasib  sendiri adalah kombinasi dari sikap dan kemampuan yang memimpin orang–orang untuk menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri. Self determination adalah perasaan individu yang berkaitan dengan pilihan dalam  mengawali dan mengatur tindakan. Self determination dianggap sebagai komponen kunci dari motivasi intrinsik yang pada akhirnya menjadi penentu dari sebuah keputusan. Motivasi intrinsik sendiri merujuk pada keadaan dimana seseorang memulai aktivitas untuk dirinya sendiri karena merasa aktivitas tersebut menarik dan dapat mencapai kepuasan apabila melakukannya. Motivasi intrinsik pada umumnya dipengaruhi oleh motivasi dari dalam diri seseorang dibandingkan dari lingkungan eksternal (eksternal motivation).

 

Kepemimpinan dalam pengasuhan orangtua terhadap anak tidaklah bisa berjalan atau memengaruhi sikap dan perilaku anak jika orangtua melakukan pola ‘pengasuhan helikopter’, yang mendistorsi kemampuan menentukan nasib sendiri, mengikis sikap percaya pada diri sendiri atau mampu memenuhi keperluannya sendiri.

 

Dalam pola kepengasuhan ‘helicopter parenting’, ketika orang tua menyelesaikan masalah untuk anak-anak mereka, maka anak-anak mungkin tidak mengembangkan kepercayaan diri dan kompetensi untuk memecahkan masalah mereka sendiri, dan sejak itu tanpa disadari oleh orangtua, kebutuhan anak untuk  memiliki otonomi atas dirinya sendiri hilang. Kemudian tahap selanjutnya otoritas beralih menjadi milik orangtua secara mutlak. Dan sejak itulah, rasa percaya diri anak perlahan lenyap.

 

Barangkali sebagian berpikir, bahwa rasa aman dan tetjaga dari kesulitan akan membentuk keterampilan individu meningkat. Anak merasa dicintai dan diperhatikan oleh orangtua yang teramat peduli. Namun sesungguhnya sikap pengendalian dan penanganan masalah sepenuhnya oleh orangtua akan mengakibatkan kerapuhan dalam diri anak. Mereka akan kesulitan untuk berpikir sesuai keinginannya. Mereka akan terpenjara dengan otoritas orangtua.

 

Perlahan setiap anak tumbuh dan memahami akan definisi ‘privasi’, kemerdekaan berkehendak, kebebasan berpikir, dan hak untuk menentukan diri sendiri. 

 

Sebuah studi baru pada tahun 2015 oleh Jean Ispa dan rekan peneliti lainnya dalam Pembangunan Sosial menemukan bahwa Balita yang diberi ruang untuk mengeksplorasi dan berinteraksi dengan lingkungannya sendiri memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang tua mereka. Mereka mencari ibu mereka untuk bermain dan berinteraksi lebih sering daripada anak-anak dengan “ibu helikopter”.

 

Studi ini menyimpulkan: siapkan diri untuk anak Anda, tetapi biarkan mereka mengambil langkah untuk mendatangi Anda. Jangan Anda yang melangkah untuk mengambil mereka.

 

Maksudnya, selama Anda menciptakan suasana kemerdekaan berbuat bagi anak-anak, membiarkan mereka dalam situasi menghadapi sendiri apa yang di hadapan mereka, itu akan melatih sikap otonomi yang baik, percaya diri yang tinggi, dan kekuatan melakukan ‘self determination’. Dalam kepemimpinan, kekuatan ‘self determination’ ini tentu amat kuat pengaruhnya untuk memperkuat kemampuan dan peningkatan karakter anak. Orangtua yang pemimpin, tidak bisa menjadi penuntun atau pengawas penuh dengan gaya helikopter itu. Karena tugas Anda ialah memberikan anak-anak inspirasi untuk bergerak, berpikir dan berbuat sesuai kemampuan mereka.

 

Untuk mengembangkan ‘self determination’ skills menurut Wehmeyer, Agran, & Hughes (1998), dibutuhkan komponen keterampilan perilaku seperti berikut:

   

1. Keterampilan Membuat Pilihan

 

Pengambilan pilihan adalah kemampuan individu untuk mengekspresikan preferensi mereka di antara dua opsi atau lebih (Wehman, 2006), dan memberikan peluang untuk melakukan kontrol atas tindakan dan lingkungannya. Alih-alih Anda menekan anak untuk melakukan satu hal yang Anda inginkan, berikan mereka pilihan, Anda tentu bisa mensiasati dua pilihan itu agar nampak tidak mendikte.

   

2. Keterampilan Membuat Keputusan

 

Mirip dengan pengambilan pilihan, pengambilan keputusan membutuhkan penilaian yang efektif tentang pilihan atau solusi apa yang benar pada saat tertentu. Menurut Wehman (2007), pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan individu untuk mengidentifikasi kemungkinan alternatif untuk tindakan, konsekuensi potensial dari setiap tindakan, menilai probabilitas setiap hasil yang terjadi, memilih alternatif terbaik, dan menerapkan keputusan alternatif. Sebagai pemimpin, Anda perlu melatih anak-anak keterampilan kepemimpinan tersebut. Cara sederhananya, biasakan mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang apa yang mesti mereka lakukan. Dengarkan penjelasan mereka dan hargai setiap apa yang mereka putuskan.

   

3. Keterampilan Pemecahan Masalah

 

Pemecahan masalah membutuhkan identifikasi masalah, kemungkinan solusi, dan pemahaman tentang pro dan kontra potensial dari setiap solusi. Biasakan anak Anda mengenal masalahnya lebih baik sebelum membantu apa yang harus dilakukan. Banyak orang dewasa sulit memecshkan masalah karena memang pada dasarnya dia tidak paham apa masalahnya. Pemecahan masalah, skill yang harus dilatih sejak dini usia. 

   

4. Keterampilan Menetapkan Tujuan dan Pencapaian

 

Keterampilan penetapan tujuan dan pencapaian adalah komponen penting dalam pengembangan kemampuan yang mengarah pada tindakan agen dan penentuan nasib sendiri.

  

5. Keterampilan Kesadaran Diri

 

Keterampilan kesadaran diri memungkinkan individu untuk mengidentifikasi dan memahami kebutuhan, kekuatan, dan keterbatasannya. Di rumah, sebagai orangtua, salah satu hal penting yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran diri anak ialah menjadi contoh yang baik untuk melakukan perbuatan baik. Anak tidak mudah menyadari setiap yang ia lakukan memiliki konsekwensi, oleh karenanya mereka perlu tau, dan melihat figur nyata yang bisa menunjukkan bagaimana berbuat baik.

 

6.  Keterampilan komunikasi. 

 

Tidaklah mungkin kepemimpinan akan efektif tanpa terbangunnya komunikasi yang baik dan efektif. Kepuasan kebutuhan dasar melalui kegiatan komunikasi memungkinkan peluang untuk mengevaluasi, mendiskusikan, dan belajar melalui pengamatan dan sangat berguna bagi anak-anak sebagai mengomunikasikan  apapun yang ingin disampaikannya secara baik dan proporsional.

  

Demikian beberapa catatan tentang bagaimana mengembangkan keterampilan penentuan nasib sendiri untuk menghadirkan salah satu keterampilan penting dalam leadership parenting di rumah Anda. 


[BungRam]

    
      

Share to

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *