Hubungi BungRam    

Menguatkan Perilaku Positif Anak

Menguatkan Perilaku Positif Anak

5FC7A07E-9A79-4278-84B1-2538E75F0ED2


“Orangtua tidak akan pernah mendidik anak berbuat baik dengan cara mengungkapkan setiap kesalahannya, sehingga ia merasa bersalah.”

  

Mendidik anak adalah proses mendewasakan secara bertahap. Dewasa maksudnya memiliki kemampuan, pengetahuan untuk memilih di antara banyak hal agar menjadi pilihan yang tepat dan sesuai dengan dirinya untuk menjadikannya terus menyempurna.

 

Perilaku yang muncul dan sikap yang nampak dalam diri anak, lebih banyak dari hasil proses ia menjalani masa pertumbuhan dirinya. Dalam teori tabula rasa, bahwa seorang manusia lahir tanpa perilaku bawaan. Ia seperti kertas kosong. Orang dewasa kemudian menentukan, akan menulis atau membuat gambar apa di atas kertas tersebut. Maksudnya, bahwa anak seorang Ibu yang pembunuh dari Bapak yang bengis tidak serta merta ia terlahir menjadi seorang bengis dan pembunuh. Jika saat ia lahir kemudian diserahkan kepada seorang raja yang baik hati, maka anak itu akan menjadi bngsawan yang baik. Begitupun sebaliknya, anak seorang permaisuri yang sedari kecil dipelihara dan dididik oleh seorang pencuri, akan memiliki karakter dan belajar menjadi mencuri.

 

Menurut John Locke, pencetus teori “kertas kosong”. bahwa pikiran individu "kosong" saat lahir, dan juga ditekankan tentang kebebasan individu untuk mengisi jiwanya sendiri. Setiap individu bebas mendefinisikan isi dari karakternya - namun identitas dasarnya sebagai umat manusia tidak bisa ditukar. Dari asumsi tentang jiwa yang bebas dan ditentukan sendiri serta dikombinasikan dengan kodrat  manusia inilah lahir doktrin Lockean tentang apa yang disebut alami.

 

Dalam kepengasuhan, tentu orangtualah yang berperan untuk “mengisi kertas kosong”  tersebut. Kemudian lingkungan dan sekolah. 

 

Dari proses pendidikan dan kepengasuhan itulah tentunya perilaku anak menjadi positif. Atau bahkan menjadi negatif. Anak pemarah dan pendiam, bukan karena ia terlahir sebagai “built in” pemarah atau pendiam. Itu mengalami sebuah rekayasa lingkungan di mana ia tumbuh dan berkembang dalam hidupnya. Dalam aktifitas rekayasa itu kita bisa memberikan penguatan dan pemupukan agar muncul dan berkembang perilaku positif dalam diri anak.

 

Bagaimana menumbuhkan dan menguatkan perilaku positif anak sejak dini usia?

 

Penguatan perilaku positif membantu menciptakan motivasi intrinsik dalam diri anak.  Motivasi dari dalam dirinya sendiri, bukan dari orang lain untuk mendorong dia berbuat baik. 

 

Namun, berapa banyak dorongan itu menjadi hilang, karena seringkali orang dewasa, orangtua dan guru lebih sering menangkap momen anak berbuat  kesalahan atau kekeliruan lalu menghukumnya, daripada menangkap momen anak berbuat baik atau menunjukkan sikap positif kemudian mengapresiasinya, dan memberinya pujian. 

 

Kita perlu menguatkan perilaku positif pada anak karena anak-anak membutuhkan dukungan secara nyata, bahkan secara verbal. Kita melihatnya sedang berupaya, meski gagal dan salah, kemudian kita beri semangat dan apresiasi, itu akan melahirkan sikap optimis dalam pikirannya.

 

Dukungan untuk setiap perbuatan positif adalah bagian dari penguatan harga diri anak. Anak yang sering diberi hukuman karena sebuah kesalahan, mungkin akan memunculkan asumsi atau memposisikannya sebagai “anak nakal”. Oleh karenanya daripada mengkategorikan dirinya sebaga “anak nakal”, cobalah gunakan penguatan positif yang membantunya merasa dihargai dan dicintai.

 

Penguatan sikap positif meningkatkan motivasi anak lebih besar dari yang diharapkan, alih-alih menyesuaikan diri dengan upaya yang seminimal mungkin untuk menghindari hukuman. Begitu pula ganjaran dan insentif mengajar anak-anak bahwa perilaku positif membawa konsekuensi yang bermanfaat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dengan penguatan positif, tanggung jawab pribadi pada anak dapat meningkat secara signifikan.

 

Penguatan sikap positif berfungsi sebagai obat” pencegahan untuk perilaku buruk yang mungkin ditunjukkan ole anak. Oleh karena itu, daripada menghukum anak, penguatan positif dapat membuat dia merasa termotivasi untuk mengumpulkan pujian dan pujian sebelum membuat pilihan perilaku apa pun.

 

Berikut tips untuk memunculkan  tindakan penguatan perilaku positif anak:

1.     Tunjukkan perasaan positif Anda saat mendapati anak Anda melakukan perbuatan positif. Katakan secara spesifik.

Anda bisa memberikan pujian ketika anak Anda membantu membersihkan air yang tumpah, atau meletakkan sepatu pada rak sepatu. “Bunda senang sekali, kamu membersihkan air minum yang tumpah di meja itu. Terima kasih ya anak.”  “Kamu hebat,  karena kamu telah meletakkan sepatu di rak sepatu itu, terima kasih.”

 

2.     Hindari penilaian negatif, atau fokus pada kesalahan. Saat anak berbuat kesalahan, jangan mengatakan sesuatu yang negatif untuk menghentikan perilaku tersebut dengan segera. Ya, terkadang itulah yang perlu kita lakukan, tetapi terkadang Anda harus menunggu dan mencari hal-hal yang dia lakukan dengan benar, dan kemudian mendiskusikannya dengannya. 

 

3.     Tetap fokus pada perilaku yang benar.

Anak-anak mungkin melakukan hal yang benar dan yang salah bersama-sama, tetapi Anda harus memperhatikan hal-hal yang dia lakukan dengan benar. Seperti jika Anda memintanya untuk mengambil buku dari lantai, dia mungkin mengambilnya tetapi alih-alih menyimpannya, dia meletakkannya di tempat tidur. Berfokuslah pada apa yang dia lakukan dengan benar dan hargai dia untuk itu.

 

4.     Beritahu anak, bahwa semakin hari ia tumbuh semakin baik.

Berikan informasi tentang perubahan perilaku positif anak Anda. Dan tunjukkan apresiasi atas perubahan tersebut. Anda boleh membuat semacam catatan harian. Dan jika ada hal yang kirang baik, diskusiakan itu sambil memberi dukungan, bahwa ia pasti bisa merubahnya menjadi baik.

 

5.     Anda bisa merayakan pencapaian anak Anda yang baik, atau telah berhasil mengubah kebiasaan/perilaku negatif sebelumnya.

 

[BungRam-200121]

 

Bagikan

Artikel Lainnya

D9A27F06-63BF-46C5-A34C-652A8B2FEA3C

Bagaimana Anak Bermain Dengan Temannya? Mereka Belajar dari Ayah

{"origin":"gallery","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1609722106056","source":"other"}

Pendidikan; Investasi Berharga Untuk Kemajuan Bangsa

FF24A3F2-9081-427E-BBC7-3104F8D0D23C

Masih Perlukah Guru Memberikan PR? Sebuah Pendekatan Baru Tentang Konsep Pekerjaan Rumah