Hubungi BungRam    

Tips mengelola rutinitas pagi

Tips Mengelola Rutinitas Pagi Bersama Anak

C02D73CA-AAF6-4B9D-8B1F-D4F89DF08F1E

Menanamkan rasa tanggungjawab setelah masa pandemi

 

 

Dalam percakapan singkat, seorang Ibu dari salah satu murid di sekolah yang saya ampu menceritakan tentang kesulitannya menyiapkan persiapan belajar, dan membuat anaknya siap untuk melakukan pembelajaran dari rumah bersama gurunya via media internet. 

 

Rutinitas pagi selama pandemi seakan mengubah pola kegiatan di rumah. Karena jam belajar yang lebih sedikit dan jadwal pelajaran serta penugasan yang lebih fleksibel. Para guru membuat jadwal menjadi fleksibel karena saat awal masa pandemi, perubahan pola itu membuat segala ya membingungkan, dan tiba-tiba motivasi belajar drop di sebagian besar anak-anak, baik di tingkat sekolah dasar, maupun menengah. 

 

Di antara banyak hal yang membuat pola belajar di rumah belum terlaksana dengan baik, ialah rutinitas pagi yang berubah, karena kondisi pandemi membuat pola kegiatan di rumah berubah, orangtua yang menjalani kerja di rumah, hingga orangtua yang mengalami pemutusan hubungan kerja, dan hingga saat masa kerja di rumah berakhir, namun belajar di rumah tetap berjalan. Perubahan rutinitas pagi tentu hal yang tidak bisa dianggap enteng terkait motivasi belajar anak yang banyak dirasakan menurun. Menurut saya psikologi anak dan rasa jenuh yang bercampur aduk membuat kebiasaan yang sudah ia jalani bergeser, dan pola kegiatan menjadi tidak teratur.

 

Rutinitas pagi semacam ‘starting point’ orangtua dan anak memulai segala aktifitas, dan mempengaruhi pola komunikasi di antara keluarga.

Rutinitas pagi mulai tidak berjalan tatkala:

 
  • Anda mulai kerepotan dan butuh banyak waktu membangunkan anak dari tidurnya setiap hari. 
  • Apa yang sudah Anda siapkan seperti sarapan, susu, dan perlengkapan belajar, tidak disentuh oleh anak, kecuali setelah ia dengan (gerutuan, gumaman kesal, bahkan tangisan) keluar dari kamar untuk membersihkan muka, lalu siap di depan meja makan.
  • Anda akhirnya terlambat bekerja beberapa hari dalam seminggu karena anak Anda “sengaja-kebetulan” belum muga mau bangun dari tidur akibat mengantuk karena malamnya agak tidur larut.
  • Anda harus bersitegang dengan anak Anda tentang di mana buku catatannya yang harus diserahkan atau diperiksa guru hari itu.
  • Anda mendapati diri Anda tidak  menyiapkan pekerjaan rumah seperti biasanya, karena jika sebelumnya Anda sudah selesai membersihkan peralatan dapur jam 5 pagi, namun kini justru Anda baru memulainya, karena Anak Anda tidak perlu siap dengan seragam  sekolah dan berdiri menunggu jemputan jam 6 pagi. 
  • Anda merasa tidak perlu mandi pagi, karena hari itu tidak ada acara berangkat ke kantor, tidak ada acara mengantar anak ke sekolah, atau tidak perlu menghidangkan sarapan pagi sebelum jam 6.
 

Perubahan rutinitas pagi di masa pandemi perlu dipandang hal baru dalam pola kegiatan kita sehari-hari. Seakan istilah “ new normal” bukan hanya berkaitan dengan kebiasaan menjalankan protokol kesehatan dan tata cara kita bekerja di kantor atau tata cara belajar lewat pembelajaran jarak jauh, namun juga termasuk kepada kebiasaan baru di pagi hari di rumah kita bersama anak-anak.

 

Berikut beberapa tips untuk membentuk pola rutinitas pagi di masa pandemi, dan mungkin bisa berjalan pasca pandemi, sebagai pola baru di rumah:

  

1.    Diskusikan rutinitas pagi Anda (tetapi jangan lakukan di pagi hari). 

Meskipun Anda adalah orang yang suka bangun pagi, ini masih bukan waktu terbaik untuk mendiskusikan apa yang tidak berhasil. Luangkan waktu untuk mendiskusikan aturan dan ekspektasi Anda, dengan jelas menjelaskan kepada anak Anda apa yang tidak berhasil, dan apa yang perlu diubah. 

Ketika pagi hari Anda merasa stres karena penolakan, rujuk anak Anda kembali ke percakapan yang telah Anda lakukan, daripada berdebat sengit. Dalam Program Transformasi Total, James Lehman menyarankan untuk mengarahkan ulang anak Anda dengan mengatakan: “Kita sudah membahas ini. Kamu tahu apa yang perlu kamu lakukan, sekarang lakukanlah. "

2.    Pilih satu atau dua perilaku dalam satu waktu. 

Ada banyak hal Anda ingin anak Anda lakukan lebih baik dan tidak hanya selama rutinitas pagi. Masalahnya, anak-anak akan kewalahan ketika Anda datang kepada mereka dengan daftar panjang kesalahan yang mereka lakukan. 

Pikirkan seperti ini: jika bos Anda datang ke meja Anda dan mengoceh 16 hal yang perlu Anda perbaiki, Anda tidak hanya akan kewalahan tetapi juga sedikit kesal. Apakah Anda tidak melakukan sesuatu dengan benar? Beri anak Anda kesempatan untuk memperoleh keterampilan dan kepercayaan diri dengan berfokus pada satu atau dua perilaku yang perlu diubah. Pilih dua perilaku pagi yang menjengkelkan, dan buat rencana tindakan khusus untuk mengatasi masalah tersebut. Bicarakan dengan anak Anda tentang hal-hal yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan satu atau dua hal itu, dan bantu mereka menemukan cara-cara yang dapat mereka lakukan untuk memenuhi harapan Anda.

3.    Lakukan lebih spesifik, untuk melihat perubahan yang nyata. 

Tidaklah cukup untuk memberi tahu anak Anda, "Kamu perlu mengingat pekerjaan rumahmu." Anak Anda perlu tahu persis apa yang bisa dia lakukan secara berbeda untuk mengingat pekerjaan rumahnya. Untuk membantunya membangun keterampilan berorganisasi , pikirkan langkah - langkah tindakan spesifik daripada arah yang tidak jelas. 

Bicarakan beberapa ide bersama. Jika ada hal-hal yang bisa dia lakukan malam sebelumnya untuk mempersiapkan pagi, pastikan itu jelas. Kunci dari rutinitas pagi yang sukses adalah mengetahui dengan tepat apa yang perlu dilakukan dan dalam urutan apa. Tugas khusus dan sistem yang jelas membantu semua orang tetap pada jalurnya dengan sedikit diskusi.

4.    Biarkan sekolah mengajarkan tentang konsekuensi. 

Jika sekolah anak Anda memiliki aturan dan harapan untuk siswanya. Kemungkinan besar, terdapat konsekuensi bagi siswa yang tidak memenuhi harapan tersebut. Ini adalah kesempatan besar bagi Anda untuk keluar dari “drama” dan mengizinkan orang lain untuk menegakkan aturan. Jika anak Anda biasanya datang terlambat, tidak perlu melindungi mereka dari konsekuensi yang sudah disepakati bersama. Beri dukungan dalam bentuk mengajaknya untuk berusaha memaksimalkan waktu dan efisien agar tidak terlambat. 

Jika anak Anda kesulitan melakukan tugas, yang perlu Anda lakukan adalah mengingatkan dan menanyakan apakah ia bisa menunaikan ya tepat waktu? Jika ia ternyata tidak bisa memenuhi kewajibannya, maka tugas Anda membantunya menemukan pangkal kesulitannya, bukan mengambil alih pekerjaannya.

Jaga agar anak Anda bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri dan hasil dari tindakan tersebut akan melahirkan apa yang dinamakan sebagai " budaya akuntabilitas ", dan ini adalah bagian penting dari sistem keluarga yang sehat.

Pasca pandemi, kemampuan anak dalam bertanggungjawab yang mereka pelajari di masa pandemi adalah hal yang amat positif. Rutinitas pagi yang bisa jadi akan kembali seperti sedia kala (sebelum pandemi), memberi perspektif baru dalam hal kepengasuhan. Tugas Anda sebagai orangtua menjadikan pola yang baik yang tumbuh di masa pandemi, terus berkembang dan menjadikannya pengalaman baru untuk belajar bertanggungjawab.

 

Membuat rutinitas pagi kembali berjalan pasca pandemi memang membutuhkan kesabaran di samping kemampuan Anda sebagai orangtua mengetahui dan memanami dengan tepat apa yang perlu Anda dan anak Anda lakukan, dan dalam urutan seperti apa. Tugas khusus dan aturan maupun tata cara yang jelas akan membantu semua anggota keluarga tetap pada jalurnya tanpa banyak perdebatan dan suara keras karena penolakan.

 

[BungRam-07022021]

  

Bagikan

Artikel Lainnya

D9A27F06-63BF-46C5-A34C-652A8B2FEA3C

Bagaimana Anak Bermain Dengan Temannya? Mereka Belajar dari Ayah

4F386E20-806C-4AF1-9C52-61B4A7D61FFB

Era Industri 4.0 dan perubahan pendidikan, masih ingatkah (pedulikah) kita?

{"origin":"gallery","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1609722106056","source":"other"}

Pendidikan; Investasi Berharga Untuk Kemajuan Bangsa

FF24A3F2-9081-427E-BBC7-3104F8D0D23C

Masih Perlukah Guru Memberikan PR? Sebuah Pendekatan Baru Tentang Konsep Pekerjaan Rumah