Hubungi BungRam    

Analisis ‘Critical point’ dalam proses pendidikan di sekolah menengah

Pembelajaran di tingkat menengah pertama – SMP, merupakan awal transisi anak-anak melewati masa pendidikan yang mengarahkan kepada kemampuan dasar akademik, sikap sosial, kemampuan logika, kemampuan belajar dengan cara dan keunikan diri masing-masing, kekuatan imajinasi dan berkreasi, serta  kemampuan beradaptasi di berbagai situasi. 

 

Dalam konsep hirarki ilmu pengetahuan, BradBrad Schoenfeld, Ph.D, CSCS, seorang ahli kebugaran internasional menguraikan tentang  teori hirarki ilmu pengetahuan  yang terdiri dari lima landasan utama yaitu tradisi, otoritas, trial-and-error, penalaran logis dan metode ilmiah.

 

Tradisi merupakan landasan terbawah dalam pengetahuan. Sesuatu hal dianggap benar karena sudah dinggap benar sejak dulu. Tradisi biasanya tidak memiliki landasan ilmiah, bahkan terkadang tidak diketahui alasannya, hanya dilakukan terus menerus karena biasa dilakukan dalam jangka waktu lampau. Meskipun begitu, tingkat kepercayaan kebanyakan orang terhadap tradisi masih sangat tinggi.

 

Hirarki pengetahuan berdasarkan otoritas maksudnya adalah sesuatu dianggap benar karena hal tersebut dikatakan oleh “ahli”. Contoh sederhananya, para murid di kelas akan menganggap benar apa yang dikatakan oleh gurunya karena guru dianggap ahli. 

 

Trial artinya mencoba, dan error artinya salah. Trial-and-error digunakan untuk mendapatkan pengetahuan yang terbaik. Setelah dilakukan percobaan berkali-kali maka akan diketahui dimana letak kesalahannya, dan kesalahan-kesalahan yang ditemukan itu akan diperbaiki sehingga didapatkan pengetahuan yang mendalam. Dalam banyak kasus, trial-and-error akan memicu penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam. Namun, trial-and-error memiliki keterbatasan yang signifikan, oleh karena itu baik digunakan dalam konteks ilmu pengetahuan yang tinggi.

 

Penalaran logis adalah proses sistematis yang menggabungkan pengalaman pribadi, kecerdasan dan sistem berpikir formal untuk memperoleh pengetahuan. Penalaran logis dapat berupa deduktif (teori digunakan untuk membuat hipotesis) atau induktif (generalisasi yang diambil dari pengamatan tertentu). Penalaran induktif dan penalaran deduktif merupakan aspek penting dari penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah. Namun untuk memperoleh pengetahuan terbaik, penalaran logis harus tetap divalidasi oleh pengujian empiris.

 

Metode ilmiah adalah puncak dari piramida hirarki ilmu pengetahuan. Metode ilmiah meliputi pemeriksaan sistematis, empiris, pengontrolan, dan titik proposisi kritis pada hipotesis. Dalam hal ini, pengetahuan didapatkan dari hasil penelitian empiris yang bebas dari bias oleh para peneliti. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk merumuskan dan melakukan penelitian dengan metode ilmiah, karena metode ini menuntut untuk mengembangkan opini berdasarkan bukti. Sejauh ini, metode ilmiah adalah landasan terbaik dalam hirarki pengetahuan.

 

Mungkin jika dikaitkan dengan piramida Bloom – Taksonomi kognitif Benyamin S Bloom yang muncul pada tahun 1956, hirarki ilmu pengetahuan tersebut adalah kerangka piramida lanjutan yang memberikan dasar praktik implementasi pencapaian pengetahuan seseorang.

 

Secara mendasar proses belajar memiliki tiga domain utama, kognitif, afektif, dan psikomotorik. Yang sebelumnya telah ditegaskan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita K.H. Dewantara dengan istilah Cipta, Rasa, Karsa.  

 

Puncak hirakri pengetahuan antara Schoenfeld dan Bloom adalah sebuah pencapaian dimana seseorang telah mampu melewati proses belajar yang lebih prinsipil dan komprehensif untuk menjadi sebuah titik baru gerakan berkembanganya pengetahuan baru berikutnya, yaitu Metode ilmiah (Schoenfield) dan Evaluasi (Bloom). Evaluasi adalah puncak piramida kompetensi belajar, karena ia telah mampu menginternalisasikan pengetahuan dalam dirinya dan seluruh domain proses belajar, yang itu adalah salah satu unsur terpenting dalam metode ilmiah. Karena dalam metode ilmiah pengetahuan baik secara teoritis dan empiris diuji (dievaluasi) sehingga menjadi sebuah simpulan. Lalu simpulan tersebut akan mengalami proses penerapan yang siklusnya juga akan mengalami siklus yang sama dan disempurnakan dalam kerangka metode ilmiah lagi.

 

‘Critical point’ dalam proses pendidikan di tingkat SMP

  

Anak-anak yang telah lulus dari tingkat pendidikan dasar – SD memasuki tahap baru dalam kegiatan belajar di sekolah. Usia 12 – 15 tahun adalah usia masa pra remaja, di mana anak-anak sudah memasuki masa pubertas. Secara emosional, kemampuan berpikir dan bersosialisai, anak pra-remaja mengalami peningkatan yang cukup signifikan. 

 

Bagi beberapa anak, transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah tidak mulus, karena cakupan area belajar yang semakin luas, butuh tingkat kemandirian yang lebih tinggi, dan  munculnya tuntutan tanggung jawab yang lebih besar dari mereka. 

Di SMP, anak-anak kemudian mulai merasakan “persaingan” yang lebih kompleks daripada di SD. Maksudnya adalah eksistensi dan kemampuan diri secara personal lebih utama saat mereka bersosialisai dengan teman sekelas atau satu sekolah. Sementara di bangku SD, guru kelas lebih banyak berperan mendampingi mereka dalam memfasilitasi dan mengarahkan agar mereka bisa mencapai tujuan pembelajaran.  Di titik ini masa “kritis” perubahan dalam diri anak yang mulai  menginjak usia remaja akan memengaruhi cara dia berinteraksi dengan orang di sekitarnya, dengan gurunya atau dengan orangtuanya. 

Tidak ada waktu lain dalam hidup anak-anak memiliki kapasitas yang lebih besar untuk belajar daripada selama masa remaja. Menurut beberapa penelitian, kapasitas belajar ini disebabkan oleh peningkatan konektivitas di otak, yang terkait dengan peningkatan kapasitas intelektual seperti daya ingat dan kemampuan membaca. Perkembangan otak pada pra-remaja juga mengarah pada peningkatan keterampilan berpikir abstrak. Berkembangnya  kemampuan menalar hipotetis seperti logika deduktif adalah akibat langsung dari kemajuan kognisi anak di usia pra-remaja, dan itu mengarah pada kemampuan baru. Peningkatan memori dan peningkatan keterampilan fungsi eksekutif memungkinkan pembelajaran dasar menjadi otomatis dan dengan demikian membebaskan energi pembelajaran untuk mendalami materi pelajaran atau menambahkan lapisan kompleksitas pada pemecahan masalah. Pada “point kritis” ini guru dan orangtua seharusnya menghadirkan pengalaman belajar dan proses pengenalan diri lebih intensif daripada terlalu banyak ‘menceramahi’ anak pra-remaja dengan berbagai doktrin tradisional yang sering tidak relevan dengan usia dan zamannya.

Remaja awal sudah mampu memproyeksikan masa depan. Mereka dapat menggunakan pemikiran dan penalaran untuk mengembangkan ekspektasi hasil tertentu, dan untuk merumuskan tujuan jangka panjang. Meskipun mereka mampu berpikir secara abstrak, mereka masih mengandalkan pembelajaran aktif daripada pasif, memanipulasi ide dengan cara interaktif. Mereka mampu membangun ide dari teman sebaya. 

Pada tahap perkembangan ini, anak-anak mampu dan bersemangat untuk menjadi peserta yang lebih aktif dalam mengeksplorasi dan memahami bidang minat lintas disiplin ilmu, jika kepercayaan akademis mereka belum diturunkan. 

Di beberapa negara dengan kualitas pendidikan maju, kurikulum pada satuan pendidikan tingkat menengah pertama ini lebih banyak menekankan kepada persiapan individu untuk “tracking” apa yang menjadi pilihan terbaiknya dalam belajar, bagaimana ia akan berkontribusi kelak di kehidupan dewasanya dalam kerangka tujuan belajar untuk kehidupan. Bagaimana ia memahami kemampuan dan potensi dirinya dalam setiap pengalaman belajar di sekolah. Kemudian mereka menentukan arah belajar dan karir mereka hingga tingkat pendidikan tinggi. Di sini “point kritisnya” mengharuskan perhatian seksama dan keterbukaan serta kemampuan guru dan orangtua melakukan yang tepat dan situasional dengan kondisi anak pra-remaja.

Kecerdasan tersembunyi yang sering terabaikan

Sebelum dikenalkannya teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence) Howard Gardner, orang memandang bahwa kecerdasan seorang anak itu statis dan menjadi “hak prerogatif” guru atau orang dewasa lainnya yang mengajarinya pengetahuan. Ketika anak-anak belajar, mereka tidak dilihat sebagai sosok yang memiliki kemampuan tersembunyi atau kadang hanya nampak sedikit, kecuali hanya hasil yang nyata dalam bentuk kemampuan menyelesaikan tugas kurikuler secara general. Hampir tidak ada yang dipercayai dan dihargai dari seorang anak kecuali pencapaian akhir belajar mereka dalam bentuk bukti tertulis – laporan hasil (belajar) ujian. 

Berapa banyak calon pelukis hebat, karena kemampuan visualnya yang dominan “kandas” saat di kelas guru memarahinya ketika guru sedang ceramah penjelasan pembelajaran, ia asyik mencoret-coret buku catatannya dengan gambar hasil imajinasi visual dalam pikirannya.

Berapa banyak “calon orator” atau “atlit cemerlang” harus menerima hukuman dan dipermalukan di depan kelas oleh guru yang tidak memahami bahwa di kemudian hari ada terungkap bahwa ada seorang anak yang memiliki kecerdasan linguistik atau kinestetik sehingga ia sering membuat “gaduh” saat pembelajaran.  

Karena point “kritis” kecerdasan itu tidak terungkap dan terfasilitasi dengan baik, anak-anak  tidak percaya bahwa mereka cerdas, karena mereka hanya diberitahu bahwa  ‘masa depan’ mereka kelak hanya ditentukan oleh nilai hasil belajar mereka di raport. Mereka tidak diberikan kesempatan menjadi orang sukses meski nilai akademik mereka jauh di bawah rata-rata anak yang pandai mengerjakan soal matematika dan hafal redaksi jawaban yang sesuai harapan guru di atas kertas ulangan mereka.

Anak pra-remaja belajar untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain

Di bawah kerangka teori Gardner  tentang kecerdasan, guru dan orangtua, alih-alih memandang tentang IQ yang statis, “kenakalan” sebagai label pamungkas untuk melupakan point-point kritis masa perkembangan anak pra-remaja, guru dan orangtua hendaknya memahami perubahan psikologis dan proses perkembangan berpikir anak pra-remaja itu. 

Anak pra-remaja secara alami akan belajar memahami diri sendiri. Di “point kritis” ini peran guru dan orangtua bukan sebagai ‘instruktur’ otoriter. Sejatinya anak pra-remaja di tingkat SMP ini mencari sendiri bagian dari kekuatan akademik mereka dan juga kemempuan diri mereka di berbagai bidang. Mereka akan berpikir bahwa mereka perlu mengasah keterampilan mereka sesuai dengan passion mereka sendiri. Sebagai lawan dari doktrin menjadi pandai karena sukses meraih prestasi akademik. 

Pada masa ini guru dan orangtua seharusnya mulai mempertanyakan sikap, perilaku, dan nilai-nilai yang sebelumnya mereka terima secara membabi buta. Mereka akan mulai berpikir tentang cara mereka berpikir (metakognisi) dengan cara yang baru. 

Orang tua dapat mendukung anak dalam perubahan mendasar ini. Misalnya, mendukung anak pra-remaja dalam memperhatikan dan menyadari strategi apa yang dia gunakan untuk belajar, jenis pertanyaan apa yang dia ajukan (untuk dirinya sendiri atau gurunya), dan seberapa sukses dia merasa cara belajar ini berhasil untuknya. Karena para remaja sangat bervariasi dalam penggunaan strategi yang efektif, meminta anak Anda merenungkan proses belajar dan penalarannya akan memberdayakannya untuk membuat pilihan aktif dan memajukan keterampilan berpikirnya di semua bidang. Ajukan pertanyaan untuk mendorong mereka  menguraikan informasi, dan mencontohkan serta mendiskusikan strategi yang berhasil di seluruh konteks. Dalam situasi ini,  mereka mulai menyadari apa yang penting bagi mereka, keterampilan dan bakat apa yang mereka miliki, dan pembelajaran apa yang mereka yakini akan diterapkan dalam kehidupan masa depan mereka. Kesabaran dan pertanyaan hangat orang tua memungkinkan anak-anak seusia ini untuk memperjelas dan memperluas pemikiran mereka. 

Bagaimana sebaiknya pembelajaran di tingkat SMP?

Di tingkat SMP, guru sudah tidak perlu lagi menerapkan model pembelajaran ‘berpusat pada guru’.Sebagaimana diuraikan di atas tentang perubahan mendasar pola pikir anak pra-remaja, peserta didik di tingkat menengah ini difasilitasi dengan pembelejaran yang ‘berpusat pada murid’. Peran utama guru adalah untuk melatih dan memfasilitasi pembelajaran siswa dan pemahaman materi secara keseluruhan, dan untuk mengukur pembelajaran siswa melalui bentuk penilaian formal dan informal, seperti proyek kelompok, portofolio siswa, dan partisipasi kelas, dan mendorong siswa menemukan jati dirinya dan passion nya dalam belajar. Salah satunya adalah pengembangan minat dan bakat di luar jam kurikuler atau terintegrasi dengan jam kurikuler. 


Beberapa pemerhati pendidikan memandang, sistim kurikulum pendidikan nasional terlalu banyak bebannya, namun terorientasi kepada kemampuan kognitif saja. Sementara kemampuan siswa untuk pengembangan diri, keterampilan yang sesuai dengan kemampuan dan tuntutan zamannya amat minim difasilitasi di dalamnya. 


Dalam pembelajaran berpusat pada siswa, pendekatan utama yang perlu dibangun oleh guru adalah; pembelajaran berbasis inkuiri, pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran kooperatif.


Pembelajaran berbasis inkuiri adalah metode pengajaran yang menjadikan guru sebagai sosok pendukung yang memberikan bimbingan dan dukungan bagi siswa selama proses pembelajaran mereka, bukan sebagai figur otoritas tunggal.


Dalam pembelajaran berbasis proyek, setiap anak memiliki target dan tanggungjawab individu serta kelompok, untuk menyelesaikan penemuannya dalam pembelajaran, sehingga menghasilkan karya yang membuktikan kemampuan mereka di bidang atau bakat tertentu.


Kemudian pembelajaran kooperatif memberikan pengalaman simulasi yang berguna bagi mereka mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa, memiliki kesadaran, empati, kepedulian, dan berpikir mendalam untuk penyelesaian masalah dalam belajar.


Uraian pembahasan mengenai bagaimana prosedur pembelajaran berbasis inkuiri, berbasis proyek serta pembelajaran kooperatif akan dibahas di tulisan terpisah.

[BungRam-30032021]

Bagikan

BDAC14F4-1583-4415-BF0E-6179AA5BD3A5
Sticky Notes Guru Kelas – #9 Memanfaatkan game edukasi daring
DB34F471-CC56-4540-B438-BC275B540CCD
Sticky Notes Guru Kelas – #10 Mengatur Kelas Lebih Efektif Secara Daring
A6CCE137-0000-4970-B75E-62AC57D0DF6D
Membangun kultur positif di sekolah
8EABE3CA-978F-418C-BF70-F796F5DFB8A4
Anak aktif, bukan suatu masalah