Hubungi BungRam    

Era Industri 4.0 dan Perubahan pendidikan

Era Industri 4.0 dan perubahan pendidikan, masih ingatkah (pedulikah) kita?

4F386E20-806C-4AF1-9C52-61B4A7D61FFB

Pasca pandemi, apakah semua orang akan beralih kembali kepada pembelajaran konvensional, atau akan  mengupayakan model pembelajaran inovatif  yang  terintegrasi  dengan teknologi?


Perubahan yang dihasilkan karena dampak pandemi sudah sedemikian rupa. Tatanan pendidikan mengalami disrupsi yang mengharuskan setiap insan pendidikan mengolah dan mengelola proses belajar terintegrasi dengan dua hal utama; teknologi dan perhatian orangtua.

 

Problem umum pembelajaran secara daring ialah kurangnya optimalisasi belajar siswa dalam hal keterlibatan, interaksi aktif, dan kesenangan untuk memecahkan masalah secara mandiri,  karena mereka tergantung dengan kehadiran guru via komunikasi digital, dan kesulitan orangtua melakukan pendampingan untuk mengerjakan berbagai macam tugas sekolah.

 

Tahun 2021 mengundang berbagai macam pertanyaan tentang, apakah kita akan memulai pembelajaran secara tatap muka dengan menerapkan aturan dan protokol kesehatan secara ketat, ataukah kita harus tetap melaksanakan pembelajaran dari rumah, secara daring?

 

Karena tingkat penyebaran virus belum dapat terkontrol dan penambahan jumlah korban tetap terjadi dengan angka yang cukup signifikan, masyarakat masih khawatir sekolah adalah cluster  paling mematikan di tengah menurunnya tingkat disiplin masyarakt tentang menjaga jarak, menggunakan masker dan berperlilaku sehat.  Ditambah lagi dunia mewanti-wanti bahwa telah  muncul varian baru virus Corona yang tingkat infeksinya lebih berbahaya dari Covid-19.

 

Solusi untuk tetap menjalani proses pembelajaran secara daring menurut saya adalah yang paling manusiawi. Tentunya kini semua pihak harus serius memperhatikan berbagai macam hal yang terkait dalam mendukung proses belajar itu berlangsung lebih maksimal.

 

Bagi para guru dan orangtua, mindset tentang belajar juga harus benar-benar dievaluasi dan harus mau berpikir terbuka tentang disrupsi yang terjadi akibat pandemi ini. Kita akan merugikan anak-anak jika kita terus memaksakan mereka hidup dengan paradigma yang usang yang terlalu pekat menempel dalam pikiran kita. 


Disrupsi dalam dunia pendidikan


Dunia pendidikan sudah sejak lama (sebelum munculnya Covid-19) mengalami perubahan, penyesuaian, dan inovasi yang sedemikian rupa.  Namun kita baru gaduh dan riuh, bahkan tidak sedikit mengeluh, saat dampak COVID-19 benar-benar mengharuskan setiap orang dewasa (guru dan orangtua) mengubah cara belajar, dan memahami apa itu hakikat belajar. Ironinya, perubahan belajar dipahami sedemikian sempit melalui perubahan alat belajar.  

 

Sekolah harus sibuk dengan penambahan perangkat elektronik dan audio visual. Guru harus berlelah-lelah setengah mati, bahkan banyak yang frustasi untuk menguasai beberapa platform digital dan aplikasi visual. Sementara kesadaran tentang disrupsi akibat pandemi sangat  sedikit sekali dimengerti. “Memindahkan sekolah, papan tulis dan guru sekaligus ke rumah”  (lewat aplikasi zoom meeting) dipandang solusi agar anak-anak sekolah yang kelas tinggi, apalagi rendah mau belajar!”


Bahkan saya masih bertemu orang dengan titel master pendidikan, yang masih ada di “lembah” pemikiran bahwa ujian di masa pandemi harus tetap dilakukan berbasis tes tertulis secara elektronik. Orangtua harus membantu anak memfasilitasi utk mengerjakakan soal tes manual lewat gawai agar hasil tes bisa secara cepat diserahkan ke gurunya, karena kemudian gurunya akan menyibukkan dirinya mengkalkulasi nilai, lalu membuat raport ‘elektronik’ dan menyampaikan hasil belajar anak selama satu semester. “Betapa menyedihkan!” 

 

Kehidupan di masa pandemi, sudahlah semua aktifitas dibatasi, ancaman tertular virus mengintai setiap hari. Anak-anak pun mengalami hari-hari yang menjenuhkan, melelahkan, kadang membingungkan, karena guru bertindak layaknya penentu masa depan, sehingga pantas dan memiliki otoritas memaksa anak belajar dengan caranya yang sudah sedikit dimodifikasi, jadi nampak keren lewat aplikasi,  bukan hasil inovasi, bukan mengarahkan peserta didik ‘aware’ terhadap situasi, peduli terhadap bencana pandemi, mau belajar berkolaborasi, belajar menjadi mandiri dengan pengayaan keterampilan yang secara riil dibutuhkan. Karena  yang dipahami oleh guru bahwa belajar jarak jauh adalah mengajar jarak jauhlewat gawai elektronik ansich!

 

Sekolah di masa pandemi semacam waktunya “kemunduran setahun” karena ketidakpedulian dunia pendidikan atas perubahan, dan kebutuhan para peserta didik akan keterampilan yang dibutuhkan! Karena semuanya asyik tenggelam dalam euforia belajar menggunakan akses jaringan internet. no kuota no learning, no live streaming no teaching,  no life!

 

Belajarlah kepada Buya Hamka, yang bisa menghasilkan tafsir al Azhar dari bilik penjara! Cari tau bagaimana proses otak bekerja lewat kehebatan Pramoedya menghasilkan karya sastra  tetralogi di antara terik kerja paksa di pulau Buru!

 


Perkenalan dengan era industri 4.0 

 

Para akademisi atau pengambil kebijakan mungkin lupa atau bahkan belum mau fokus memikirkan, bahwa Tahun 2011 dunia mulai akan memasuki era Revolusi Industri 4.0, era modern yang diusung dan dikenalkan saat pameran industri Hannover Messe, Hannover JermanDimana 4 prinsip penting dalam industri 4.0.harusnya menjadi perhatian, dan mulai dipersiapkan lebih serius, daripada tergoda buaian politik dan kekuasaan yang sering merusak tatanan sosial jangka panjang.  4 prinsip industri 4.0 itu ialah:

  
    • • Interkoneksi
    • Prinsip pertama dalam revolusi industri 4.0 adalah interkoneksi atau hubungan antar manusia, alat, dan mesin dalam berkomunikasi satu sama lain dengan Internet of Things (IOT) atau Internet of People (IOP).

    • • Transparansi informas
    • Teknologi yang ada tentunya memungkinkan dan mempermudah seseorang dalam mengumpulkan berbagai jenis data penting dalam proses produksi untuk membantu mengambil keputusan. Prinsip interkoneksi juga membantu seseorang dalam mengidentifikasi area mana yang perlu mendapatkan sentuhan inovasi dalam proses produksi.

    • • Bantuan teknis 
    • Prinsip ketiga adalah bantuan teknis dengan informasi relevan dan penting untuk mengambil sebuah keputusan tepat dan memecahkan masalah dengan cepat. Selain itu, kehadiran cyber physical system akan membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaan berat dan berbahaya jika dilakukan secara manual.
 
    • • Pengambilan  keputusan
    • Cyber physical system akan memutuskan sendiri secara otomatis dalam melakukan tugas sesuai dengan fungsi yang benar tanpa membutuhkan campur tangan dari pihak eksternal.
 

Dengan dicanangkannya era industri 4.0 tersebut, pendidikan tidak boleh tidak, harus ambil bagian dalam perubahan dan semangat berubah yang sama dengan berubahnya dunia industri dan ekonomi global. 


Pada Januari 2016 World Economic Forum merilis laporan  tentang ‘masa depan berbagai pekerjaan’, bahwa lebih dari sepertiga rangkaian keterampilan inti yang diinginkan dari sebagian besar pekerjaan akan terdiri dari keterampilan yang belum dianggap penting untuk pekerjaan saat ini."

Beberapa soft skill yang mereka klaim akan segera menjadi sangat diperlukan;


  1. • Keterampilan pemecahan masalah yang kompleks, 
  2. • keterampilan sosial, 
  3. • dan keterampilan proses. 


Kemudian teknologi juga  memungkinkan kita untuk menjadi terhubung secara tepat dan  konstan, dan sebagai hasilnya ,  peran (manusia dalam) pekerjaan  terus menjadi lebih fleksibel dan terus  beradaptasi .  

Pendidikan era industri  4.0 adalah tentang bagaimana kecerdasan alami berkolaborasi dengan kecerdasan buatan (AI) secara tepat dan simultan. Oleh karenanya pendidikan harus mempersiapkan kerangka proses pembelajaran yang menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan di abad 21 ini;  berpikir kritis, kreatifitas, kolaborasi, dan komunikasi.


[BungRam- 05012021]

 

Bagikan

Artikel Lainnya

{"origin":"gallery","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1609722106056","source":"other"}

Pendidikan; Investasi Berharga Untuk Kemajuan Bangsa

FF24A3F2-9081-427E-BBC7-3104F8D0D23C

Masih Perlukah Guru Memberikan PR? Sebuah Pendekatan Baru Tentang Konsep Pekerjaan Rumah