Hubungi BungRam    

Masih Perlukah Guru Memberi PR?

Masih Perlukah Guru Memberikan PR? Sebuah Pendekatan Baru Tentang Konsep Pekerjaan Rumah


“what a beautiful world of learning can be built on happiness.”

  

Selama masa pandemi, sekolah mengalami permasalahan yang membuat guru menjadi berpikir tentang pekerjaan rumah yang intens dan dapat dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai metode. 

 

Belajar jarak jauh adalah pilihan paling populer dan perangkat digital adalah pelengkap paling pokok yang mengupayakan keterwakilan guru dalam menyampaikan pelajaran. Dengan terjadinya pandemi Covid-19, itu memberi dampak yang besar terhadap berbagai perubahan, bahkan cara orang memandang tentang pendidikan, sistim pendidikan dan kebijakan mengenai pendidikan.  


FF24A3F2-9081-427E-BBC7-3104F8D0D23C

Pekerjaan rumah telah lama menjadi subjek perdebatan sengit, dan tidak ada jawaban yang mudah sehubungan dengan nilai penting atau tidaknya. Guru memberikan pekerjaan rumah untuk beberapa alasan (klasik); membuat siswa melatih keterampilan mereka dan memperkuat pembelajaran,  menawarkan kesempatan untuk penilaian formatif, dan  menciptakan kebiasaan dan disiplin belajar yang baik. Dan juga pendapat bahwa pekerjaan rumah membantu bagi anak yang lambat saat belajar di sekolah. Benarkah demikian?

Saya berpikiran tentang efek pandemi yang akan memunculkan cara pandang baru tentang pekerjaan rumah. Selama setahun Covid-19 menyerang seluruh dunia, dan menorehkan petaka yang tiada tara. Pola belajar bergeser dengan pola pekerjaan rumah. Meski media komunikasi digital seakan menjadi jembatan setiap anak terhubung dengan guru, yang menjadikannya ‘real time learning’, namun kontruksi kegiatan sejatinya adalah melakukan “pekerjaan rumah” dengan saluran digital.

Pekerjaan rumah dirancang oleh guru untuk beberapa alasan:

 

1.     Pekerjaan rumah memungkinkan siswa dan guru untuk bekerja lebih erat. Mereka dapat mendiskusikan tugas mereka atau masalah apa pun yang mereka hadapi pada bagian dari buku teks mereka, sebelum atau setelah belajar di sekolah. 

2.     Pekerjaan rumah dianggap dapat mendekatkan keluarga karena siswa dapat meminta bantuan orang tua atau saudara mereka dalam pekerjaan rumah mereka. Hal ini tidak hanya akan membantu siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pekerjaan mereka dengan bagian apa pun yang mereka hadapi, tetapi juga akan memungkinkan orang tua untuk lebih terlibat dalam kehidupan pendidikan anak mereka.

3.     Pekerjaan rumah akan mempersiapkan siswa untuk ujian akhir yang besar. Jika seorang anak mengerjakan tugas dengan buruk maka mereka akan belajar apa yang perlu dilakukan dengan baik pada tes berikutnya tanpa dihukum. Ini juga memberi siswa kesempatan untuk mempraktikkan apa yang diperlukan untuk sukses di sekolah. Seperti yang sering dikatakan, “latihan membuat menjadi sempurna.”

4.     Melakukan pekerjaan rumah juga merupakan cara yang bagus untuk mengembangkan tanggung jawab. Dengan diberi pekerjaan pada suatu hari dan mengetahui bahwa itu harus diselesaikan pada hari berikutnya, mereka akan mengembangkan rasa ketepatan waktu dengan menyerahkan pekerjaan mereka tepat waktu. 

5.     Memungkinkan orangtua untuk melihat bagaimana anak-anak mereka dididik dan mereka dapat mengembangkan gagasan yang lebih baik tentang bagaimana mereka dapat membantu anak mereka. 

 

 

Namun, sebagian orang tua, siswa, dan bahkan beberapa guru merasa bahwa setelah 7-8 jam pelajaran di sekolah, tidak adil mengharapkan siswa pulang ke rumah dan kemudian belajar lagi  dengan cara yang sama di sekolah. 

 

Setelah pandemi, menurut saya, seharusnya setiap guru, orangtua juga  telah memiliki sebuah gambaran yang nyata tentang apakah anak-anak memerlukan pekerjaan rumah sebagaimana saat sebelum terjadinya pandemi? Karena pandemi membuka mata, bahwa belajar di rumah, dengan pola kegiatan yang terstruktur bersama guru lewat gadget menjadikan suasana rumah bukan tempat yang nyaman untuk anak, setelah mengikuti aktifitas yang cukup lama di sekolah.

 

Anak-anak bukan robot. Persepsi orangtua dan guru mengenai  belajar harus mengalami rekontruksi yang fundamental. Berapa juta anak yang setelah pandemi mengalami peningkatan keterampilan hidup?  Berapa juta anak setelah pandemi justru mengalami tingkat   demotivasi belajar yang cukup berat? Bukan karena pandemi mengurung mereka dari kebebasan, namun karena pendidikan yang kita laksanakan merampas jati diri anak-anak.

  

PENDEKATAN YANG BERBEDA

 

Mari kita berpikir tentang sebuah pendekatan yang baru tentang belajar di rumah, atau tentang pekerjaan rumah.  Apakah selama ini kurikulum yang disusun, silabus yang kita buat, benar-benar membuat mereka belajar? Apakah kelas jarak jauh selama masa pandemi telah  memberi dampak yang positif bagi anak selain stress bagi orangtua? 

 

Mengapa banyak kalangan pengamat dan ahli pendidikan tidak setuju tentang pekerjaan rumah (setelah belajar di sekolah)? 

1.   Karena anak-anak membutuhkan waktu untuk bersantai dan mengalihkan pikiran dari pekerjaan. Tekanan karena harus menyelesaikan pekerjaan rumah setiap malam cukup menakutkan bagi kebanyakan anak dan mereka membutuhkan waktu untuk menyegarkan pikiran dan tubuh mereka. 

2.   Karena tambahan kegiatan kurikuler atau aktifitas belajar akan mengurangi jumlah waktu yang bisa dihabiskan anak-anak dengan keluarga mereka. Waktu keluarga sangat penting bagi anak yang sedang tumbuh dan tanpanya masalah sosial dapat muncul dan unit keluarga dapat dikompromikan dengan kurangnya waktu untuk dihabiskan bersama. 

3.   Karena pekerjaan rumah dapat menimbulkan konflik antara anak dan orang tua ketika orang tua ingin anak mengerjakan pekerjaan rumah tetapi anak mendapat kendala karena faktor tugas yang harus dilakukan cukup memberatkannya. Berapa banyak guru yang kurang memahami kondisi anak di rumah tidak seperti yang mereka lihat saat anak berada di sekolah?  

4.   Karena banyak pekerjaan rumah dapat mendorong terjadinya sikap tidak bertanggungjawab dan kejujuran pada diri anak. Mereka sudah lelah, namun punya beban tambahan, maka demi menghindari hukuman keesokan harinya, mereka melakukan berbagai cara untuk memenuhi tugas yang ia terima dengan tekanan. 

5.   Kemudian, seringkali tujuan penugasan pekerjaan rumah bukan mengajak anak melakukan integrasi pengalaman belajar di sekolah terhadap kehidupan di luar sekolah, melainkan demi memenuhi target pencapaian isi dari buku pelajaran. Sebagian demi mengejar nilai akhir yang maksimal, meski dengan pikiran tertekan, dan hati yang tidak bahagia. 

6.   Dan terakhir, banyak guru yang tidak memiliki waktu untuk menilai hasil pekerjaan rumah dengan baik karena mereka terlalu sibuk merancang pembelajaran, atau mencari ide kegiatan, lalu mengkonsultasikan sumber pengajaran hanya untuk mengelola kegiatan mereka semata. Atau sebaliknya, guru terlalu sibuk mengoreksi pekerjaan siswa, lalu kurang menyiapkan perencanaan pembelajaran dan mengevaluasi proses pembelajaran, karena dikejar target pencapaian seluruh kompetensi belajar. 

Selama pandemi Covid-19 ini, psikososial masyarakat mengalami perubahan, kecil ataupun besar. Begitu juga dengan anak-anak yang selama masa pembatasan sosial mengalami perubahan psikososial, dipaksa beradaptasi dengan pola belajar jarak jauh, atau lebih tepatnya, sebagian besar melakukan tutorial jarak jauh

 

Tugas demi tugas dari guru mewakili keberadaan guru itu sendiri selama paruh waktu dan hari-hari di mana sebelumnya mereka dapat menikmati suasana kehidupan di tengah sesama teman dalam berbagai aktifitas di sekolah yang menyenangkan.

 

Di rumah mereka mengalami kesulitan yang sebelumnya belum pernah sama sekali terjadi. Bukan saja mereka harus beradaptasi dengan cepat tentang tata cara menggunakan platform aplikasi belajar berbasis digital, mendengarkan gurunya berbicara secara audio visual dari layar monitor atau telepon selular, mereka juga mengalami ketegangan harus menyesuaikan dengan pola kerja orangtuanya, dan interaksi bersama orangtuanya dalam menuntaskan tugas sekolahnya.

 

Para orangtua mengalami kesulitan karena harus membagi waktu yang ketat dengan pola perubahan interaksi mereka dengan pihak sekolah. Bagi mereka yang sebelumnya tidak bekerja, maka kesulitan yang utama adalah memposisikan diri mendampingi anak belajar dan menjadi “asisten” guru dalam mengarahkan setiap tugas belajar di sekolah, yang menjelma jadi sebuah pekerjaan rumah.

 

Dalam masa transisi  dan adaptasi kebiasaan baru, pekerjaan rumah bisa dilakukan oleh murid dengan pendekatan berbeda. Itu dimulai dengan mendesain ulang muatan kurikulum sebagaimana landscape ekonomi dan sosial mengalami perubahan secara ekstrem akibat pandemi, kurikulum tidaklah tabu untuk menyesuaikan struktur dan muatannya selama  dan setelah pandemi.

 

Kita bisa memulai dengan pertanyaan; Apa yang paling penting? Apa yang paling bisa dipindahtangankan? Apa yang paling relevan? Memfokuskan kembali pada hal yang paling penting bisa membuat kita memikirkan kembali tentang sebuah pekerjaan rumah. Maksudnya  aktifitas belajar mulai kita pahami bukan aktifitas terbatas yang dilakukan secara instruksional saja. Komponen belajar bukan sekedar murid, guru, buku, dan alat tulis. 

 

Apa yang paling penting/esensial dari muatan kurikulum yang ada? Bagaimana kita memahami dan memberi pemahaman kepada anak tentang materi ajar yang selanjutnya kita susun berdasarkan relevansinya dengan kehidupan sosial dan psikologi anak? Dari sini kita akan melangkah kepada strategi pembelajaran yang akan diambil, pendalaman terhadap materi di sekolah, serta tugas murid di rumah untuk melanjutkan tujuan pembelajaran secara kongkret tanpa dibatasi dengan tenggat waktu yang sempit seperti layaknya pekerjaan rumah yang konvensional – antara jam 19.30 sampai dengan jam 21.00 (waktu rata-rata anak belajar di rumah). Apalah lagi bagi mereka yang memiliki orangtua ambisius, yang memaksakan anaknya mendapatkan les tambahan sepulang atau saat libur sekolah.

 

Pembagian muatan kurikulum yang fleksibel membantu pelaksanaan pekerjaan rumah jadi lebih atraktif, memberikan pengalaman baru tanpa menyita waktu dengan duduk di meja kembali membuka lembaran-lembaran buku dan mengisi soal-soal yang menjenuhkan.

 

Bukankah untuk memahami satu bab pelajaran tentang mengenal dan menyebutkan sifat-sifat dan wujud benda tidak harus menghabiskan waktu lama di sekolah dan mengulangnya lagi di rumah dalam bentuk pekerjaan rumah mengisi soal? Anak dijelaskan di sekolah tentang tujuan pembelajarn, guru mengarahkan target dari konsep perubahan wujud benda agar dipahami secara kongkret berdasarkan apa yang anak-anak temui di rumah. Mereka diminta mencoba melakukan untuk mengetahui dengan jelas apa itu perubahan wujud benda sesuai apa yang mereka alami dan faktanya yang mudah didapati di rumah.

 

Pekerjaan di rumah adalah waktu “bermain” yang menyenangkan bagi anak, dan semua aktifitas “bermain” tersebut memiliki bobot nilai yang setara dengan ujian berbasis kertas atau elektronik. 

 

Bagi kelas rendah di sekolah dasar, tugas guru sejatinya membukakan “jalan” baru cara anak memahami kehidupan. Menampilkan pengalaman baru cara mereka bersosialisasi. Bukan menekan mereka dengan kompetisi yang standarnya adalah kemampuan kognisi.

 

Beberapa pendekatan baru dalam merancang pekerjaan rumah:

 

Tugas murid adalah memahami setiap konsep pelajaran, dan menjadikan hasil pemahamannya yang benar sebagai pengalaman untuk mengisi kehidupannya mencapai kesempurnaan. Melalui pendalaman konsep, guru bisa menugaskan murid dengan aktifitas di rumah atau di luar rumah secara fleksibel. Target utama adalah pemahaman konsep, bukan seberapa banyak istilah atau teori lama mereka hafal dan kuasai. 

Konsep pekerjaan rumah selama ini berpusat pada buku. Alih-alih guru membantu murid menuntaskan materinya dalam beberapa pertemuan dan dalam pengertiannya tentang masalah perbedaan kemampuan anak serta tipe belajar anak, namun guru menjadikan soal tes tertulis adalah garis finish yang wajib diselesaikan anak setelah menuntaskan satu bab pelamaran. Oleh karenanya itu wajib dibayar oleh anak dengan menukarkan waktu istirahat dan bermain mereka di rumah. 

Guru bisa mengganti obyek pekerjaan rumah, dari buku teks kepada pengalaman anak selama berada di rumah atau di lingkungan rumah. Ajak anak-anak menemukan korelasi yang baik tentang sebuah pengetahuan dengan proses menemukan dan pembuktian. Hal itu akan memberikan sebuah dasar pemikiran tentang proses belajar secara bermakna bagi kehidupan mereka, bukan untuk menyelesaikan misi menuju lulus ujian.

Apa yang disebut tuntas dalam belajar seringkali dipahami lewat menuntaskan silabus pelajaran. Sehingga standar ketuntasan itu jadi monopoli mutlak guru dan sekolah, kadang guru lupa bahwa belajar bukanlah lomba lari. Belajar adalah tindakan pendampingan dan proses anak menemukan pengetahuan baru yang relevan. Belajar bukan ajang mengumpulkan prestasi murid kemudian diklaim sebagai prestasi sekolah. Atau sebaliknya belajar bukan seleksi anak berdasarkan keinginan guru dan sekolah, untuk menjadikan lembaga sekolah menempati posisi terbaik karena memiliki lulusan yang briliant, ditunjukkan dengan kelanjutan  pendidikan di lembaga  yang juga terbaik. Oleh karenanya pekerjaan rumah di point ini adalah menghadirkan peluang bagi anak menuntaskan sebuah pemahaman secara mendalam dalam koridor yang disesuaikan. Maksudnya, bahwa guru bukanlah pembuat roti isi, cetakannya dan rasa roti dengan jumlah satu atau seratus harus sama, kemudian dikemas dan dijual dengan harga yang sama. Setiap anak memiliki perbedaan, dan begitupun cara menuntaskan pelajaran pasti berbeda. Jangan minta anak dengan kecerdasan visual yang suka menggambar untuk menuntaskan konsep bilangan dan pecahan persis seperti anak  lainnya. Dan atau seperti kemampuan gurunya.

Pekerjaan rumah bukan satu-satunya aktifitas mengumpulkan point nilai dari mengerjakan soal. Apalagi sebagai bukti bahwa anak belajar di rumah. Pekerjaan rumah perlu dipandang sebagai hubungan berkelanjutan tentang bagaimana anak menyerap pengetahuan. Belajar di sekolah bukan tujuan mencetak sebuah profesi, ia adalah miliu yang melengkapi peran orangtua dalam mendidik anak menjadi diri sendiri. Menyerap setiap sisi kehidupan yang beragam, mengolah setiap kemampuan untuk  menjadikan dirinya sadar tentang kehidupan. Oleh karena itu pekerjaan rumah bukan sebuah beban tambahan. Pekerjaan rumah dirancang sebagai sebuah medium baru meneruskan apa yang perlu dipahami, bukan apa yang seharusnya dicapai. 

[BungRam – 211220]

Bagikan

Artikel Lainnya

Hukuman, Pintu Bullying Dari Guru di Sekolah

Menjadi Manajer di Kelas -Sticky Notes#6

Membangun Integritas dalam Kepengasuhan di Rumah