Hubungi BungRam    

Pendidika: Investasi berharga

Pendidikan: Investasi Berharga Untuk Kemajuan Bangsa

"No. other investment yields as great a return as the investment in education. An educated workforce is the foundation of every community and the future of every economy .” (Brad Henry)

  

Pada tahun 1944, seorang anak remaja berusia 14 tahun dengan usaha mandirinya  menjual permen karet, Coca Cola, dan majalah mingguan dari pintu ke pintu. Dia juga bekerja di toko kelontong milik kakeknya. Saat masih di SMA, dia mendapatkan uang dengan mengantar koran, menjual bola golf dan perangko, menyemir mobil, dan lain-lain. 

 

Pada 1945, saat kelas 2 SMA ia dan kawannya membeli mesin pinball bekas seharga 25 $ US , kemudian menaruhnya di salon. Dalam beberapa bulan mereka berhasil berkembang memiliki beberapa mesin pinball pada 3 salon di Omaha, Nebraska Amerika Serikat.  Bisnis itu kemudian dijualnya kepada veteran perang senilai 1.200 US


Sejak usia remaja itu, ketertarikannya untuk menabung, menggunakan hasil tabungannya untuk  melakukan bisnis dan menggunakan hasil bisnisnya untuk dijadikan bisnis yang lebih besar berikutnya menjadikannya orang yang mendalami apa yang disebut ‘investasi’. Dibawah bimbingan  Benjamin Graham, ia belajar tentang ‘value investment’.

{"origin":"gallery","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1609722106056","source":"other"}

  

Pada tahun 2012 majalah Times menobatkannya sebagai salah seorang berpengaruh di dunia, kemudian di 2015 majalah Forbes menempatkan dia di urutan ketiga orang terkaya di dunia. Dialah Warret Buffet, SEO Berkshire Hathawayperusahaan konglomerasi (holding company) yang bermarkas di Omaha, Nebraska Amerika Serikat yang memiliki banyak perusahaan subsidiari. 

 

 "Wizard of Omaha" (Penyihir dari Omaha) atau "Oracle of Omaha" (Peramal dari Omaha) orang menjulukinya. Meskipun dikenal karena kesetiaannya pada metode investasi nilai dan kekayaan yang luar biasa, Buffet  juga adalah seorang philanthropist yang sangat berdedikasi, yang bersumpah akan menyumbangkan 99 % kekayaannya untuk keperluan2 philanthropic di bawah yayasan ‘Gates Foundation’.

     

Apa itu investasi?

 

Secara sederhana investasi dapat diartikan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan harta, selain itu investasi juga merupakan suatu komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat sekarang dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang. Investasi diawali dengan mengorbankan kegiatan konsumsi saat ini untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa yang akan datang.

 

Menurut kamus istilah Keuangan dan Perbankan Syariah, Bank Indonesia, 2006, investasi dalam bahasa arab disebut dengan ‘istitsmar’ yang bermakna "menjadikan berbuah, berkembang dan bertambah jumlahnya.”

 

Tulisan ini tidak akan membahas hal ihwal dan teori investasi dalam praktik perbankan. Saya akan mengutarakan pemikiran tentang konsep investasi dalam kehidupan, dan tentang masa depan pendidikan.

 

Dalam keluarga, memberi pendidikan yang baik untuk anak merupakan investasi jangka panjang tak hanya buat orang tua, tetapi juga buat masa depan anak. Sebab kebiasaan, karakter, dan pencapaian seseorang berasal dari kebiasaan yang dipelajarinya saat kecil.

Menurut beberapa riset tentang kondisi pendidikan di dunia, lebih dari 120 juta anak putus sekolah. Dan lebih buruk lagi, kita menghadapi krisis pembelajaran. Diperkirakan 130 juta anak tidak bisa membaca atau berhitung meski sudah mencapai Kelas 4.

Selain itu, anak-anak yang paling dirugikan dari pendidikan adalah mereka yang paling ditolak  bukan karena kesalahan mereka sendiri. Mungkin keluarga mereka miskin. Mungkin mereka hidup dengan disabilitas dan tidak dapat mengakses sekolah. Mungkin mereka tinggal di daerah terpencil atau termasuk dalam komunitas nomaden.

Lebih dari separuh anak-anak yang tidak bersekolah tinggal di negara-negara yang terkena dampak konflik. Ini sangat menyedihkan.  Pendidikanlah yang dapat memberi mereka keamanan dan kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang akan membantu mereka menyembuhkan luka dan membangun kembali masyarakat mereka.

Dan tantangannya akan terus berkembang. Pada tahun 2030, diperkirakan lebih dari 600 juta anak terancam tidak  terdaftar di sekolah untuk mencapai pendidikan dasar.

Dikutip dari   publikasi UNICEF tentang kasus investasi pendidikan dan kesetaraan, bahwa negara-negara berpenghasilan rendah, sekitar setengah dari semua sumber daya pendidikan publik dialokasikan untuk 10% siswa yang paling berpendidikan. Sumber daya untuk kuintil terkaya anak-anak hingga 18 kali lebih besar dibandingkan dengan kuintil termiskin.

Itu salah. Kita tidak bisa, kita tidak boleh, mengabaikan ketidakadilan ini. Pengetahuan ini harus menjadi pendorong untuk mengubah cara kita mendanai pendidikan global.

Kasus Investasi untuk Pendidikan dan Ekuitas menyerukan tindakan segera. Laporan tersebut menyarankan :

  • mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pendidikan di kelas-kelas awal;
  • menargetkan sumber daya ke daerah termiskin dan anak-anak yang paling terpinggirkan;
  • menetapkan kebijakan dan metode yang meningkatkan efisiensi pengeluaran; dan
  • memperkuat sistem penilaian pembelajaran dan menerapkan langkah-langkah akuntabilitas yang melibatkan orang tua dan masyarakat.

Bagaimana investasi pendidikan di Indonesia? 

 

Pendidikan seharusnya menjadi perhatian yang paling utama sebelum ekonomi dan politik. Seperti model praktik investasi yang dilakukan oleh Wrrent Buffet menuju puncak kekayaannya, kita akan lebih memiliki aset bangsa lebih baik dan banyak dalam bentuk ‘human capital’ yang baik dengan secara seriu menginvestaiskan apa yang dimiliki bangsa ini untuk memajukan pendidikan di Indonesia. 

 

Cerita tentang bagaimana Kaisar Jepang menanyakan seberapa banyak jumlah pendidik yang masih hidup setelah Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantahkan oleh bom atom, sering dikutip untuk menunjukkan bagaimana kini negara itu berlipat-lipat memiliki kemajuan dalam berbagai teknologi pasca ditundukkan oleh tentara sekutu. Dibanding negara Indonesia yang  di saat waktu yang sama,  baru meraih kemerdekaannya. 

 

Pada APBN 2020, kemenkeu menjelaskan sepuluh kementerian dengan alokasi dana APBN Yang cukup signifikan. Namun kementerian pendidikan ada diurutan kesepuluh. Di musim pandemi yang berdampak buruk terhadap sosial kemensos ada di urutan kelima, dan  kemenkes ada di urutan keenam. Lucunya di masa krisis ekonomi dan kesehatan, yang paling tertinggi alokasi dana APBNnya adalah kementerian pertahanan, kedua KPUPR dan di urutan ketiga kepolisian Republik Indonesia.

 

Kabar baiknya, pada tahun 2021 ini, RKA-KL (Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga) kementerian pendidikan naik di urutan keenam, tertinggi kini untuk kementrian PUPR, kedua kementerian pertahanan, dan posisi ketiga masih tetap kepolisian RI. Pendidikan masih bukan yang prioritas! 

 

Investasi masa depan bangsa ini masih belum berpihak kepada pendidikan. Kita justru seperti bangsa yang dibayangi ketakutan, sehingga harus segitu fokusnya memperhatikan anggaran belanja pertahanan. Bisa jadi memang negara dalam posisi “bahaya”. Namun, lebih bahaya lagi adalah ketika kita semakin sulit melakukan investasi terpenting untuk masa depan manusia, yaitu pendidikan dan kesehatan.

 

Investasi pendidikan untuk kemajuan peradaban

 

Agar siswa menjadi inovator di abad kedua puluh satu, mereka membutuhkan pendidikan yang berbeda, bukan hanya pendidikan yang lebih banyak”, kata Tony Wagner, Peneliti Senior di  Institut Kebijakan Pembelajaran , Universitas Harvard.  Sebagai masyarakat, kita perlu mengubah persepsi kita tentang kata “pendidikan” pada tingkat yang paling mendasar. Pendidikan tidak boleh menjadi sesuatu yang kita lakukan di lembaga tertentu untuk jangka waktu tertentu untuk sertifikasi. Sebaliknya, ini harus menjadi perjalanan eksplorasi seumur hidup, penemuan diri, dan transendensi yang didorong oleh penghargaan intrinsik.

 

Salah satu prinsip dasar dari kurikulum yang berorientasi kemajuan peradaban di masa depan harus mempersiapkan cara berpikir yang lebih modern untuk menghadapi berbagai tantangan secara global. Di situlah investasi dalam sistim pendidikan menjadi mahal dan amat berharga. Apa yang sering disebut  sebagaitantangan global -  yang menyoroti beberapa masalah paling mendesak yang dihadapi spesies kita saat ini, kita melihat semakin banyak bukti yang menunjukkan  pendidikan yang berfokus pada tantangan global mengantarkan kepada langkah maju utnuk menghadirkan generasi yang siap mengisi dan menggantikan kepemimpinan di abad 21 ini. Oleh karenanya investasi pendidikan yang baik sejak sekarang adalah menyiapkan peradaban yang baik dan maju untuk masa depan. 

 

Investasi untuk masa depan peradaban tidak sekedar   hanya dengan menginovasi teknologi dan alat pendidikan. Lebih banyak tablet atau papan tulis digital tidak selalu berarti pembelajaran  menjadi lebih efektifdan canggih Lagipula, tidak ada gunanya mendigitalkan kurikulum yang berfokus pada konten usang dan gagal menumbuhkan keterampilan dan kemampuan kritis yang dibutuhkan kaum muda kita. Kita membutuhkan  lebih banyak inovasi dan hasil - tidak hanya dengan alat pendidikan, tetapi juga konten, strategi, dan kebijakan pendidikan serta perhatian semua pihak atas pendidikan. Itulah investasi yang paling bersrti untuk masa depan generasi melalui pendidikan.

  

[BungRam – 04012021]

Bagikan

Artikel Lainnya