Mendefinisikan Ulang Peran dan Tanggungjawab Guru Profesional

Mendefinisikan Ulang Peran dan Tanggungjawab Guru Profesional

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa seorang guru adalah pendidik profesional yang tugas utamanya adalah mendidik, membimbing, mengajar, menilai, melatih, dan mengevaluasi peserta didik mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Guru merupakan learning agent (agen pembelajaran), yaitu guru berperan sebagai fasilitator, pemacu, motivator, pemberi inspirasi, dan perekayasa pembelajaran bagi peserta didik. 

Saat ini, transformasi dalam berbagai bidang, tak lepas juga dalam dunia pendidikan terjadi secara pesat dan kadang dramatis. Revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong transformasi tersebut. Konsekwensinya, sekolah-sekolah di seluruh negeri perlahan tapi pasti melakukan restrukturisasi. Tidak ketinggalan juga kita di Indonesia ini perlu menyikapi dan peduli atas semua itu.

Coba bayangkan, sekolah sebagai sebuah tempat anak-anak berkumpul mendapat pengajaran oleh gurunya di ruangan dengan kursi dan bangku kayu 50 tahun yang silam!  Dan Anda tengok sebagian besar sekolah-sekolah di sekitar Anda saat ini, Ada perbedaan apa saja yang terlihat? Mungkin Anda akan menjawab, bangunannya berbeda, ruang kelasnya berbeda, dinding kelasnya berbeda, kelengkapan kelasnya berbeda. Tapi coba perhatikan proses yang berjalan di dalam ruang kelas tersebut, cara guru mengajar, cara murid belajar, tidak jauh berbeda! Maka peran guru sangat menentukan terjadinya perubahan dan transformasi pendidikan.  

Kita masih banyak menemukan bahwa pola pembelajaran yang berlangsung di zaman ini tidak jauh berbeda dengan pola belajar sekian puluh tahun lalu. Ini bisa mengundang banyak persepsi bahkan diskusi yang cukup tajam terkait kesamaan pola dan bagaimana perubahan  perlu diadaptasi. Peran guru sejak zaman dulu bisa jadi mengalami beberapa pergeseran atau perubahan. Namun faktanya peran guru dalam aktifitas belajar masih sebatas penyampai informasi, pelaku program belajar dalam struktur kurikulum dan pengolah adminisitrasi belajar dan penilaian, tak jauh berbeda dari yang para guru lakukan jauh sebelum ini.

Bagaimana seharusnya guru yang profesional menjalankan perannya?

Merujuk kepada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 pasal 8, kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang akan didapatkan jika mengikuti pendidikan profesi.

Guru-guru yang telah menjalani Pendidikan Profesi Guru berhak mendapatkan sertifikasi profesi guru. Artinya mereka telah menjadi guru yang secara ketentuan administratif serta peningkatan kualifikasi, menyandang identitas “GURU PROFESIONAL”. Mereka diharapkan meningkatkan mutu serta kompetensinya  sesuai dengan bidang dan mata pelajarannya. Mereka disebut telah dididik dan dilatih untuk menguasai 4 kompetensi guru sebagai berikut:

Kompetensi Kepribadian, kemampuan personal yang dapat mencerminkan kepribadian seseorang yang dewasa, arif dan berwibawa, mantap, stabil, berakhlak mulia, serta dapat menjadi teladan yang baik bagi peserta didik.

Kompetensi Pedagogik, kemampuan seorang guru dalam memahami peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, pengembangan peserta didik, dan evaluasi hasil belajar peserta didik untuk mengaktualisasi potensi yang mereka miliki.

Kompetensi Sosial, kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru untuk berkomunikasi dan bergaul dengan tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua peserta didik, dan masyarakat di sekitar sekolah.

Kompetensi Profesional, penguasaan terhadap materi pembelajaran dengan lebih luas dan mendalam. Mencakup penguasaan terhadap materi kurikulum mata pelajaran dan substansi ilmu yang menaungi materi pembelajaran dan menguasai struktur serta metodologi keilmuannya.

Keempat kompetensi tersebut cerminan guru yang profesional menurut Undang-Undang, dan mereka patut dihargai dan diapresiasi. Salah satunya pemerintah memberikan tunjangan profesi guru, melalui program sertifikasi guru – The certified teacher.   

Guru yang bersertifikasi diharapkan menjadi tenaga profesional yang diharapkan mampu memberikan pelayanan pendidikan berkualitas, siapapun mereka, baik tenaga pendidik berstatus Aparatur Sipil Negara, maupun tenaga pengajar swasta. Mereka berhak mendapatkan tunjangan berupa uang dari kas negara. Artinya mereka mewakili negara menjalankan kewajiban yang dituangkan dalam UUD 45, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dengan demikian, konsekwensilogis peran dan tanggungjawab guru bersertifikat adalah menjalankan profesinya secara baik, berintegritas, dan bertanggungjawab. Kesemua itu adalah bagian dari peran dan tanggungjawab guru bersertifikat terhadap dunia pendidikan, terhadap generasi bangsa. Dan tentunya tanggungjawab publik terhadap masyarakat yang “memberi” mereka “tunjangan” dari APBN melalui pajak.

 

Perubahan paradigma peran guru bersertifikat profesi

Di era global dan transformasi pengetahuan yang terintegrasi dengan media digital, peran seorang guru dalam komunitas pendidikan berada di sisi yang sangat menentukan patron dan pola pikir setiap anak-anak yang mereka didik. Selain permasalahan yang dihadapi di lingkungan rumah, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus memfasilitasi setiap interaksi antara guru dan siswa kepada praktik yang bukan lagi bersikap instruksional secara hirarkis, praktik mengajar yang meminta semua siswa bergantung kepada guru sebagai pusat pembelajaran, kemudian buku pegangan sebagai media pokok referensi pembelajaran.

Guru kini memiliki banyak peran dalam konstruksi baru kegiatan belajar dan institusi pendidikan. Instruksi tidak lagi  terdiri dari ceramah kepada siswa yang duduk berbaris di depan meja, dengan patuh mendengarkan dan merekam apa yang mereka dengar, tetapi, sebaliknya, menawarkan pengalaman belajar yang kaya, bermanfaat dan unik, kepada setiap anak. Lingkungan pendidikan tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi sebaliknya, meluas ke rumah dan masyarakat dan di seluruh dunia. Informasi tidak terikat terutama dalam buku; itu tersedia di mana-mana dalam berbagai bentuk dan sarana.

Sertifikasi guru kini tidak dipandang sebagai satu-satunya prestige dalam transformasi peran pendidik di dalam menata kemajuan generasi. Sertifikasi guru justru kini menemukan tantangan baru dan keniscayaan untuk memberikan kontribusinya secara kontekstual, relevan dan berbasis kompetensi. Portofolio guru profesional sekarang ini bukan lagi selembar surat sertifikasi guru. Bukan pula sekedar kumpulan administrasi mengajar yang divalidasi oleh pengawas sekolah secara berkala untuk monitoring kinerja di satuan pendidikan tempatnya bertugas. Tetapi kemampuannya menjadi kolaborator perubahan yang memfasilitasi para siswa berbagai akses multi dimensi. Perannya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, dan kemampuan mengembangkan kompetensi sebagaimana disebutkan dalam Undang Undang tentang profesi guru terus ditingkatkan.

Saat ini peran guru dipertaruhkan sebagai katalisator perubahan. Dimana pendidik membantu para peserta didik dalam melakukan perubahan pada diri mereka dan menemukan kekuatan, talenta dan kelebihan mereka. Di mana guru bergerak sebagai pembimbing yang membantu, mangarahkan dan mengembangkan aspek kepribadian, karakter, emosi, serta aspek intelektual peserta didik. Sehingga pendidikan akan menjadi medium munculnya generasi-generasi baru yang sudah matang, tangguh, kompeten, dan berkarakter untuk menjadi pembaru dan agen-agen perubahan positif demi bangsa dan negaranya.

Para guru sebagai insan profesional harus mulai ditempatkan di “kursi” istimewa. Karirnya diinterpretasikan ulang sebagai bukan karir “sisa”, seperti  ketika lulusan non pendidikan belum mendapatkan pekerjaan, mereka masuk ke dalam sekolah-sekolah melamar sebagai guru,  “daripada nganggur, jadi guru aja dulu.”

Kita harus sadar bahwa para siswa bukan konsumen fakta. Mereka adalah pencipta pengetahuan yang aktif. Sekolah bukan hanya bangunan megah, dan fasilitas serba modern.  Sekolah adalah pusat pembelajaran seumur hidup. Dan, yang terpenting, mengajar diakui sebagai salah satu pilihan karir yang paling menantang dan dihormati, sangat penting bagi kesehatan sosial, budaya, dan ekonomi bangsa ini. Karir di dunia pendidikan kini harus dipandang sebagai karir penentu dasar-dasar kemajuan generasi. Dari lembaga pendidikanlah setiap orang tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.

Jadi kini jalan baru transformasi pendidikan harus dilewati oleh guru-guru yang profesional dan berintegritas. Yang memiliki idealisme, kemampuan berkomunikasi dan membangun gagasan serta melahirkan karya nyata.

Praktik terbaik guru TIDAK LAGI kombinasi dari pemberian informasi, penitipan anak, dan memilah siswa dari nilai akademik. Sekolah kemudian laksana pabrik  di mana seorang guru dibayar per jam atau upah harian sebagai karyawan, membuat anak-anak yang sama usianya duduk diam untuk pelajaran dan ujian yang seragam.

Dalam praktiknya, kini hubungan baru antara guru dan siswa ini mengambil bentuk konsep pengajaran yang berbeda. Penyesuaian dengan bagaimana siswa benar-benar belajar mendorong banyak guru beranjak dari kegiatan pengajaran yang terutama berbasis ceramah demi pengajaran yang menantang siswa untuk berperan aktif, mampu mencari, mempu menemukan sendiri berbagai pengetahuan secara luas dan merdeka.

Tanggung jawab terpenting seorang pendidik adalah untuk mencari dan membangun pengalaman pendidikan yang bermakna yang memungkinkan siswa memecahkan masalah dunia nyata dan menunjukkan bahwa mereka telah mempelajari ide-ide besar, keterampilan yang kuat, dan kebiasaan pikiran dan hati yang memenuhi standar pendidikan yang disepakati.

Membangun kembali hubungan antara siswa dan guru menuntut agar struktur sekolah juga berubah. Cara sekolah memandang tugas dan tanggungjawab guru juga semakin berkembang dan menunjukkan ittikad penghargaan yang memuliakan. Hubungan lembaga sekolah, kepala sekolah, yayasan dengan para guru, bukan hubungan relasi atas kekuasaan. Namun hubungan kolaborasi yang konstruktif, karena semua stakeholder dalam lembaga memiliki peran penting yang sama. Memiliki tanggungjawab moril yang besar, daripada sekedar mencari target pasar.

Tanggung Jawab Profesional Baru

Selain memikirkan kembali tanggung jawab utama mereka sebagai tenaga pendidk dan fasilitator pembelajaran siswa, guru juga mengambil peran lain di sekolah dan profesi mereka. Mereka bekerja dengan kolega, anggota keluarga, politisi, akademisi, anggota masyarakat, pengusaha, dan lainnya untuk menetapkan standar yang jelas dan dapat diperoleh untuk pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang harus kita harapkan untuk diperoleh anak-anak. Mereka berpartisipasi dalam pengambilan keputusan sehari-hari di sekolah, bekerja berdampingan untuk menetapkan prioritas, dan menangani masalah-masalah yang memengaruhi pembelajaran siswa mereka.

Menemukan kembali peran guru di dalam dan di luar kelas dapat menghasilkan sekolah yang jauh lebih baik dan siswa yang berpendidikan lebih baik. Institusi pendidikan, kepala sekolah, yayasan, serta pemerintah sebagai pengambil kebijakan utama dalam mengarahkan tujuan dan arah pendidikan secara nasional harus mulai memberikan porsi besar untuk mendorong para guru hadir dengan keprofesionalannya dan memfasilitasi secara terus menerus peningkatan kompetensi dan wawasan.

Peran dan tanggungjawab guru secara profesional mencakup berbagai permasalahan kehidupan yang sudah tidak bisa lagi dipandang secara terpisah dari urusan pendidikan. Siswa belajar di sekolah harus terhubung dengan permasalan sosial secara integral dan kontekstual. Pendidikan diselenggarakan secara holistik sehingga siswa dapat tumbuh dan beradaptasi dalam koridor yang tepat, dalam arus perubahan yang cepat. Jadi guru profesional kini disertifikasi dan dinilai bukan dari tanda berkas atau piagam sertifikasi. Namun kontribusi yang menyeluruh di dalam dunia pendidikan dan di luar pendidikan. 

Persepsi tentang sertifikasi guru dan tujuannya harus mulai dipandang dengan sudut pandang yang lebih lengkap atau mungkin kompleks. Anda boleh bangga ketika menyandang sebagai guru bersertifikat profesi. Namun Anda juga harus menyertai predikat dan label sertifikasi itu dengan paradigma yang lebih maju lagi. Profesionalisme guru bukan sekedar menerima legalitas kertas, menerima tunjangan materi profesionalisme guru adalah tanggungjawab baru yang terus melekat dengan nilai kemuliaan tenaga pendidik, nilai kemampuan dan tingginya perhatian terhadap perubahan zaman.    [BungRam – 14-01-2023] 

Bagikan supaya bermanfaat

Recomended

Explore

#3 Tentang Merawat Konsistensi

Kultigraf #3 Tentang Merawat Konsistensi Pagi ini saya melewati satu pertigaan jalan yang cukup ramai kendaraan dari tiga arah. Ada dua

Artikel Pendidikan

Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *