Memilih Calon Presiden – Tips dari Stephanie McCallum

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Memilih Calon Presiden - Tips dari Stephanie McCallum

Debat calon presiden dan wakil presiden akan memasuki putaran terakhir, pada debat terakhir – kelima yang akan dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 2024, adalah debat terakhir calon presiden Republik Indonesia.

Kita akan menyaksikan kembali paparan dan argumen masing-masing kandidat capres seperti yang sudah dilaksanakan pada debat pertama dan ketiga. Tentunya harapan seluruh rakyat Indonesia adalah melalui serangkaian proses kontestasi dan seleksi tersebut akan menghasilkan pemimpin bangsa yang tangguh berkualitas, memiliki visi yang hebat dan mampu membawa bangsa ini menjadi pemimpin dunia.

Kemudian, sebagai calon pemilih, kita harus menjadikan setiap sesi debat yang sudah berjalan dan akan memasuki tahap akhir ini sebagai barometer dan indikator kesesuaian aharapan dan pilihan kita, atau menjadi tolak ukur untuk memberikan alasan yang kuat, mengapa kita memilih paslon A, paslon B, atau paslon C. Karena biaya pesta demokrasi ini bergitu besar, jangan sampai pesta lima tahunan ini hanya lewat bersama hiruk pikuk dan fatamorgana dari bias media sosial atau iklan kampanye masing-masing calon. Sebagai hasilnya kita akan menerima pemenang kontestasi bukan karena kemampuan dan kualitas kempemimpinan, namun karena dukungan suara orang-orang korban iklan apalagi ‘gimmick’ di jual untuk menarik simpati dan perhatian.

Memilih dengan pengetahuan dan kesadaran itu penting. Pilihan Anda memiliki dampak jangka panjang terhadap kebijakan pemerintah, alokasi anggaran, dan komunitas yang terbentuk di masa depan. 

Kemudian memilih dengan hati-hati itu penting. Menggunakan suara Anda dalam bilik suara adalah momen menentukan berikutnya juga adalah penting. Maka dari itu memilih calon presiden bukan seperti istilah “memilih kucing dalam karung”. Bukan memilih siapa yang lucu, siapa tegas, siapa yang punya janji paling banyak. Oleh karena itu debat capres adalah etalase pemikiran dan kualitas kepemimpinan.

Presiden yang akan kita pilih adalah orang-orang yang dipersiapkan dan mempersiapkan dirinya dengan paling baik di antara ratusan juta penduduk negeri. Bagaimana memilih calon pemimpin yang sesuai dengan harapan kita saat ini? 

Tips dari Stephanie McCallum, seorang pianis klasik asal Australia dalam Memilih Calon Pemimpin berikut ini sangat layak kita jadikan ukuran standar:

Komitmen dan keyakinan

Para pemimpin tahu apa yang mereka perjuangkan, apa yang mereka yakini, dan komitmen teguh mereka. Ini tentang nilai-nilai mereka dan lebih dari itu; hal ini memandu keyakinan mendasar yang ditunjukkan melalui sikap, perilaku, dan tindakan sehingga pilihan-pilihan selaras dan kepemimpinan menjadi sangat autentik. 

Cocokkan performa calon presiden melalui beberapa pertanyaan berikut:

1. Apa yang diperjuangkan pemimpin?

2. Apa komitmen mereka?

3. Di manakah nilai-nilai Anda selaras dengan nilai-nilai mereka?

4. Sikap dan perilaku apa yang mereka tunjukkan yang selaras dengan Anda?

5. Apa yang lebih diinginkan oleh pemimpin, untuk dibangun atau diciptakan di dunia?

Integritas dan Keberanian

Ketika seorang pemimpin bertindak berdasarkan integritas dan keberanian, mereka memiliki kejelasan tentang apa yang ingin mereka ciptakan di dunia dan cukup berani untuk mewujudkannya. Mereka sadar dan bertanggung jawab atas dampaknya terhadap orang lain dan dunia di sekitar mereka, dan berupaya untuk memberikan dampak positif.

Seorang pemimpin yang berani mampu mengartikulasikan etika dan prinsip-prinsip yang memandu pengambilan pilihannya secara transparan dan terbuka. 

Mengenai integritas dan kebeanian, tenyakan tentang hal-hal berikut pada diri Anda:

1. Seberapa selaras tindakan dan kata-kata pemimpin?

2. Bagaimana respons pemimpin ketika muncul perbedaan sudut pandang atau konflik?

3. Seberapa selaras respons pemimpin dalam situasi stres dengan cara Anda ingin tampil di dunia?

4. Perubahan apa yang dianjurkan oleh pemimpin tersebut? Apa yang berbeda dari sekarang?

Keterbukaan & Koneksi

Pemimpin yang berani menciptakan ruang di sekitar mereka yang mendorong koneksi, ide, dan kolaborasi. Mereka bertanya, bukan memberi tahu, dan mendemonstrasikan tindakan yang memicu percakapan, memungkinkan orang-orang dengan pandangan berbeda untuk terhubung dan belajar satu sama lain, dan membangun rasa inklusi yang bermakna di mana orang-orang merasa bahwa mereka penting.

Tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Bagaimana perasaan Anda terhadap pemimpin tersebut? Emosi apa yang muncul ketika Anda mendengarkan atau mengamati pemimpin?

2. Dengan siapa pemimpin mengelilingi dirinya? Apakah terdapat kelompok pendukung dan mitra yang berbeda-beda dan memiliki sudut pandang, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda?

3. Apakah pemimpin menciptakan ruang positif untuk menyelesaikan tantangan bersama orang lain, atau menyelesaikan tantangan dan meminta orang lain bereaksi?

4. Apakah ada ruang dalam gagasan dan visi masa depan pemimpin yang dapat Anda lihat sendiri?

5. Apakah pemimpin bersedia menghadapi ketidakpastian dan berupaya menemukan solusi tepat yang dapat diterapkan dalam jangka panjang?

Pengaruh & Partisipatif

Pemimpin yang berani menginspirasi dan memberdayakan orang lain untuk membuat pilihan untuk berpartisipasi, menjalin hubungan, dan percaya pada masa depan yang lebih positif. Para pemimpin secara autentik memimpin berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan mereka yang unik, berkomitmen dengan berani terhadap sebuah visi, dan mengajak orang lain untuk membantu mewujudkannya.

Tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apakah Anda merasa dapat berperan aktif dalam perubahan positif yang diinginkan oleh pemimpin?

2. Apakah pemimpin membawa ide-ide baru yang menantang status quo dan menawarkan cara berpikir dan bertindak baru?

3. Apakah pemimpin membuat Anda merasa menjadi bagian dari sesuatu dan solusi mungkin dilakukan?

4. Apakah pemimpin bertindak berdasarkan pola pikir yang mengajak, mendukung, dan memberdayakan (daripada memberi tahu, mendikte, atau memutuskan kepentingan orang lain)?

Bagikan supaya bermanfaat

Artikel Pendidikan

Artikel Parenting

Inspirasi

Sorotan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *