Hubungi BungRam    

Membuat Aktifitas SEL Pada Masa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Dalam beberapa diskusi dengan guru, saya mendapatkan cerita tentang berbagai problematika belajar secara daring, dan kini memasuki masa pembelajaran dengan tatap muka langsung secara terbatas (PTM), bahwa anak-anak banyak mengalami penurunan daya konsentrasi, dan berkurangnya kepekaan sosial dan emosional saat belajar secara tatap muka. 

Banyak orang, khususnya para guru mengakui bahwa belajar secara daring saat pandemi memengaruhi daya belajar dan kemampuan konsentrasi siswa. Selain itu, secara emosional anak-anak yang terlalu lama (pada masa pandemi) tidak melakukan interaksi secara langsung dalam proses pembelajaran bersama guru dan teman-teman kelasnya, dapat mengalami berkurangnya kepekaan sosial dan emosional.  

Praktik pembelajaran sosial dan emosional (SEL- Social Emotional Learning) di sekolah saat menjalani Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas dapat membantu siswa belajar memecahkan masalah, mengelola emosi mereka, meningkatkan dan membangun hubungan. Mengintegrasikan praktik SEL ke dalam budaya sekolah membantu memastikan bahwa siswa memperoleh keterampilan hidup yang penting ini.

Bagaimana mempraktikkan pembelajaran sosial dan emosional di kelas selama masa PTM?

Pada prinsipnya pembelajaran sosial dan emosional merupakan serangkaian aktifitas yang tidak harus terjadwal atau terstruktur ke dalam urutan aktifitas belajar yang baku sebagaimana umumnya jadwal pelajaran di kelas setiap hari. Guru tidak perlu membuat waktu khusus dalam jam tatap muka  acara belajar. Aktifitas pembelajaran sosial emosional mengutamakan keterlibatan yang intens dan interaktif di kelas atau luar kelas. Guru dapat memfasilitasi aktifitas yang mengasah bentuk kecerdasan lain selain intelektual itu secara terintegrasi dengan mata pelajaran atau aktifitas pengayaan. 

Jika selama PTM durasi anak berada di sekolah amat terbatas, maka guru bisa memfasilitasi aktifitas pembelajaran sosial emosional ini secara daring atau luring. Berikut beberapa aktifitas yang bisa dilakukan bersama siswa: 


1. Membuat jurnal harian. Jurnal harian ini adalah catatan tentang bagaimana siswa melakukan manajemen pengendalian emosi dan “aksi baik” yang ia lakukan di rumah atau di sekolah. Setiap anak boleh menuliskannya dengan bebas, tanpa aturan baku dan penulisan yang formal. Bagi siswa kelas rendah, bentuk jurnal tidak mesti uraian naratif. Mereka boleh menggambar emoticon keadaan diri mereka. Simbol tertentu untuk menggambarkan aksi mereka.

2. Check-in individu. Tawarkan kesempatan untuk berkomunikasi berpasangan sehingga siswa dapat berbagi perasaan mereka di ruang chat personal, baik itu online atau secara langsung di ruang Anda. Ketika Anda melihat bahwa seorang siswa tidak biasa diam selama diskusi kelompok, tidak terlibat, menunjukkan aktivitas pencarian, atau berjuang dengan cara lain, check-in yang tidak menghakimi melalui obrolan dapat membantu setiap permasalahan karena perbedaan. Mengadakan konferensi virtual di luar jam belajar  kantor virtual untuk membangun koneksi penting bagi siswa jarak jauh.  

3. Lakukan sapaan harian. Anak-anak dan dewasa muda membutuhkan koneksi. Salah satu strategi positif dan sederhana adalah memulai pagi Anda dengan sapaan ramah setiap hari. Anda dapat melakukan ini saat anak-anak berjalan melewati pintu atau selama beberapa menit pertama kelas. Jika Anda mengajar secara daring, sapaan bisa juga dilakukan secara  virtual. Gunakan poster ucapan selamat yang dapat dicetak untuk memulai sapaan virtual Anda. 

4. Membuat project seni bersama. Project kesenian dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial dan emosional. Anda bisa mengajak anak-anak membuat kolase diri atau gabungan yang akan dijadikan hiasan dinding kelas. Sesungguhnya melukis, membuat kolase bersama sdalah salah satu strategi latihan ‘coping’ yang positif untuk mengelola stress. Memiliki mitra yang bekerja bersama dalam project kesenian dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi dan hubungan.  

5. Melakukan rehat dengan gerakan. Ciptakan kesempatan untuk istirahat melalui gerakan teratur agar siswa mendapatkan energi kembali untuk belajar. Gerakan bukan hanya cara yang terbukti untuk meningkatkan produktivitas siswa — itu juga merupakan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan memperkuat kreativitas mereka saat mereka berinteraksi dengan rekan-rekan mereka.  

6. Momen pencapaian. Sediakan waktu untuk menyampaikan pencapaian diri sesekali, yang memberi siswa kesempatan untuk berbagi pencapaian dengan teman di kelas. Siswa juga dapat menggunakan momen ini untuk meningkatkan rekan. Anda dapat mendukung aktivitas ini menggunakan Add-on gratis Pear Deck untuk Google Slides . Perintah guru dan slide teks memberi siswa kesempatan untuk membagikan tanggapan mereka secara publik. Misalnya, “Bagikan pencapaian baru-baru ini yang Anda banggakan” atau “Berikan sapaan kepada teman sekelas untuk sesuatu yang hebat yang mereka lakukan!” Berbagi juga dapat dilakukan secara anonim, yang memungkinkan siswa merasa lebih nyaman mengartikulasikan hal-hal yang mungkin tidak mereka rasakan sebaliknya. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara tentang diri mereka sendiri dan orang lain secara positif, Anda akan memberi mereka kesempatan untuk fokus pada kekuatan mereka dan membangun kepercayaan diri.

BungRam – 1 Oktober 2021