Hubungi BungRam    

Ma’rifatullah
F2C47970-0D76-4017-96D8-0EC700ACD94B

Martir Sains & Filsafat dalam Lintasan Ortodoksi Agama

Ma’rifatullah dalam keberagamaan



 

أَوَّلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَتُهُ , وَكَمَالُ مَعْرِفَتِهِ التَّصْدِيْقُ بِهِ وَكَمَالُ التَّصْدِيْقِ بِهِ تَوْحِيْدُهُ , وَكَمَالُ تَوْحِيْدِهِ الإِخْلاَصُ لَهُ .

 

Permulaan agama ialah mengenal Dia (ma’rifah), kesempurnaan mengenal Dia ialah membenarkan-Nya (tasdiq), kesempurnaan tasdiq ialah mengesakan-Nya (tauhid), dan kesempurnaan tauhid ialah ikhlas bagi-Nya.” (Ali bin abi Thalib)

  

Kata “diin” secara etimologi artinya “agama”.  Contoh; dinul-Islam, agama Islam. Semakna dengan kata “millah” dalam al Quran.  Kata ini banyak ditemukan di dalam literatur Islam, merujuk kepada agama nabi Ibarim A.s. yang berarti agama, keyakinan yang dianut. 

 

Dalam Istilah Syar'i, makna kata “diin” dalam al Quran berarti:  perhitungan (al-hisab), pembangkitan (al-ba`ts), pembalasan (al-jaza), ketetapan (al-qodho), ganjaran (ats-tsawab), siksaan (al-iqob), ibadah, doa, tauhid, ketaatan, agama, dan hukum. Sedangkan kata “millah” dalam al-Quran mempunyai makna “agama dan syariat.”

 

Kedua istilah tersebut digunakan dalam konteks yang berlainan. Millah digunakan ketika dihubungkan dengan nama Nabi yang kepadanya agama itu diwahyukan dan Din digunakan ketika dihubungkan dengan salah satu agama, atau sifat agama, atau dihubungkan dengan Allah yang mewahyukan agama itu.

 

Jumlah kata “ad diin” disebutkan sebanyak 92 kali dalam Al-Qur`an yang terdapat dalam 82 ayat. Kata “al millah” disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 10 kali.

  

Kalimat “permulaan agama adalah mengenal Dia (Allah SWT)”, menunjukkan bahwa sebagai Zat Yang Maha Mutlak, Allah SWT adalah wujud yang harus dikenali oleh manusia, siapapun dia, dalam menjalani kehidupan yang baik, menuju jalan  orang-orang shalih, memgikuti tuntunan ulama dan para wali, yang mendapat petunjuk dari Allah SWT melalui para nabi.

 

Ma’rifatullah adalah tingkatan mendasar dari keimanan, jalan yang utama menuju keyakinan dalam beragama. Mengetahui artinya mengenal tentang sifat-sifatNya, mengetahui apa yang menjadi kehendakNya atas penciptaan makhluq, mengetahui tujuan yang ingin dicapai dalam hidup, sebagai ciptaanNya atas keyakinan bahwa keberadaan manusia adalah bagian dari manifestasi keberadaan Allah Sang Maha Pencipta.

 

Keyakinan menunjukkan kesempurnaan ‘ma’rifatullah’. Melalui pembenaran ‘tashdiiq’. Orang yang yang yakin akan sesuatu maka ia akan memebenarkan tentang hal ihwal dari sesuatu tersebut. 

 

Ketidaktahuan akan Zat Tuhan Yang Mahakuasa serta nama-nama dan sifat-sifatNya, serta hakNya kepada para hamba bertentangan dengan kesaksian bahwa “Tidak Tuhan selain Allah”.  Karena syarat pertama dari kondisinya adalah pengetahuan: (Dia yang mengucapkannya sementara dia tidak tahu arti dan persyaratannya, karena itu tidak bermanfaat baginya seperti orang berbicarara dengan suatu bahasa, namun ia tidak memahami artinya).

 

Dan pengetahuan tentang Tuhan Yang Mahakuasa adalah tugas pertama dari ‘mukallaf’ – orang yang dibebani kewajiban dalam agam (syariat).  Allah SWT berfirman:

 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

  

"Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan minta ampunlah atas dosamu dan untuk orang-orang yang beriman, dan Allah Maha Mengetahui  tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS.Muhammad: 19)

  

Konsep ma’rifatullah menurut al-Ghazali adalah berupaya untuk mengenal Tuhan sedekat-dekatnya yang diawali dengan pensucian jiwa dan zikir kepada Allah secara terus-menerus, sehingga pada akhirnya akan mampu “melihat” Tuhan dengan qalbunya, hati nuraninya. Ma’rifatullah merupakan sumber dan puncak kelezatan beribadah yang dilakukan oleh seseorang di dunia ini. Lebih jauh lagi Ia memberi pandangan yang luas tentang kebahagiaan dan kelezatan bagi manusia untuk mencapai ma’rifatullah. Mengenal dan mencintai Sang Pencipta dengan sepenuhnya. Dengan demikian manusia akan memperoleh kesenangan yang luar biasa dari yang lainnya. Ma’rifat kepada Allah adalah merupakan sifat yang sangat mulia.

 

Atas dasar ma’rifatullah, manusia membenarkan bahwa Zat Allah adalah sebenar-benarnya sembahan. Pembenaran itu kemudian menguatkan keyakinannya, dan kapasrahannya dalam menerima setiap apapun yang dikehendaki oleh Allah SWT.

 

Kesempurnaan ‘tashdiiq’ adalah tauhid, meng-esakanNya. Mengapa bertauhid menunjukkan tanda kesempurnaan sikap yakin akan kebenaran Tuhan? Karena tidaklah dikatakan seorang hamba itu yakin akan keberadaan Tuhan, jika tidak ada pengetahuan tentang keesaan Tuhan. Karena wujud yang mutlaq tidak mungkin diiringi wujud lain, sehingga keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah menjadi benar dan diketahui dengan ilmu, juga diyakini dengan qalbu.

 

Penyempurna berikutnya adalah keikhlasan. Setelah adanya keyakinan bertauhid, manusia harus menyempurnakannya dengan sikap ikhlas. Ikhlas artinya “bersih dari segala kekotoran” dalam hal keyakinan. Bersih dari segala yang memalingkan hati dari kedekatannya dengan Allah.

 

Ikhlas sebagaimana diungkap oleh banyak ulama adalah beramal hanya karena Allah semata seraya memurnikan ibadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Murni, jernih, bersih bagai kapas putih yang terhindar dari noda kotor apa pun, bersih tanpa cela.

 

Ikhlas itu penuh misteri, tidak bisa diindra dan tidak diketahui kecuali antara seorang hamba sebagai pelaku dengan Allah Yang Maha Tahu… Mudah terucap namun sulit di hati!

 

Mungkin karena sulit itulah Allah banyak memberikan perintah untuk ikhlas. Imam An Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menyusun ayat-ayat ikhlas sebagai berikut;

 

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

 

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah Swt. dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. al-Bayyinah: 5)

 

Kemudian beliau menjelaskan bahwa ikhlas itu yang dapat mendorong amal seseorang sampai kepada Allah, ini ayatnya;

 

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

 

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS Al Hajj: 37)

 

Dan menekankan bahwa ikhlas itu adanya di hati.

 

قُلْ إِن تُخْفُوا۟ مَا فِى صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

 

Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran: 29).

  

 

[BungRam-Jan-31-20]

  

 

    

 

 

 

    

Share it

Your Heading

Politik