Hubungi BungRam    

Apakah anda orangtua yang toxic? #1

Apakah Anda Orangtua yang “toxic”?

#1

CF3C7EBE-9A33-4BD1-AF9D-8E32BA73627C



Orangtua tidak hanya “menciptakan” dunia yang didiami anak, tetapi juga menampilkan bagaimana dunia harus ditafsirkan oleh anak.   Budaya kita memberikan gambaran tentang peranan orangtua dalam mengenalkan kehidupan terhadap anak, seperti layaknya guide museum menuntun pengunjung menjelaskan setiap ruang, benda dan gambar yang berada di dalam museum.  


Sebagai anak kecil, kita memahami apa yang terjadi dalam keluarga kita — hal-hal yang dikatakan dan dilakukan, bagaimana orang bertindak dan bereaksi — karena ibu kita yang menafsirkannya untuk kita. Perilaku, atau gaya setiap orangtua dalam mengasuh anak akan memengaruhi perilaku anak kelak. Sebagian positif dan sebagian negatif.


Perilaku negatif bisa dibilang buah karya kepengasuhan yang salah, atau saya mengambil istilah “toxic parenting”. 


Orangtua memiliki “racun” dalam menjalankan proses pendidikan dan pengasuhan terhadap anak mereka. 


Apa itu “toxic parenting”? 


“Toxic parenting” bukanlah istilah medis atau konsep yang didefinisikan dengan jelas. Ketika orang membahas orang tua yang “toxic”, mereka biasanya menggambarkan orang tua yang secara konsisten berperilaku dengan cara yang menyebabkan rasa bersalah, ketakutan, atau tekanan dalam setiap aktifitas pada anak-anak mereka. Tindakan mereka bukanlah peristiwa yang terisolasi, tetapi pola perilaku yang secara negatif membentuk kehidupan anak mereka.


“Toxic parenting” menurut beberapa peneliti diidentikkan dengan perilaku  orangtua yang melakukan hal-hal yang berpotensi merusak secara psikis atau bahkan fisik anak-anak mereka – mungkin dengan secara tidak sengaja. Tapi  dorongan dari dalam diri mereka adalah untuk berbuat lebih baik bagi anak dan memperbaikinya. 


Orang tua yang “toxic” lebih mementingkan kebutuhan mereka sendiri daripada apakah apa yang mereka lakukan berbahaya atau merusak . Mereka kemungkinan besar tidak akan meminta maaf atau bahkan mengakui bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Dan tindakan bullying, sikap kasar, pelecehan atau pengabaian terhadap anak cenderung berkelanjutan atau progresif.


Karakteristik orangtua “toxic”


Orangtua “toxic" biasanya memiliki beberapa karakteristik berikut:


1. Perilaku egois. 


Ditandai dengan tidak hadirnya orangtua secara emosional untuk kebutuhan anak, cenderung narsistik, atau malah tidak peduli dalam hal yang anak butuhkan. Meskipun bukan berarti setiap kebutuhan pokok anak tidak terpenuhi. Yang hilang dari hak anak ialah perhatian emosi. Karena kesenangan orangtua untuk dirinya terlampau   didahulukan untuk dipenuhi. Orangtua sibuk bekerja sepanjang pekan, namun di akhir pekan, mereka tetap ingin menikmati liburannya tanpa mau “diganggu” anak. Kemudian mereka lebih asyik dengan hobinya sendiri atau malah bergabung dengan klub rekanan kerjanya daripada menemani anak di akhir pekan. 


2. Pelecehan fisik dan verbal. 


Pelecehan fisik mulai dari mencubit, mendorong, hingga memukul. Secara verbal bisa berteriak, membentak, hingga memanggilnya dengan nama atau julukan yang buruk; nakal, bodoh, pemalas, perusak dan lain-lain.  


3. Mengontrol perilaku berlebihan. 


Orang tua yang “toxic” biasanya sangat ketat mengontrol anak-anak setiap hari. Tidak ada waktu  untuk anak berpikir bagaimana cara berteman atau menemukan teman bermain yang cocok untuk dirinya misalnya, kecuali sang bunda  harus hadir melihat atau “menyeleksi” siapa saja yang boleh diajak main atau   dengan siapa anak bermain di komplek rumah. Orangtua tipe ini amat mengganggu privasi anak, atau kesempatan anak untuk mengembangkan kemampuan interpersonalnya, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi secara bebas dan memecahkan masalah saat konflik. mereka. beracun mungkin mengganggu privasi Anda atau tidak mengizinkan Anda membuat keputusan sendiri. Atau mungkin mereka terlalu kritis dan mengontrol keputusan Anda, bahkan sebagai orang dewasa.


4. Perilaku manipulatif. 


Perilaku ini umumnya ada pada Orangtua yang  sering menggunakan ‘rasa bersalah’ anak untuk menekan. Mempermalukan anak untuk membuatnya jera, bertindak seolah-olah itu adalah kesalahan anak, terlambat datang ke sekolah, padahal orangtua  tidak siap dengan waktu yang tepat mengantarkan anak akibat kurang memperhitungkan situasi jalan menuju sekolah di jam macet. 


5. Tidak ada batasan yang jelas. 


Orang tua yang “toxic” cenderung mendorong dan mendorong untuk mendapatkan apa yang anak-anak  inginkan. Saat orangtua lelah atau sibuk, anak-anak memanfaatkan  itu untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa batasan. Dengan cara seperti itu,  Anda hadir sebagai orangtua yang meracuni pola kegiatan anak tanpa kendali. 


6. Senang membuat perbandingan. 


Setiap anak punya potensi berbuat  sesuai harapan atau tidak sesuai harapan orangtua. Meskipun setiap fasilitas atau kebutuhan yang disediakan oleh orangtua bagi anak sama, merata, namun boleh jadi pemanfaatannya dan tanggungjawab setiap individu akan berbeda. Itu harus dipahami sebagai bagian dari keuinikan. Sebagai orangtua memahami keunikan setiap individu anak akan enambah pengalaman yang berharga dalam menjalankan pola asuh di rumah. Maka sikap membanding-bandingkan akan nampak sebagai sebuah perlakuan yang amat tidak bijak. Karena “kebaikan dan kesesuaian” antara perbuatan semua anak dengan harapan orangtua tidak mesti berbanding lurus. Tugas orangtua adalah memberikan kesempatan kepada setiap anak tumbuh dengan keunikannya masing-masing. 


[BungRam-15012021]

Bagikan

Artikel Lainnya

BDAC14F4-1583-4415-BF0E-6179AA5BD3A5

Sticky Notes Guru Kelas - #9 Memanfaatkan Game Edukasi Daring

74322E02-B9C7-4A42-8E8C-6FC7105D27D6

Mengajarkan Matematika Realistik Dengan Pendekatan Problem Based Learning (PBL)

149B539D-6274-4B47-B74D-349A3F95FD8A

Sticky Notes Guru Kelas - #8 Melatih anak (siswa kelas rendah) belajar dengan pendekatan PBL (Problem Based Learning)

589BD8FB-22E4-4F46-8A6A-BF7EBD031EDD

Sticky Notes Guru Kelas - #7 – Menata Kelas Untuk Mendukung Efektifitas Belajar

D9A27F06-63BF-46C5-A34C-652A8B2FEA3C

Bagaimana Anak Bermain Dengan Temannya? Mereka Belajar dari Ayah

4F386E20-806C-4AF1-9C52-61B4A7D61FFB

Era Industri 4.0 dan perubahan pendidikan, masih ingatkah (pedulikah) kita?

{"origin":"gallery","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1609722106056","source":"other"}

Pendidikan; Investasi Berharga Untuk Kemajuan Bangsa