Hubungi BungRam    

Mematuhi Aturan
6FDD9364-A304-40D6-9324-E8D46313A80C

Sekolah Orangtua

Mendidik Anak Untuk Mematuhi Aturan

“It takes courage to grow up, and obey the rules to success”  

  

Orangtua banyak membicarakan di antara sesama mereka tentang bagaimana menerapkan sebuah aturan dan disiplin di rumah. Hal itu juga berkaitan dengan tata kelola dan pengendalian wewenang di rumah. Ayah tentunya sebagai pemimpin dalam keluarga memiliki otoritas dan harus mampu menunjukkan kemampuan dan keterampilannya mengatur dan mengendalikan aturan di tengah-tengah keluarga. Beberapa tipe keluarga mungkin menemukan kendala dalam penegakkan aturan tersebut. Atau anak-anak menemukan kesulitan untuk mampu menaati aturan yang sudah dibuat oleh orangtua atau sebuah kesepakatan bersama yang tidak “menguntungkan” bagi mereka.

 

Dalam tulisan ‘leadership of parenting’ kali ini, saya ingin berbagi tips mengasuh anak dan membantu mereka belajar mematuhi aturan.

 

Menyadari bahwa aturan dibuat untuk kebaikan itu amat penting. Menumbuhkan kesadaran tentu tidak mudah bagi anak-anak. Mereka perlu merasa memiliki aturan yang dibuat atas kemauan dan rasa senang karena baginya aturan itu akan menyenangkan. Lacie Rader, seorang penulis, pemerhati keluarga dan kepengasuhan anak menyarankan adanya keterlibatan anak dalam membuat aturan. Duduklah bersama anak dan minta menyebutkan hal-hal yang harus dilakukan dengan baik atau menuliskan beberapa kegiatan yang harus dia lakukan sesuai keinginannya dan dengan persetujuan bersama.

 

Kemudian, ada aturan tentu ada konsekwensi. Bicarakanlah bersama anak Anda tentang konsekwensi agar ia memahami dan menghargai aturan itu. Belajar memahami konsekwensi atas aturan yang disepakati bersama melatih anak tentang komitmen dan tanggungjawab. Dalam ‘leadership values’,  menghargai aturan dan memahami konsekuensi adalah sikap terhormat dari seorang pemimpin. Menjadikan adanya penghargaan dan kemampuan untuk menentukan pilihan yang terbaik dan tepat dalam memutuskan permasalahan.

 

 Gunakan nada yang lembut untuk menjelaskan aturan kepada anak Anda. Rumah Anda bukan kamp pelatihan dan Anda bukan sersan latihan.  Menggunakan tekanan, pemaksaan, atau ancaman dapat mendorong anak Anda ke arah yang salah. Mereka akan bertindak karena rasa takut. Dengan menjadi peka saat mengingatkan dan memperkuat aturan, anak Anda belajar membuat pilihan untuk mengikuti aturan karena alasan yang tepat.

 

Setiap anak harus mengikuti aturan yang sama. Jika Anda memiliki lebih dari satu anak, Anda mungkin menemukan bahwa pendekatan paling jernih — bagi Anda dan anak-anak Anda — adalah menerapkan aturan yang sama. Maksudnya sesuai dengan konsekwensi yang tetah ditetapkan dan disepakati oleh semua anak-anak. Ada banyak waktu ketika mereka tumbuh dewasa untuk menemukan bahwa dunia ini bukan (benar-benar) tempat yang adil. Mari kita menyeberangi jembatan itu ketika kita sampai di sana.

 

Berikan semacam sesi penjelasan tentang mengikuti aturan di lingkungan rumah yang aman. Jelaskan kepada anak Anda bagaimana mengikuti peraturan di sekolah ketika dia berinteraksi dalam kelompok dengan anak-anak lain. Misalnya, jelaskan kepada anak Anda cara mendekati sekelompok anak yang bermain bersama. Jelaskan kepada anak Anda secara rinci, langkah-langkah yang harus diikuti ketika ia ingin bergabung dengan sekelompok anak-anak yang bermain bersama. Bermainlah dengan anak Anda. Pertama, jelaskan setiap langkah:

 

1) Tunggu waktu yang tepat untuk bergabung dengan permainan. Seperti saat ada jeda atau bola bergulir. 

2) Tersenyumlah pada anak-anak dan lakukan kontak mata. 

3) Katakan sesuatu yang positif: “kalian nampak senang sekali!”

4) Kemudian tanyakan — sambil masih tersenyum — bolehkah saya bergabung dengan Anda? 

5) Terakhir, diskusikan apa yang harus dilakukan selanjutnya jika anak-anak mengatakan "tidak".

 

Orangtua juga perlu mengajarkan tata krama secara konsisten. Hal itu mungkin atau tidak mungkin membantu mereka meningkatkan defisit keterampilan sosial mereka dengan anak-anak lain tetapi itu masih banyak peluang untuk membuat mereka mampu bertindak konsisten. Berusahalah untuk memperkuat dasar-dasar bagi anak-anak tentang tata krama atau etika di manapun mereka bersda. Misalnya  tidak bersendawa dengan suara agak keras di depan orang lain, tidak memotong pembicaraan tanpa ada permohonan. Perilaku apapun yang dianggap sebuah etika kesopanan harus diketahui oleh anak sejak dini.

 

Aturan dalam hal makan. Mengajarkan ‘table manner’ bisa dilakukan dengan sederhana sejak dini. Orangtua bisa mengatakan kepada anak tentang tata  cara makan saat makan malam di rumah bersama-sama. Mencegah perilaku mengkritik makanan, mengambil makanan yang terdekat darinya, tidak banyak mengeluarkan bunyi saat makan, menghindari obrolan yang jorok saat makan, menutup mulut saat membersihkan sisa makanan di gigi, meraPihkan letak kursi setelah makan. Ini adalah keterampilan sosial utama yang mereka butuhkan saat dewasa.

 

Mengajarkan aturan dan  disiplin adalah tentang memberitahu, mencontohkan, bukan hukuman . Terlalu sering, ketika orang tua merasa terprovokasi atau dipicu oleh anak-anak mereka, disiplin menjadi lebih tentang melepaskan perasaan mereka daripada mengajar anak. Orang tua akan jauh lebih efektif ketika mereka dapat mengendalikan emosi mereka sendiri dan dapat menyesuaikan diri dengan anak-anak mereka.  Ada beberapa sikap orangtua yang perlu dijaga saat melakukan sebuah “aksi” memutuskan untuk mendisiplinkan anak atau menegur mereka saat aturan dilanggar. Akan saya uraikan di tulisan berikutnya.

 

[BungRam]




Share to