Hubungi BungRam    

Karakter baru pendidikan pasca pandemi

Karakter Baru Pendidikan Pasca Pandemi

3BD3E8BD-6CAF-4910-91D9-CE1B00CAF232



 

“Between the real world and the education is cover, it is the ego of the teacher  who feels the most know-it-all. The students live on a path of "ignorance" because the teacher only presents one path to their goal.” [bungram]

 

 

 

Pertumbuhan dan perubahan kadang memiliki efek yang tidak nyaman, sering dipandang sesuatu yang mengganggu, mengganggu rasa nyaman, mengkhawatirkan kedudukan, bahkan menghantui pikiran yang tumbuh karena delusi dan minim pengetahuan.

 

Kebanyakan kita lupa, menurut sebagian ahli kesehatan, saat masa pertumbuhan fisik tubuh kita, seperti di usia 3 – 7 tahun, kita mengalami rasa sakit dalam persendian tubuh kita karena percepatan pertumbuhan, dan itu wajar. Sebagian besar rasa sakit akibat pertumbuhan dibarengi dengan demam tubuh atau rasa sakit lainnya. 

 

Sebagaimana pertumbuhan fisik, sebuah institusipun mengalami hal yang sama. Pertumbuhan dan perubahan kadang menyebabkan rasa ketidak nyamanan. Berbagai faktor penyesuaian yang terjadi karena adanya perubahan mendesak setiap individu dalam institusi melakukan penyesuaian; pengurangan kebutuhan, penambahan jam kerja, keharusan meningkatkan skill tambahan, hingga mengubah sitsim kerja dan rotasi kerja.

 

Tahun pandemic adalah salah satu peta adanya berbagai pertumbuhan dan perubahan yang tidak gradual. Terutama yang berdampak terhadap sistim pendidikan dan pola belajar dan mengajar di sekolah. Pola pikir guru, murid dan orangtua. Jadi saat kita melewati tahun yang sulit ini dan melihat ke tahun berikutnya, saya pikir kita perlu merenungkan apa yang mungkin terbukti sulit dan apa saja yang akan mempertahankan berbagai hal permanen dalam pendidikan.

 

Semua insan pendidikan kini mulai akrab dengan berbagai perangkat teknologi digital dan ada sebagian terpaksa bermigrasi dari pendekatan konservatif kepada pendekatan kolaboratif yang sebelumnya dipandang tidak biasa dalam praktik pendidikan. Atau dipandang tidak layak dilihat sebagai sebuah proses belajar.

 

Perubahan dan pertumbuhan pedagogis saat ini adalah bagian dari terbangunnya konstruksi “karakter pendidikan”. Mengembalikan prioritas  mencapai sebuah pencapaian, atau memprioritaskan kembali komunitas belajar dan perhatian yang intens terhadap konten belajar sebagai cara mencapai dampak positif pada kurikulum dan prestasi siswa.

 

Apa yang selama ini melekat tentang sebuah proses pendidikan telah bergeser dan jarum pendidikan sedang bergerak menuju titik angka yang tidak sama. Pandemi, meski (kita berharap) akan berakhir dalam waktu tidak lama lagi, tidak akan merubah jarum pendidikan kembali berputar berlawanan arah karena kita tidak ingin terjadi perubahan yang permanen. Maka kesiapan dan persepsi kita para pendidik untuk menuju titik di mana  pendidikan beranjak, harus diperkuat dan bergerak, bukan diam apalagi kembali ke titik sebelumnya.

 

Berikut beberapa hal yang diprediksi akan menjadi melekat dalam dunia pendidikan, bisa kita sebut sebagai perubahan “karakter pendidikan” pasca pendemi:

 

1.    Penilaian berubah

Penilaian tidak perlu berupa tes yang berkonsekwensi nilai akademik, berskala nasional, dan terstandarisasi. Ada banyak cara untuk mendiagnosis tingkat pembelajaran, memeriksa pemahaman dan pencapaian kompetensi, dan meminta pertanggungjawaban siswa.  

Saat ini orang-orang sudah banyak mendiskusikan tentang bagaimana menyelaraskan penilaian dengan instruksi pembelajaran abad ke-21 dengan lebih baik daripada menyelaraskan instruksi dengan praktik pengujian abad ke-20.  Sistim penilaian berbasis portofolio dan berbasis project adalah penilaian yang paling relevan  untuk merambah perubahan karakter pendidikan pasca pandemi.

Kini era indistrusi 4.0 dimana interaksi teknologi dalam berbagai aspek begitu kuat dan tidak bisa dihindarkan. Kemampuan anak untuk belajar secara global, dengan sumber-sumber yang hampir tak terbatas membutuhkan kemampuan kompleks dari sekedar mengerjakan soal-soal teks untuk mengukur kompetensinya. Karena  kemampuan kognisi akan tidak berdaya menghadapi sistim algoritma yang pembaaruannya berlangsung terus-menerus. 

 

2.    Membangun hubungan dengan siswa adalah yang utama. 

Memahami dan berempati keadaan siswa di masa pandemi akan lebih membantu para siswa  menyesuaikan diri dengan kebutuhan mereka dan keadaan yang mereka rasakan menghimpit dan menjenuhkan. Membantu memahami aset dan sarana belajar  mereka di rumah, kendala mereka belajar dari rumah, dan menyemangati mereka untuk sabar dan disiplin menjaga protokol kesehatan. Di artikel lain yang pernah saya sampaikan, bahwa masa pandemi, psikologi anak adalah hal yang perlu diperhatikan lebih banyak porsinya daripada masalah akademik.

 

Pun pasca pandemi, pola interaksi guru-murid harus dibangun secara lebih baik sebagai satu struktur baru dalam komunitas kelas yang orientasinya adalah membangun kontruksi kolaborasi saling melengkapi, bukan otoritatif guru sebagai penguasa informasi yang menentukan perkembangan kecakapan murid. Yang membatasi murid dalam kecerdasan akademik lewat tes untuk “grading” dan memenuhi kriteria kelulusan sekolah.     Karakter baru hubungan komunikasi diarahkan kepada kesadaran sosial dan emosional yang  tertanam dalam perencanaan pembelajaran serta budaya kelas dengan cara yang lebih disengaja dan intensif. 

 

3.    Membangun hubungan kemitraan dengan komunitas.

Termasuk komunitas di sini adalah keluarga siswa, lingkungan dan komunitas masyarakat. Kemitraan sangat penting dalam  proses  pembelajaran. Dengan melibatkan orangtua, keluarga dalam pelajaran selama pandemi akan mengetahui kondisi siswa kita dan apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Berkomunikasi dalam berbagai cara secara fleksibel sebagai inti adalah cara membangun hubungan kemitraan dengan keluarga. 

 

Pasca pandemi, tetap terhubung dengan baik melalui pola komunikasi yang sudah dibangun di masa pandemi, akan membantu para siswa belajar lebih baik lagi.  Terhadap komunitas masyarakat, organisasi, sekolah membuka jalan yang sama dalam memberikan layanan pembelajaran yang beragam dan relevan. Misalnya melibatkan para siswa dengan program kemanusiaan terkait penanganan pandemi dan sosialisasi pencegahan penularan virus lewat agenda kampanye kesehatan. 

 

4.      Inovasi pembelajaran

Munculnya inovasi pembelajaran di masa pandemi, adalah bagian dari perubahan dan pertumbuhan sistim pendidikan dalam aktifitas pembelajaran yang disebut tidak gradual. Spontanitas yang terjadi, dan berbagai efek yang ditimbulkannya adalah bagian dari elemen penyesuaian masyarakat sekolah terhadap era teknologi digital. Oleh karenanya digitialisasi sistim pembelajaran kini bukan wacana lagi. Dan semua pendidik, mau tidak mau harus menghadapi era yang sudah dimulai ini dengan pikiran terbuka. Pasca pandemi, orientasi pembelajaran yang berbasis konvensional, perlahan atau cepat harus diubah.

  

5.    Strategi keterlibatan dalam pembelajaran 

Era pandemi menunjukkan, bahwa guru dan siswa tidak hanya dua orang yang membuat kegiatan pembelajaran, namun hanya satu orang yang aktif bicara. Keterlibatan siswa dalam belajar secara virtual memengaruhi efektifitas proses belajar, yang dimediasi oleh platform  video conference semacam ‘Zoom meeting’, atau kelas virtual  ‘google classroom’.   Strategi keterlibatan seperti berhubungan dengan siswa, memungkinkan adanya pilihan, menggunakan pembelajaran berbasis proyek untuk membuat pelajaran dan unit lebih bermakna, dan menggabungkan visual dan rekaman untuk membuat teks lebih multimodal adalah kunci dalam membawa siswa ke ruang pembelajaran.  "Keterlibatan dulu, lalu konten, lalu ketelitian” kata  Kelly Gallagher , seorang guru sekolah menengah di Anaheim, California, penulis dan penggerak literasi dunia. 

 

Pasca pandemi, metode belajar dengan berpusat kepada guru, harus sudah mulai ditinggalkan. Belajar adalah proses saling terkait, terlibat antara guru dengan siswa. Karena di era digital, guru bukan manusia super serba tahu!. Dunia informatika adalah perpustakaan yang semua orang bebas akses dan mencari pengetahuan baru. Apapun profesinya, apalagi seorang guru, tantangan abad digital adalah kemauan belajar sepanjang masa tanpa sedikitpun toleransi. Seorang agamawan, politisi dan ekonom juga bagian dari benang-benang yang terhubung satu sama lain untuk menjadi ‘kain’ kerja global mewujudkan peradaban baru yang lebih baik,  modern, dan manusiawi. 

 

Kita harus mewujudkan kolaborasi belajar yang harmoni, bebas tekanan, dan fleksibel. “Jembatan” pikiran yang sudah ada di masa pandemi dengan segala keterbatasannya, keluhannya, kebingungannya, kini terbuka lebar untuk diperkuat pasca pandemi. Juga memiliki peluang yang besar untuk menjadi tonggak lahirnya peradaban modern yang lebih manusiawi, bukan semata era robot digital yang kering dengan imajinasi dan kreatifitas internal, bukan sama dengan kecepatan algoritma digital. Inilah bagian dari ‘karakter pendidikan’ pasca pandemi. 

 

[BungRam-06012021]

Bagikan

Artikel Lainnya

5F24436B-69B0-4796-AF05-855120105C27

Guru Abad 21- skill dan tangtangan - artikel.pdf

4F386E20-806C-4AF1-9C52-61B4A7D61FFB

Era Industri 4.0 dan perubahan pendidikan, masih ingatkah (pedulikah) kita?

{"origin":"gallery","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1609722106056","source":"other"}

Pendidikan; Investasi Berharga Untuk Kemajuan Bangsa

FF24A3F2-9081-427E-BBC7-3104F8D0D23C

Masih Perlukah Guru Memberikan PR? Sebuah Pendekatan Baru Tentang Konsep Pekerjaan Rumah