Hubungi BungRam    

Suwarsih
{"subsource":"done_button","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1602029063151","source":"editor","origin":"gallery","source_sid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1602029375725"}

Suwarsih – ‘Manusia Bebas’ (Suara politik perempuan dalam karya roman)


  

Di era sebelum kemerdekaan RI, Indonesia memiliki sejumlah pejuang wanita yang berjuang  melalui tulisan. Salah satunya adalah Suwarsih Djojopuspito. Ia adalah salah satu penulis wanita / feminis Indonesia awal yang paling penting. Posisinya begitu kontras di antara penulis feminis Indonesia pertama. 

 

Suwarsih lahir di Cibatok Bogor pada tanggal 21 April 1912. Berasal dari keluarga sederhana.  Ayahnya Raden Bagoes Noersaid Djajasapoetra adalah seorang dalang wayang kulit berbahasa Jawa, Sunda, dan bahasa Indonesia, meski ia adalah seorang yang buta huruf.  Waktu kecil ‘Tjitjih’, nama panggilan Suwarsih bersekolah di Kartini School, bersama kakak perempuannya Nining, dari  tahun 1919-1926. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Mengeah Pertama MULO di Bogor tahun 1926-1929. Setelah itu, ia mendapatkan beasiswa penuh berupa pembayaran uang sekolah dan penyediaan asrama untuk bersekolah di Europeesche Kweekschool di Surabaya pada tahun 1929-1932 yang merupakan  sekolah guru Belanda saat itu dengan murid yang terdiri dari 2 orang pribumi dari 28  Ketika Suwarsih bersekolah di sana, hanya ada 2 orang pribumi dari 28 murid.

  

Suaminya adalah seorang guru dan juga kepala sekolah di perguruan Tamansiswa Bandung, di situ juga Suwarsih mengabdikan diri menjadi guru bersama suaminya. Suwarsih adalah sosok wanita pejuang yang amat mencintai tanah airnya dan rakyatnya. Sehingga pada suatu kesempatan, ketika ia mendapat tawaran untuk menjadi tenaga pengajar di salah satu sekolah milik Belanda,  Suwarsih lebih memilih mengajar di lembaga pendidikan milik pribumi dan aktif di organisasi ‘Perkoempoelan Perempoean Soenda’

 

Pada 1934, suami Suwarsih terkena larangan mengajar (Onderwijs Verbod) oleh Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Gubernur General Bonifacius Cornelis de Jonge. Namun kemudian pada 1935 larangan ini dicabut oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun yang sama, Suwarsih mendirikan sekolah Loka Siswa, namun sekolah tersebut terpaksa harus ditutup karena tidak ada murid. Ketika suaminya diterima bekerja sebagai guru di Tamansiswa Semarang pada 1936, Suwarsih pun ikut pindah ke kota tersebut dan bekerja di sekolah Drs. Sigit. Kemudian pada tahun 1938, ia pindah ke Bandung dan mengajar di Pergoeroean Soenda.

 

Sosok Suwarsih sebagai guru yang gigih dalam menyuarakan hak-hak pribumi pada masa penjajahan cukup membuatnya dikenal di kalangan aktifis pejuang kemerdekaan waktu itu. Ia menyuarakannya lewat sebuah novel yang diberi judul Buiten Het Gareel (di luar jalur), jika diterjemahkan artinya menjadi Manusia Bebas. Lewat novel itu Suwarsih ingin mengajak para pemuda untuk tabah dalam memperjuangkan kemerdekaan yang dipenuhi banyak kesulitan.

Buiten Het Gareel dengan latar waktu dekade akhir menjelang kemerdekaan menjadi satu penanda karya buatan perempuan di masanya. Novel berbentuk roman disebut sebagai karya yang  “ membahas masalah yang lebih luas dari poligami dan perkawinan paksa namun tak mengabaikan masalah yang jamak ditemui di eranya,” tulis Cora Vreede de Stuers dalam Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia. Manusia Merdeka memuat Nilai pengabdian Guru, penyebaran Nilai Nasionalisme, yang di menyinggung juga soal  kehidupan Bung Karno bersama Ibu Inggit Garnasih

 

Di dalam ‘Manusia Bebas’  ini, pesan-pesan Suwarsih tentang kesadaran akan nasionalisme, ajakan untukpercaya diri dengan memperjuangkan hak-hak pendidikan sendiri melalui sekolah  pergerakan pribumi disuarakannya begitu rupa. Ia angkat tokoh utama dalam novel yang kemudian diterbitkan dalam bahasa Sunda itu adalah pasangan suami-isteri, yang memilih profesi sebagai guru di sekolah kaum pergerakan. Sudarmo dan Sulastri.

 

Perjuangan Suwarsih yang ia suarakan dalam karya novel tersebut adalah “etalase” sejarah pergerakan kaum perempuan di zaman penjajahan Belanda. Ada penggalan kisah tentang pertarungan idealisme dengan kepentingan partai politik, kelentingan kaum penjajah. Ada kisah suara hati peremluan yang menentang budaya patriarki dan isyu poligami. Dan tentunya adalah gambaran kegigihan perjuangan membebaskan kaum pribumi dari kebodohan dengan didirikannya sekolah-sekolah “liar” di mana pada masa itu hanya anak-anak para penjajahlah yang bisa merasakan bangu pendidikan.

 

Setelah melalui proses panjang, Buiten Het Gareel akhirnya diterbitkan tahun 1940 dan cetak ulang tahun 1946. Karya Suwarsih dianggap penting di masanya. Cora Vreede de Stuers menyebut karya Suwarsih merupakan bentuk pelawanan pasif pada pemerintah Hindia Belanda yang kala itu sedang melakukan penghematan besar-besaran akibat dilanda krisis dan gencar menangkapi semua orang yang dianggap nonkooperatif. Alhasil, perjuangan kemerdekaan dilakukan lewat cara-cara halus seperti menulis roman atau mendirikan sekolah liar sebagai wujud kepedulian pada rakyat bawah yang tak sanggup menjangkau pendidikan.

 

————- 

Sumber tulisan:

https://historia.id/kultur/articles/menjadi-manusia-bebas-DAoWg/page/1

https://www.kompasiana.com/mw.arif/55001adfa33311e57250fafb/resensi-02-suwarsih-djojopuspito-manusia-bebas-dan-onderwijs-verbod

https://vc.bridgew.edu/jiws/vol19/iss2/15/

    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *