Hubungi BungRam    

Menemukan Tujuan Dalam Proses Pendidikan

Bagikan

Pendidikan

Menemukan tujuan dalam proses pendidikan – bagaimana membantu siswa menghubungkan aktifitas di sekolah dengan kehidupan sehari-hari?

 

 

“No matter what people tell you, words and ideas can change the world” [Robin William]

 

Ruang kelas sejatinya adalah medium interaksi antara siswa, guru dan beberapa orang lainnya yang terlibat dalam sebuah proses pembelajaran secara sistemik dan juga bebas. Bebas dalam artian bahwa seluruh siswa mampu menuangkan pikirannya dalam berbagai aktifitas yang diarahkan dan dikontrol oleh guru dengan tujuan-tujuan tertentu untuk menemukan berbagai hal baru dari pengalaman  belajar mereka.

 

Ketika para siswa beraktifitas dengan guru di kelas atau di sekolah, maka proses belajar sedang berlangsung secara alami dan juga melalui kondisi yang disengaja oleh para guru atau instruktur. Ketika siswa menghadiri aktifitas sekolah secara teratur, ia sedang membangun hubungan, membangun komunikasi, melatih skill berinteraksi satu sama lain. Secara bertahap proses itu kemudian menjadi pola dalam perilaku belajar atau gaya belajar siswa. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi mengistilahkannya sebagai “flow”, keadaan di mana orang begitu terlibat dalam suatu aktivitas sehingga tidak ada hal lain yang tampak penting; pengalamannya sangat menyenangkan sehingga orang akan melakukannya bahkan dengan konsekwensi atau beban  biaya.

 

Bagaimana pendidikan membantu para siswa menemukan tujuan-tujuan dirinya? Memberikan makna atas apa yang dilakukan secara rutin di sekolah sebagai aktifitas “flow” tersebut di atas, agar apa yang mereka alami, apa yang mereka ikuti, menerima arahan, instruksi dan lain sebagainya membantu menghadirkan sebuah konektifitas  yang baik, bermakna dalam hidup mereka?

Siswa Unggul Ketika Mereka Menemukan Tujuan—Bagaimana Guru Membantu Mereka? 

 

Dengan menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata, siswa mulai melihat diri mereka sebagai katalis untuk perubahan di dalamnya. Karena dampak dari pendidikan memang seharusnya adalah suatu perubahan. Mulai dari perubahan dalam diri individu pelajar, merangsang perubahan di sekitar lingkungannya, hingga perubahan yang lebih luas skalanya. 

 

Berikut salah satu contoh kisah yang dihasilkan dari efek menemukan tujuan bermakna dari aktifitas pendidikan. Sebuah kesadaran yang yang terkoneksi, terbentuk dan menemukan momen yang besar, bahkan menjadi sebuah peristiwa paling bersejarah di Amerika Serikat.

 

Dikutip dari laman guardian.com; terjadi pemogokan sekolah menengah sebagai reaksi terhadap ketidakadilan rasial dan kebrutalan polisi yang terjadi saat pengadilan Minneapolis mendengarkan argumen penutup dalam persidangan pembunuhan Derek Chauvin. Kota itu bersiap untuk vonis, dengan ratusan tentara penjaga nasional dikerahkan.

Protes mahasiswa diselenggarakan di Instagram oleh Aktivis Remaja Minnesota, sebuah kelompok lokal yang didirikan setelah protes George Floyd musim panas lalu. Siswa dari setidaknya 110 sekolah di seluruh Minnesota telah merencanakan protes untuk menghormati Daunte Wright pada hari Senin, kata kelompok itu.

Pada pukul 13:47, saat Daunte Wright ditembak delapan hari sebelumnya, ratusan remaja Minneapolis duduk bersama di tanah untuk menandai tiga menit mengheningkan cipta. Salju tipis telah turun mengenai  wajah mereka.

Raysean, 16 tahun,  seorang siswa di Sekolah Menengah Seni Fair, mengatakan bahwa dia telah menghabiskan tiga menit untuk memikirkan "perubahan yang akan kita buat".

 

Sebagai pemuda kulit hitam, katanya, dia harus datang ke protes, meskipun ibunya, khawatir tentang risikonya, telah mencoba meyakinkannya untuk tidak melakukannya. Dia ingin "berjuang untuk apa yang saya yakini", katanya.

“Sayang sekali anak-anak harus keluar dan berjuang untuk hidup kami,” kata seorang siswa dari sekolah menengah North Community kepada sedikitnya 600 anak muda.

Sementara banyak pembicara yang memimpin nyanyian adalah anak-anak berusia 16 tahun, beberapa penyelenggara dewasa juga berbicara, termasuk perwakilan dari NAACP setempat.

Setelah pembunuhan George Floyd, “Amerika tidak akan pernah sama lagi,” kata Kimberly Bernard, penyelenggara New York dengan Black Women's March. "Tidak ada jalan kembali seperti dulu."

Di Saint Paul, mahasiswa pengunjuk rasa, beberapa masih berusia enam belas tahun, mengatakan mereka frustrasi karena anggota parlemen negara bagian masih belum mengesahkan undang-undang reformasi kepolisian.

“Ada satu persidangan yang sedang berlangsung dan mereka membunuh seorang pria kulit hitam lainnya. Itu hanya menunjukkan bahwa [polisi] tidak peduli dengan kami,” kata Laniya Allen, 16 tahun. “Mereka tidak bersalah.”

Anisa Lewis, seorang siswa di Saint Paul Conservatory for Performing Artists, berkata: "Bagaimana saya bisa duduk di sekolah dan belajar tentang perang dunia II ... ketika saya bisa berada di sini untuk memprotes masa depan saya?" 

Hanya dua legislator negara bagian yang muncul untuk berbicara dengan para mahasiswa melalui pagar keamanan di sekitar gedung DPR.

“George Floyd dibunuh setahun yang lalu, di Minneapolis Selatan, dan sejak itu kami tidak melakukan satu hal pun di Capitol,” Senator Omar Fateh, yang mewakili distrik tempat George Floyd dibunuh, mengatakan kepada kerumunan mahasiswa.

“Kami sangat bersyukur memiliki Anda di sini hari ini. Kami tidak bisa sukses tanpa dukungan Anda,” kata Fateh, berbicara melalui pengeras suara yang dipagari di antara dia dan para aktivis muda.

Lewis mengatakan dia percaya bahwa jika anggota parlemen mengambil tindakan lebih cepat, Daunte Wright mungkin tidak terbunuh minggu sebelumnya.

"Kami bisa mencegah [kematian Wright] jika mereka bisa melakukan reformasi seperti yang mereka katakan," kata Lewis. “Kami telah melakukan bagian kami. Ini kesempatan mereka atau itu hanya sekumpulan kata-kata kosong.”

Beberapa guru bergabung dengan para remaja di protes ibukota negara bagian, tetapi mereka tetap berada di belakang kerumunan.

“Saya pikir mereka mampu berdiri dan memimpin dan kita perlu memberi mereka ruang itu,” Christina Efteland, seorang guru matematika di Upper Mississippi Academy (UMA), mengatakan. "Mereka memiliki banyak kekuatan sendiri."

Melihat mahasiswa mengorganisir protes membawa “rasa harapan dan juga rasa putus asa”, Jean Fawver, seorang guru pendidikan khusus di UMA, mengatakan. “Apakah semua ini akan menjadi masalah bagi George Floyd dan keluarganya? Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya.”

Aktivis mahasiswa di Minnesota juga mengadakan protes di Becker , Robbinsdale, Carlton , Saint Louis Park , South Saint Paul , Roseville , Moorhead , Maple Grove dan Red Wing , menurut posting media sosial.

Kelompok Aktivis Remaja Minnesota sebelumnya mengumpulkan lebih dari $80.000 untuk mendukung usaha kecil lokal yang rusak dalam protes musim panas lalu, kata salah satu penyelenggara.

Aksi protes para demonstran yang terdiri dari kalangan mahasiswa dan pelajar tingkat menengah tersebut adalah salah satu cara menemukan tujuan. Seluruh aktivis kemanusiaan di Minessotta memberikan inspirasi yang luar biasa. Tentunya ada keterkaitan erat dengan perjuangan diskriminasi RAS di Amerika Serikat. Dan menurut saya, itu adalah bagian yang seharusnya ada dari proses pendidikan – munculnya  kesadaran. Kesadaran akan persamaan  hak asasi, kesadaran tentang perjuangan melawan diskriminasi.

Para guru dan dosen yang tergabung dalam gerakan tersebut sedang memfasilitasi proses pendidikan yang paling substansial bersama para mahasiswa dan siswa menengah yang dalam aksi itu melibatkan diri, ikut berempati, ikut mengekspresikan perasannya masing-masing secara nyata dalam proses keadilan. Itulah salah satu indikator bahwa proses belajar di sekolah atau kampus memiliki konektifitas yang riil dengan kehidupan mereka yang sesungguhnya. Dengan itu para siswa menemukan tujuan dari belajar mereka. Itu keunggulan dalam pendidikan.

 

Berikut beberapa hal yang dapat guru lakukan bersama murid untuk membantu mereka menemukan tujuan mereka yang hakiki dalam belajar:

 

1.     Buat aktifitas sekolah yang mendorong peluang bagi peserta didik mengungkapkan hasrat dan menimbulkan dampak sosial.


Guru bisa secara langsung maupun secara virtual membangun sebuah partisipasi aktif bersama peserta didik dalam diskusi yang terarah, melakukan penelitian tentang isu-isu lokal yang mendesak, atau bekerjasama dengan pemerintah, para siswa ini tidak lagi melihat sekolah sebagai sesuatu yang terpisah dari “dunia nyata”, tetapi sebagai katalis untuk perubahan di dalamnya. Bahkan anak-anak kecil dapat berlatih berpartisipasi dan membentuk dunia [mereka] sendiri sebagai bagian dari kelas. Dengan demikian, mereka berlatih menyampaikan perasaan mereka tanpa tekanan, mereka berlatih mengungkapkan hasrat mereka dengan bebas, imajinasi mereka yang terkait dengan keterhubungan diri dengan lingkungannya. 

2.     Munculkan tujuan-tujuan baru yang relevan dalam belajar

Melihat tindakan seseorang berdampak pada orang lain adalah pemberdayaan. Menurut penelitian, terutama bagi siswa yang mungkin merasa kehilangan haknya oleh sistem dan institusi yang mendistribusikan kekuasaan secara tidak adil.  Seperti sebuah studi oleh peneliti terkenal David Yeager, seorang Associate Professor  Psikologi Perkembangan  di University of Texas di Austin, menemukan bahwa kemampuan  akademik dan minat siswa saling terkait. Siswa sekolah menengah yang diminta untuk menghubungkan tugas sekolah mereka dengan nilai-nilai dan hasrat pribadi mereka lebih cenderung bertahan bahkan ketika pekerjaan akademis menjadi menantang atau membosankan. Siswa yang sama ini melanjutkan untuk menyelesaikan kuliah dengan tingkat yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, struktur dan kurikulum sekolah yang terkesan ketinggalan zaman, atau tidak memperhatikan hasrat dan kesempatan siswa berekspresi, menentang masukan siswa, terutama yang paling terpinggirkan , cenderung menyebabkan menurunnya semangat belajar dan keinginan untuk mengembangkan diri dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.  

 

Langkah awal dalam menghubungkan siswa ke tujuan yang lebih besar dapat dimulai dengan  kegiatan diskusi terbuka mengenai isu-isu yang sedang hangat, berita sosial, politik dan lingkungan hidup, di mana semua suara mendapat kesempatan untuk didengar. Percakapan yang dikelola dengan inklusif, kesetaraan, akan memperkuat gagasan bahwa pembelajaran orang lain sama pentingnya dengan pembelajarannya sendiri, dan bahwa wawasan diperkuat oleh diskusi dan kritik kelompok—ini adalah suatu ide fundamental demokrasi.

Kemudian guru bisa melakukan percakapan yang membantu siswa menghubungkan sekolah dengan tujuan yang lebih besar dengan di luar sekolah. Selama diskusi kelas, murid-muridnya membuka tentang topik seperti permasalahan pandemi global Covid-19. Di mana dampaknya bukan saja kepada kesehatan dan kehilangan nyawa, namun juga kepada ekonomi dan pendidikan. Mereka bisa menceritakan keluarga, atau tetangga atau kerabat mereka yang terkena dampak dari pandemi Covid-19. Bagaimana bisa mengambil suatu pelajaran dari kejadian yang luar biasa di negara ini? Tentang kebijakan pemerintah, tentang sikap dan kepatuhan mereka dalam menjalankan ptotokol kesehatan. Bagaimana memahami pelajaran pendidikan jasmanai, olahraga dan kesehstan yang terkait dengan pandemi Covid-19 ini. Bagaimana melakukan proyek bersama secara digital untuk membantu korban Covid-19. 

Itulah tujuan-tujuan pembelajaran yang faktual dan relevan dengan kehidupan siswa. Guru tidak memaksa siswa memenuhi komletensi dasar dan tujuan pembelajaran yang sangat akademik dalam muatan kurikulum standar. 

Pelajaran apapun yang terkait dengan diskusi itu akan membuka ruang baru dalam pikiran mereka, dan menunjukkan tujuan-tujuan penting mengapa mereka harus membicarakan hal tersebut di sekolah.

3.     Bangun pondasi untuk sebuah keterlibatan sosial. 

Keberadaan manusia bergantung pada belas kasih dan rasa ingin tahu yang mengarah pada pengetahuan, tetapi rasa ingin tahu dan pengetahuan tanpa belas kasih adalah tidak manusiawi dan kasih sayang tanpa rasa ingin tahu dan pengetahuan tidak akan efektif." —Victor Weisskopf, fisikawan nuklir.

Tanggungjawab sosial adalah baguan penting yang perlu dikenalkan dan dipraktikkan oleh setiap siswa di sekolah. Ini mungkin tidak terlalu spesifik sebagai sebuah mata pelajaran, atau kita tidak sedang mengatakan bahwa belajar ilmu sosial di sekolah tidak serta merta siswa belajar dan melakukan tanggungjawab sosial. Saya menempatkannya berbeda. Mengapa demikian? Karena menurut saya tanggungjawab sosial tidak sama dengan belajar ilmu sosial. Tanggungjawab sosial adalah suatu keterlibatan aktif, yang diawali dengan pengetahuan dan “keresahan”. 

Perhatikan fakta-fakta tentang masalah kepedulian sosial dan lingkungan. Betapa banyak orang yang menyandang gelar sarjana sosial atau ilmu tentang kingkungan tapi tidak peduli terhadap permasalahan masyarakat dan lingkungan. Itu karena mereka jarang atau tidak pernah terlibat dengan gerakan sosial atau gerakan peduli lingkungan.

Jadi, kesadaran dan rasa tanggungjawab sosial perlu dibangun sejak dini di dalam aktifitas sekolah, untuk memperkuat pondasi pemikiran dan menjadi sebuah pola untuk mau terlibat dalam aksi sosial atau aksi lingkungan.

Siswa dapat dan harus diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam peristiwa penting di dunia mereka. Sebagai guru, harus mampu memancing pertanyaan yang menarik perhatian siswa dan juga suatu keresahan atas problematika yang terjadi secara nyata di kehidupan mereka saat itu. Itu menciptakan peluang yang sangat kuat bagi siswa, baik di kelas dan kemudian meluas ke dunia yang lebih luas di luar sekolah. Mereka dapat belajar memahami proses pengambilan keputusan kelompok dan proses politik. Dan, kita dapat menyusun cara bagi mereka untuk berpartisipasi dalam pengalaman terlibat secara nyata dengan masalah tersebut. Misalnya:


a.     Membuat proyek sosial

b.     Membuat proyek aksi peduli sampah

c.     Membuat kampanye mengurangi sampah plastik

d.     Membuat surat / petisi kepada pemerintah daerah tentang masalah yang terjadi di lingkungan masyarakat

e.     Membuat gerakan solidaritas anak-anak autis

f.      Melakukan fundraising untuk korban bencana alam

g.     Melakukan fundraising untuk anak-anak penderita penyandang disabilitas. 

h.     Melakukan gerakan peduli trotoar bagi pejalan kaki 

   

4.     Menjadikan sekolah sebagai katalis perubahan 

Menurut Merriam-Webster, katalis adalah sesuatu yang “memprovokasi atau mempercepat perubahan atau tindakan yang signifikan.” 


Encyclopedia Brittanica menjelaskan bahwa dalam kimia, katalis adalah zat apa pun yang meningkatkan laju reaksi tanpa dikonsumsi sendiri. Misalnya, enzim adalah katalis alami yang bertanggung jawab atas banyak reaksi biokimia. Dengan bantuan katalis, molekul yang tadinya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bereaksi kini hanya butuh beberapa detik.  Katalis meningkatkan kecepatan perubahan sesuatu, mendorongnya ke depan, memberinya momentum. 


Sekolah sebagai medium proses mendidik untuk mampu menghadirkan perubahan dalam diri peserta didik membutuhkan serangkaian upaya yang signifikan sehingga mampu menjadikannya katalis untuk perubahan yang signifikan selama pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. 


Melalui berbagai aktifitas, guru dapat membangun sikap yang mendorong kemauan peserta didik untuk berubah, memahami berbagai perubahan dan mendorong suatu perubahan. Melibatkan orangtua pada sekolah dasar juga bisa dijadikan momentum mengajak mendorong suatu perubahan. Membuat kegiatan bersama komunitas untuk sekolah menengah juga mampu memupuk kesadaran untuk mau bertindak dengan penuh tanggungjawab. Di era digital sekolah bisa memfasilitasi kegiatan bersama melalui media sosial. Membuat aplikasi digital yang berkaitan dengan gerakan sosial. Semuanya dihubungkan dengan proyek kelas.

Dengan demikian pada akhirnya, semua peserta didik belajar tentang dukungan apa yang dibutuhkan,  bagaimana menggalang dukungan untuk sebuah aksi positif yang berdampak sosial.  [BungRam-10082021]

Recomended

18FEFC71-895F-4D79-BCFB-666CFC088C9D

Sakit Secara Sosial, Perspektif Neurosains

Rasa sakit sosial disebabkan oleh peristiwa seperti merasa dikucilkan dari hubungan atau aktivitas sosial, penolakan, penekanan, penyakit atau kematian orang yang dicintai, perpisahan atas hubungan asmara.Studi baru menemukan bahwa rasa sakit sosial mengaktifkan sirkuit otak yang serupa apakah seseorang menderita secara pribadi atau jika mereka mengalami rasa sakit sosial lain. Dari sudut pandang evolusi, respons rasa sakit ini melindungi individu tetapi juga memperkuat konektivitas sosial yang melindungi secara kolektif.


Pada Februari 2014 sebuah Penelitian berjudul, “Empathy for Social Exclusion Involves the Sensory-Discriminative Component of Pain: A Within-Subject fMRI Study” pada Sekolah Internasional untuk Studi Lanjutan (sissa) dari Trieste,  diterbitkan dalam jurnal Cognitive Sosial dan Afektif Neuroscience; studi baru oleh Dr. Giorgia Silani dan rekan ini inovatif karena mengadopsi prosedur eksperimental yang lebih realistis daripada yang digunakan dalam eksperimen sebelumnya yang membandingkan nyeri fisik dan sosial. Silani berkata, "Eksperimen klasik menggunakan prosedur bergaya di mana situasi pengucilan sosial disimulasikan dengan kartun. 

Selengkapnya

6B75CCAB-9917-42E7-8522-525F5A4F859A

Menolak Vaksin COVID-19, Antara “Taqlid” Buta dan Sikap Keberagamaan Rasional

Seorang teknisi bengkel berumur 25 tahun di bilangan Jatinegara Jakarta Timur, menyatakan bahwa COVID-19 itu sebenarnya tidak ada, ia tak percaya COVID-19 sejak awal virus ini muncul dan membuat  zona merah hampir seluruh wilayah Indonesia. Ia menyebut “COVID-19 sebetulnya kayak sakit biasa.” Ia berkata orang yang takut terhadap virus ini “lebay”. “Ada yang jauh lebih mengerikan kayak kanker, serangan jantung, atau yang lain,” katanya. Ia mencontohkan kasus-kasus yang memperkuat keyakinannya, “Kan ada, tuh, yang nggak bergejala dan akhirnya bisa sembuh. Itu bukti juga kalau aslinya COVID-19 ini sama kayak penyakit-penyakit masuk angin. Dan selain itu, yang rawan kena juga orang-orang berumur tua.” 

Selengkapnya

Nice to read
275A6C13-28AA-4FBD-8779-E29DDF339284
10 hal menjadikan anak sukses
6FDD9364-A304-40D6-9324-E8D46313A80C
Mendidik anak mematuhi aturan
C02D73CA-AAF6-4B9D-8B1F-D4F89DF08F1E
Tips mengelola rutinitas pagi bersama anak
18FEFC71-895F-4D79-BCFB-666CFC088C9D
Sakit Secara Sosial, Perspektif Neurosains
6B75CCAB-9917-42E7-8522-525F5A4F859A
Menolak vaksin Covid-19
1003F8EA-FA1F-459D-BA8B-9252A804E2FF
Fakta menarik tentang orang kidal
BF90FB4E-EA91-4384-946C-F7DB89F59344
Pelajaran sejarah, pintu pendidikan politik generasi bangsa
C5BCFDFC-AD86-4A73-9738-3F04E3AAED5F
Pendidikan lingkungan hidup
142A8464-1D3C-4BE2-88A5-917615D1858A
Merdeka dari penjara kesenangan orang lain

Tulisan tentang humaniora lainnya