Hubungi BungRam    

Menjadi Merdeka

Bagikan

Politik

Menjadi Merdeka, Menjadi Diri yang Berani Bertindak dan Berpikir Mandiri

 

 

HUT RI Ke-76 17 Agustus 2021 kembali diperingati di tengah pandemi COVID-19. Suasana prihatin, keterbatasan dan rasa tidak nyaman masih menyelimuti seluruh bangsa di saat memperingati hari kemerdekaan yang usianya sudah lebih dari ¾ abad ini.

 

Tema yang diusung pada perayaan kemerdekaan tahun 2021 ini adalah "lndonesia Tangguh lndonesia Tumbuh" dengan empat poin utama dari tema yang diambil, yaitu:


   1. Stabilitas dan Pembangunan

   2. Gerak dan Pertumbuhan

   3. Ruang Kebersamaan, serta

   4. Persatuan dan Harapan

 

Tentunya peran serta masyarakat dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bertanah air amatlah penting demi mewujudkan bangsa Indonesia yang tangguh, karena bisa tumbuh, bisa berkembang, berdaulat di negeri sendiri, bebas dari berbagai tekanan dan pengaruh asing yang membuat sebagian pemimpin negeri ini sulit menjadi diri sendiri, menjadi mandiri sebagai pengurus pemerintahan yang berdaulat.


Saya ingin mengutip dalam tulisan singkat ini cerita salah satu ‘pendiri bangsa’ yang kiprahnya cukup besar dan pikirannya sangat cemerlang dalam berkontribusi terhadap perjuangan kemerdekaan. Meski namanya jarang disebut dalam cerita perjuangan kemerdekaan di kalangan murid-murid sekolah. Dialah Tan Malaka. 


Tan Malaka adalah salah satu bapak bangsa yang sangat radikal, revolusioner, namun misterius. Kemisteriusan jejak beliau itulah yang mungkin menjadikan sosok guru dan pejuang itu sangat jarang terdengar sejak dahulu di lembaran buku sejarah nasional, atau di buku sejarah sekolah. Tan Malaka juga seorang ideolog, orator, dan tanpa kompromi dengan penjajah. Ia juga dijuluki sebagai "Bapak Republik Indonesia", karena ia adalah tokoh pertama yang mengemukakan konsep negara Indonesia dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia  (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1924, mendahului konsep Hatta dan Soekarno. Pendiriannya tergambar dalam ucapannya yang terkenal "Orang tak Akan Berunding dengan Maling di Rumahnya" atau "Merdeka 100 persen", yang membuat ia berseberangan dengan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir di kemudian hari.


Pemikiran Tan Malaka tentang kemerdekaan dan kemandirian bangsa dari tekanan dan kendali (perbudakan) penjajah banyak dituangkan dalam bukunya yang terkenal ‘Gerpolek’.

Buku itu ditulis buku yang ditulis ketika Tan Malaka sedang meringkuk di dalam penjara Madiun. Tulisan tersebut adalah hasil dari kekecewaannya terhadap situasi bangsa pada waktu itu dimana menciutnya wilayah Indonesia akibat negara boneka yang dibuat oleh Belanda. 

 

Seluruh buku itu adalah hasil pemikiran, pengetahuan dan semangat kepemimpinan Tan Malaka untuk menjaga negara Indonesia dari segala bentuk kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Buku itu juga mengusulkan pendirian sistem ekonomi yang didasarkan pada produksi oleh rakyat untuk menghadapi gempuran Belanda agar Indonesia juga dapat menjadi negara yang berdikari.  Didalam buku juga dituliskan apa fungsi sesungguhnya dari Gerpolek itu, Tan Malaka menuliskan bahwa Gerpolek adalah sebuah senjata untuk membela Proklamasi 17 Agustus dan melaksanakan kemerdekaan yang 100 persen. (Tan Malaka, GERPOLEK (1948) Moerhan Collection, hal.11)

 

Perbedaan pandangan antara Tan Malaka dengan Soekarno tentang proses proklamasi kemerdekaan menggambarkan tentang perbedaan cara berpikir dan strategi yang diterapkan untuk meraih kemerdekaan. Soekarno lebih menutamakan negosiasi, sementara Tan Malaka menganggap pemikiran Soekarno mengenai langkah untuk mencapai kemerdekaan sebagai ketidakmandirian melalui perundingan (karena saat itu Jepang sudah dianggap menyerah kepada sekutu) dan menunggu untuk “diberi” oleh pemerintahan Jepang. Bagi Tan Malaka, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya (100%) dari Belanda dan Sekutu-sekutunya, tanpa itu nonsens.

 

Pada saat Tan Malaka di Bayah Banten, Soekarno dan Hatta menyampaikan pidato tentang kemerdekaan Indonesia, di pertemuan itu, Tan Malaka yang masih menyamar dengan nama Ilyas Husein mengatakan “Pidato itu tak berapa bedanya dengan berlusin-lusin yang diucapkannya di rapat raksasa dan radio... Sari isinya ialah cocok dengan kehendak Jepang penjajah: 'Kita mesti berbakti dulu kepada Jepang, saudara tua, yang sekarang berperang mati-matian menantang Sekutu yang jahanam itu. Setelah Sekutu kalah maka kita oleh 'saudara tua' akan diberi kemerdekaan..." (https://www.merdeka.com/peristiwa)

 


Kemerdekaan dan kemandirian

 

Prinsip hidup merdeka adalah terbebasnya diri dari setiap penjajahan, baik penjajahan dalam bentuk penguasaan atas hak dan kebebasan, maupun penjajahan dalam bentuk pemasungan, pembatasan dan tekanan, baik secara fisik, psikis, bahkan dalam berbagai sisi kehidupan seperti ekonomi, sosial, maupun politik.

 

76 tahun kemerdekaan RI telah dilewati, tujuh pemimpin telah dan sedang menjalani proses perjalanan pasca kemerdekaan, mengelola negara dengan berbagai corak, strategi politik dan pemikirannya yang beragam tentang bagaimana menjalani pemerintahan di  negara kepulauan ini.

 

Hal yang mutlak harus menjadi penopang kemerdekaan adalah kemandirian. Kemandirian sebagaimana gambaran Tan Malaka adalah terbebasnya dari kekangan, pengaruh atau iming-iming pihak lain yang justru menjadikan diri kita tidak seratus persen merdeka. Baik secara finansial, politik dan dan kehidupan ekonomi bangsa.


Soekarno memiliki prinsip ‘Trisakti’ dalam visi kemerdekaan, yaitu ‘berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan kepribadian secara budaya’. Hal itu akan terwujud jika bangsa ini tidak mandiri secara politik, ekonomi, maupun budaya.  Sekaya apapun bangsa ini, lanjutnya, bila bergantung kepada orang lain, tetap tidak akan mandiri. Oleh karena itu, kemandirian merupakan bentuk penegasan dari sebuah kemerdekaan. 

 

Republik Indonesia di usianya yang ke-76 ini harus bisa mandiri, baik dalam urusan politik, apalagi ekonomi. Tanpa kemandirian, tanpa keseriusan untuk bisa menentukan, berani bertindak dan berpikir secara mandiri, Indonesia akan terus berada dalam pengaruh dan kontrol negara asing. Dan kitapun kemudian menjadi tahu bahwa dampak negatif yang yang muncul adalah ketidakadilan. Dalam perlakuan dan kebijakan. 

 

Merdeka adalah keterbebasan dari “perbudakan” dalam bentuk yang konvensional maupun modern.

 

Pada saat  Revolusi Amerika (1775-1783), status orang-orang keturunan Afrika diresmikan sebagai ‘budak’ melalui kelembagaan kasta. Selama dan segera setelah Revolusi, undang-undang abolisionis disahkan di sebagian besar  dan sebuah gerakan dikembangkan untuk menghapus perbudakan. Peran perbudakan di bawah Konstitusi Amerika Serikat (1789) adalah isu yang paling diperdebatkan selama penyusunannya. Meskipun pencipta Konstitusi tidak pernah menggunakan kata "perbudakan", dokumen terakhir memberi pemilik budak kekuatan politik yang tidak proporsional. (Dauglass, Frederick -1849) “The Constitution and Slavery’.   

 

Melalui pidatonya yang terkenal dengan ‘Pidato 4 Juli’, Frederick Douglass, seorang Abolisionis menyampaikan tentang efek perbudakan; “Ini membelenggu kemajuan Anda; itu adalah musuh perbaikan, musuh pendidikan yang mematikan; itu menumbuhkan kebanggaan; itu melahirkan kekurangajaran; itu mempromosikan kejahatan; itu melindungi kejahatan; itu adalah kutukan bagi bumi yang mendukungnya…” lihat pidato lengkapnya di Frederick Douglass “What to the Slave Is the Fourth of July?” (1852) .


Kemerdekaan yang hakiki adalah kebebasan dan kemandirian untuk menentukan nasib sendiri, arah dan tujuan hidup sendiri, keinginan untuk maju dan berkembang secara mandiri, tanpa dipengaruhi oleh pihak lain. Meskipun nantinya kerjasama secara kolaboratif diperlukan, tapi bukan sebagai bagian dari keterikatan yang menekan, memonopoli dan menguasai. Itulah inti dari kemerdekaan.


Dan pada akhirnya setiap langkah mengisi kemerdekaan adalah upaya perjuangan yang mengharuskan penghapusan bentuk apapun dari penindasan, baik secara konvensional maupun modern. Penindasan secara modern adalah dibentuknyankekuatan global yang mndominasi setiap sisi kehidupan berbbangsa dan bernegara secara insternasional. Maka pemimpin harus berjuang kembali untuk keluar dari penindasan yang modern tersebut. Sehingga seluruh rakyat bisa merasakan apa itu merdeka, apa itu sejahtera dengan kekayaan negeri, bagaimana mereka bisa maju dan berkarya di negaranya sendiri.


Kemerdekaan nasional adalah bukan pencapaian akhir, tapi rakyat bebas berkarya adalah puncaknya. (Sutan Syahrir)


[BungRam-18082021]

Nice to read
{"uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1625403749532","source":"other","origin":"unknown"}
Ruh Guru
6FDD9364-A304-40D6-9324-E8D46313A80C
Mendidik anak mematuhi aturan
72426996-9FC7-4820-807B-3A6099D47335
Parenting Abad 21
18FEFC71-895F-4D79-BCFB-666CFC088C9D
Sakit Secara Sosial, Perspektif Neurosains
0267EEB2-9E9D-43E0-BC0E-846606C161E6
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Positif Selama Pandemi
1003F8EA-FA1F-459D-BA8B-9252A804E2FF
Fakta menarik tentang orang kidal
BF90FB4E-EA91-4384-946C-F7DB89F59344
Pelajaran sejarah, pintu pendidikan politik generasi bangsa
C5BCFDFC-AD86-4A73-9738-3F04E3AAED5F
Pendidikan lingkungan hidup
142A8464-1D3C-4BE2-88A5-917615D1858A
Merdeka dari penjara kesenangan orang lain

Recomended

F44C29FF-437F-4191-A4A2-E0767410FF8F

Ruh Guru-#2 Kesabaran

Manusia mempunyai dua dimensi kepribadian. Pertama, yang disebut dengan al-bu’dul malakuti atau dimensi kemalaikatan yang berasal dari alam malakut. Ada satu bagian dalam diri kita yang membawa kita ke arah kesucian, yang mendekatkan diri kita kepada Allah. Dimensi ini mendorong kita untuk berbuat baik, membuat kita tersentuh oleh penderitaan orang lain, dan mengajak kita untuk membantu mereka yang memerlukan bantuan. Dengan kata lain, dimensi ini adalah sisi kebaikan yang ada dalam diri manusia. Dimensi kedua, adalah dimensi kebinatangan atau al-bu’dul bahimi. Dimensi inilah yang mendorong manusia untuk berbuat buruk, membuat hati kita keras ketika melihat penderitaan orang lain, dan menimbulkan rasa iri kepada orang lain yang lebih beruntung. Dimensi ini juga menggerak-kan kita untuk marah dan dendam kepada sesama manusia. Inilah sisi buruk dalam diri manusia. Di dalam al Quran ada juga istilah ‘an nafsul muthmainnah, dan an  nafsul lawwamah’. 

Selengkapnya

B2D24E12-BB46-4126-B98C-E68C1EAF4995

Memahami konteks “al khonnas” di era digital

Istilah ‘al khonnas’ bisa kita tarik ke dalam terminologi konsep buzzer dalam hal perannya mendengungkan melalui berita, opini, atau memengaruhi orang lain untuk menarik perhatian atau membangun percakapan, lalu bergerak dengan motif tertentu. Dan dalam komunikasi digital, kegiatan mendengungkan itu bisa disebut “waswas” – sebagaimana di  dalam surat an Naas ayat ke-4. 


Secara etimologi al khonnas artinya  kembali, mundur, bersembunyi. Kata yang digunakan dalam kalimat pada ayat ke-4 surat an Naas mengandung makna sering kali atau banyak sekali. Dengan demikian makna ‘al khonnas’ dimaknai oleh ulama tafsir, setan yang sering kali kembali menggoda manusia pada saat sedang lengah dan melupakan Allah. Sebaliknya, setan sering kali mundur dan bersembunyi saat manusia berdzikir dan mengingat Allah. 

Selengkapnya

Tulisan tentang parenting lainnya