Hubungi BungRam    

Bagaimana melatih anak berpikir kritis?

Bagikan

Di antara percakapan antara guru dengan murid dalam bentuk tanya jawab adalah “apa yang kamu kerjakan?”  “apakah kamu sudah mengerti tentang topik belajar kita hari ini?” “Sebutkan hal-hal berikut!” “Apa artinya kata itu?”.

 

Pertanyaan orangtua kepada anaknya; “kamu sudah mengerjakan PR?”, “Mamah harap kamu segera pergi tidur, agar esok bangun lebih awal, sebelum itu, apakah kamu sudah menyiapkan buku pelajaranmu?”, “maukah kamu mendengarkan dan mengikuti nasihat Ayah?”

 

Banyak orangtua melakukan komunikasi, baik itu dalam bentuk pernyataan ataupun pertanyaan, mengambil sebagian besar bentuk tanya dan kalimat yang tidak memerlukan anak memperhatikan atau menimbang perkataan, melakukan analisis dan membentuk satu pemikiran baru dari jawaban atau respons yang akan ia kemukakan.

 

Komunikasi satu arah antara guru kepada murid atau Mamah kepada anak, sering menjadi alat efektif guru atau orangtua memastikan bahwa anak mengerti intruksi, menangkap pesan dan menunjukkan ketaatan sempurna. Namun komunikasi satu arah kurang memfasilitasi anak mengoptimalkan beberapa kemampuan berpikir kritis seperti menganalisis, mengevaluasi, hingga memecahkan masalah melalui proses menalar. 


 Apa itu berpikir kritis?

 

Berpikir kritis – critical thinking, adalah salah satu keterampilan utama yang harus dikuasai oleh anak-anak menuju kedewasaannya. 

 

Berpikir kritis adalah menganalisis fakta untuk membentuk suatu penilaian.  Subjeknya kompleks, dan terdapat beberapa definisi yang berbeda , yang umumnya mencakup analisis rasional, skeptis, tidak bias,  atau evaluasi bukti faktual . Berpikir kritis adalah latihan berpikir mandiri , disiplin diri, dan pemantauan  diri sendiri , dan mengoreksi diri .  Ini mengandaikan persetujuan terhadap standar keunggulan yang ketat dan  perintah penuh perhatian untuk menggunakannya. Ini memerlukan komunikasi yang efektif dan kemampuan pemecahan masalah serta komitmen untuk mengatasi egosentrisme dan sosiosentrisme.

 

Keterampilan berpikir kritis tentu perlu ditanamkan, dilatih dan diasah sejak kanak-kanak. Di antaranya membiasakan berkomunikasi dua arah, mengajak berdiskusi dengan memberikan pertanyaan yang membutuhkan jawaban tidak singkat seperti apakah kamu…? Iya/tidak.

 

Selain membiasakan berkomunikasi dua arah, bertanya dengan pertanyaan terbuka, guru ataupun orangtua bisa membuat aktifitas bersama anak, baik dalam bentunpercakapan, ataupun dalam bentuk kegiatan untuk melatih dan mengasah keterampilan berpikir kritis.

 

Anak yang kuat muncul dari rumah yang memberikan dukungan penuh dalam proses belajar berpikir. Mendukung budaya dialog dan memecahkan masalah dengan cara-cara yang rasional. Ada beragam aktifitas yang bisa dilakukan orangtua bersama anak untuk melatih anak berpikir kritis.

1. Jadikan berpikir kritis sebagai kebiasaan

Apakah Anda  berpikir kritis tentang berita, atau berpikir kritis tentang musik, makanan, dan video game. Biasakan anak tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Biasakan juga anak bertanya dan mempertanyakan apa yang dilihat dan dialami.  

Berlatih berpikir kritis di lingkungan rumah, dengan teman, membaca buku pilihan sendiri, di media sosial, dan banyak lagi - adalah strategi yang berguna untuk membangun otot kognitif mereka.

2. Diskusikan  segalanya!

Diskusi membantu anak belajar melihat penjelasan alternatif — bagus untuk menganalisis hasil eksperimen — dan juga dapat mengembangkan keterampilan komunikasi alami. Dengan diskusi juga anak juga belajar menerima kritikan dan bebas menyampaikan pikirannya sendiri, mengatakan ketidaksetujuannya atas pendapat lain. Anak belajar untuk melihat adanya perbedaan pendapat, dan merasa nyaman serta menghargai perbedaan. Dengan diskusi orangtua atau guru menanamkan sikap jernih melihat persoalan dan terbuka. Sikap itu amat dibutuhkan untuk menaiki tangga berpikir kritis..

3. Menyediakan akses ke bahan bacaan yang beragam dan berkualitas

Dan kemudian beri mereka waktu untuk membaca berbagai literatur sesuai usianya, dan mendiskusikan bacaan tersebut. Bahkan meminta anak untuk membuat klaim berdasarkan bacaan dan mendukung klaim tersebut dengan bukti.

4. Berlatih penalaran Klaim-Bukti

Klaim-Bukti-Penalaran. Ketika mereka membuat klaim, mintalah bukti mereka untuk membangun kebiasaan analitis pikiran. “Ayah saya melakukan ini setiap malam saat makan malam”. “Aku pernah membaca bahwa menurut sains hal itu tidaklah begitu adanya”.

5. Bantu mereka belajar dari berbagai sumber

Bantu mereka melihat bahwa belajar adalah pola pikir – sebagaimana sains dan pemikiran kritis. Mereka tidak harus hanya belajar dari 'sekolah' atau buku, tetapi alam, percakapan, permainan, dan observasi. Kemudian bantu mereka membuat klaim dan memberikan bukti untuk klaim tersebut sebagai hasilnya

6. Mainkan game

Video game adalah harta karun dari peluang berpikir kritis - jika tidak ada alasan lain selain banyak siswa menikmati bermain dan memikirkannya. Bermain game juga (tentu dengan porsi yang tidak berlebihan) melatih anak belajar tentang peluang dan probabilitas. Mengajaknya berpikir taktis da strategis. Dari game juga anak belajar sebuah realitas, bahwa setiap orang bisa menang bisa kalah, dan kekalahan bukan hal yang buruk sehingga kita tidak boleh gagal. Karena justru kegagalan membuat kita belajar dan berpikir lebih baik. 

Tentu saja, Anda tidak harus menggunakan video game. Ajari mereka bermain Catur! Kenalkan juga ‘board game’  strategi lainnya yang membangun pemikiran kritis analitis. 

7. Jadikan berpikir kritis sebagai sebuah permainan

Jadikan berpikir kritis sebagai semacam permainan. Gunakan teknik memperhatikan dan membandingkan mana yang cocok dan tidak ccocok. Dalam satu percakapan latih daya tangkap anak dengan sesuatu yang dekat dengan pengalaman dia untuk menunjukkan apakah satu hal itu benar menurut dia, jika benar minta alasannya, jika tidak benar juga minta dia menyebutkan alasannya.  

8. Ajarkan berpikir kritis sebagai pola pikir

Memahami bahwa berpikir kritis adalah sejenis pola pikir daripada hanya ‘keterampilan’ dapat membantunya menjadi semacam kebiasaan. Hal ini benar sebagian karena berpikir kritis memberikan penalaran sebuah tujuan dan nada – yang bisa menjadi sulit tanpa jenis pola pikir yang lincah secara kognitif dan kreatif yang mendorong pemikiran kritis.

Dengan kata lain, pemikiran kritis muncul lebih alami di beberapa kondisi pikiran (menyenangkan, aman, ingin tahu, dan berdaya) daripada yang lain (diarahkan, dipantau, dipaksakan, dan dievaluasi).

Manfaat dari berpikir kritis

Gali manfaat berpikir kritis dan lakukan dengan cara yang dapat dipercaya oleh anak-anak daripada mendukung manfaat dari berpikir kritis 25 tahun dari sekarang. Orangtua bisa menghadirkan cerita nyata di sekitar mereka tentang manfaat berpikir rasional, kemudian apa kaitannya dengan berpikir kritis. Salah satunya dengan menggali cerita rakyat, di mana itu adalah bagian dari mitos, bagus untuk sekedar tambahan khasanah budaya lokal, namun jelaskan bahwa hal tersebut sejatinya tidak ada dalam kehidupan nyata.

Berpikir kritis adalah bagian dari seni mendidik komunikasi dan appersepsi dalam perilaku. Orangtua yang memiliki latar belakang budaya dan kebiasaan keluarga secara turun temurun tentu punya banyak pilihan yang sesuai dengan kondisi rumahnya. Hubungan sekolah rumah tentu juga harus dijadikan satu rute untuk menanamkan dan melatih kemampuan berpikir anak secara rasional dan kritis. Oleh karenanya membangun kerjasama antara orangtua dengan guru menjadi satu media yang dapat mengukur kapasitas berpikir anak.

[BungRam – 29052021]

 


 

Memaksimalkan Tipe Kecerdasan Majemuk

Pendidikan yang memerdekakan

Tips mengelola rutinitas pagi