Hubungi BungRam    

Ruh Guru – #2

Bagikan

Kesabaran

"Jadikan sedekah sebagai pelindungmu, zakat sebagai bentengmu, rasa malu sebagai pemimpinmu, kesabaran sebagai menterimu, tawakkal sebagai tamengmu.” 

Imam Syafi'i.


Dalam sebuah kisah, suatu ketika ada seorang raja besar, yang bepergian sendirian di hutan. Kemudian ia tersesat dan melihat sekeliling dari puncak bukit,  tetapi tidak dapat melihat orang atau desa di dekatnya. Hari mulai gelap. Setelah beberapa waktu, dia melihat semacam cahaya di kejauhan. Dia mulai berjalan ke arah itu dan segera mencapai sebuah gubuk. Di luar gubuk, ada seorang wanita tua yang sedang membersihkan tempat itu. Setelah melihat raja, dia menyambutnya tanpa mengenali siapa sesungguhnya orang tersebut. Wanita tua itu dengan berpikir bahwa laki-laki asing itu  adalah seorang prajurit dari pasukan Raja yang tersesat di hutan.Dia memberi raja air untuk membersihkan dirinya dan air untuk diminum. 

Dia kemudian membentangkan tikar baginya untuk beristirahat. Rajapun mulai duduk meredakan lelahnya. Setelah beberapa waktu, dia memberi raja makanan, namun masih dalam keadaan panas, lalu meletakkannya di hadapannya. Raja yang merasakan sangat lapar dengan cepat meletakkan jarinya di atas makanan panas. Makanan panas membakar jari-jarinya, rajapun kesakitan dan menumpahkan nasi ke lantai secara spontan. Wanita tua itu melihat  dan berkata, “Oh, kamu tampak terlalu tidak sabar dan tergesa-gesa seperti rajamu, itu sebabnya jarimu terbakar dan kehilangan makanan”. 


Mendengar kata-kata wanita tua itu, raja terkejut dan bertanya kepadanya “mengapa menurutmu raja kita tidak sabar dan tergesa-gesa?.”Wanita tua itu tersenyum dan mulai menjelaskan kepadanya. “Anakku sayang, raja kita memiliki mimpi besar untuk merebut semua benteng musuhnya. Selama proses tersebut, dia mengabaikan benteng kecil musuhnya dan berusaha merebut hanya benteng besar.”


Raja menyela wanita tua itu dan berkata, “Itu hal yang baik, benar. Apa masalahnya dengan itu?”.Dia tersenyum dan menjawab, “Tunggu, anakku. Seperti ketidaksabaran Anda dalam memakan makanan, Anda membakar jari-jari Anda lalu menyia-nyiakannya.  Demikian pula, ketidaksabaran raja untuk mengalahkan musuh dengan cepat, menyebabkan dia kehilangan orang-orang di pasukannya serta membuatnya khawatir.


Jadi, jika saja tadi Anda makan makanan di tepi piring terlebih dahulu  yang lebih dingin, dan kemudian di tengah, Anda tidak akan membakar jari Anda dan juga tidak membuang makanan Anda. Demikian pula, raja harus menargetkan benteng-benteng kecil dan memperkuat posisinya sebelum merebut benteng yang lebih besar tanpa kehilangan orang dari pasukannya”.Mendengar ini, raja memahami kesalahannya dan menyadari bahwa seseorang harus memiliki kesabaran dan menghindari tergesa-gesa dalam situasi apa pun.

Pesan moral: 

Ketika Anda ingin mencapai sesuatu dalam hidup, pahami dulu proses Apa yang diperlukan untuk mencapainya dan kerjakan. Sebaliknya, jika Anda mencari hasil yang cepat, Anda akan menjadi tidak sabar dan tidak pernah mencapai apa yang Anda inginkan dalam hidup Anda.  Kisah raja di atas sering terjadi di kehidupan kita sekarang. Banyak orang ingin sukses tanpa melalui proses. 


Kita sering terpedaya dengan success story para orang hebat dunia, para pemimpin sukses dan orang kaya dalam sejarah, tapi hanya melihat di ujung kisah, saat mereka dikenang sebagai orang sukses atau orang kaya. Dengan itu kita lalu  bekerja sedemikian rupa untuk menggapai sukses tanpa mau belajar, tanpa mau menempuh jalannya yang sering panjang dan melelahkan. Itulah ketiadaan sikap sabar dalam menempuh kehidupan. Dunia pendidikan adalah ‘dunia proses’.  Saya sering katakan dalam berbagai kesempatan, “kebanyakan guru ingin muridnya pintar, ingin muridnya bisa, ingin muridnya  mencapai kesuksesan belajar (dengan standar nilai) secara instan, tanpa memahami bahwa setiap anak itu memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing, maka mendidik dan mengajar tidak bisa  tuntas di tahun kita bertugas”. 


Maksudnya guru terlalu egois dan ambisius untuk menempatkan setiap muridnya pada tempat yang sama sesuai keinginannya, dengan demikian itu adalah hasil kerja yang ia ingin capai selama setahun atau masa belajar di satu tingkat pendidikan. Padahal anak-anak itu masih punya waktu dan kesempatan  untuk melanjutkan hidupnya tanpa didampingi guru tersebut. Lebih dari dua puluh tahun pengalaman saya menjadi guru, sudah banyak menyaksikan anak-anak yang saat besar tidak seperti apa yang saya gambarkan dahulu saat mereka menjadi murid saya. Itulah proses. Jika Anda tidak sabar menajdi guru yang memahami dan menempuh  proses, hanya tertumpu pada pencapaian hasil sementara, Anda bakal  jadi guru yang kerdil, egois, bahkan “membahayakan” masa depan murid.


Guru harus memiliki “ruh kesabaran” dalam menjalani profesinya. 

Apa itu sabar?


Secara etimologi, definisi sabar adalah, (bentuk adjektiva) 1) tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), 2) tabah, 3) tenang, 4) tidak  tergesa-gesa, 5) tidak terburu nafsu.  


‘Sabar’ menurut Syaikh Yusuf al Qaradhawi dalam kitab ‘Tafsir Maudhu’i – as Shabru fil Quran’; adalah dari akhlaq  yang paling utama, paling menonjol dalam kitab al Quran al ‘Aziz, baik pada ayat Makkiyah maupun Madaniyyah. Ia sifat yang paling banyak disebutkan dalam berbagai ayat al Quran. Dalam kitab  ‘Ar Rub’ul Munjiyyat -  Sabar dan syukur, pada kitab Ihya Ulumuddin,  Imam al Ghazali mengatakan bahwa Allah SWT telah menyebutkan kata sabar dalam al Quran di lebih dari tujuh puluh tempat. Sementara di kamus Al Mu’jam al Mufahros li alfaadzil Quran, kata ‘sabar’, dan berbagai kata bentukan darinya disebutkan lebih dari seratus kali. Itu artinya nilai kesabaran adalah sebuah keutamaan yang Allah pesankan kepada hambaNya dalam menempuh hidup. 


Manusia mempunyai dua dimensi kepribadian. Pertama, yang disebut dengan al-bu’dul malakuti atau dimensi kemalaikatan yang berasal dari alam malakut. Ada satu bagian dalam diri kita yang membawa kita ke arah kesucian, yang mendekatkan diri kita kepada Allah. Dimensi ini mendorong kita untuk berbuat baik, membuat kita tersentuh oleh penderitaan orang lain, dan mengajak kita untuk membantu mereka yang memerlukan bantuan. Dengan kata lain, dimensi ini adalah sisi kebaikan yang ada dalam diri manusia. Dimensi kedua, adalah dimensi kebinatangan atau al-bu’dul bahimi. Dimensi inilah yang mendorong manusia untuk berbuat buruk, membuat hati kita keras ketika melihat penderitaan orang lain, dan menimbulkan rasa iri kepada orang lain yang lebih beruntung. Dimensi ini juga menggerak-kan kita untuk marah dan dendam kepada sesama manusia. Inilah sisi buruk dalam diri manusia. Di dalam al Quran ada juga istilah ‘an nafsul muthmainnah, dan an  nafsul lawwamah’. 


Jika dimensi kemalaikatan membawa manusia dekat kepada Allah, dimensi kebinatangan membawa manusia dekat dengan setan. Setan sebenarnya tidak mempunyai kemampuan untuk menyesatkan manusia, kecuali kalau manusia membantunya dengan membuka sisi kebinatangannya. Karena itulah setan pernah berjanji di hadapan Allah, Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas. (QS. Shad  82-83). Sebenarnya yang bisa disesatkan oleh setan adalah hamba-hamba Allah yang membuka sisi kebinatangannya. Al-Ghazali menyebut sisi ini sebagai pintu gerbang setan atau madakhilus syaithan. 


Bila orang sering membuka pintu gerbang kebinatangannya, setan dapat masuk  melakukan provokasi di dalamnya. Oleh karena itu, bagian kebinatangan yang ada dalam diri manusia sering disebut dengan pasukan setan. Melalui pasukan setan inilah setan dapat mengarahkan manusia untuk berbuat buruk. Dua dimensi ini, malakuti dan bahimi, terus menerus bertempur dalam satu peperangan abadi yang dalam Islam disebut dengan al-jihadul akbar, peperangan yang besar. Jihad yang agung itu adalah peperangan melawan bagian dari diri manusia yang ingin membawa kita jauh dari Allah. Tugas kita adalah memperkuat al-bu’dul malakuti itu, supaya kita memenangkan pertempuran agung. 


Ada dua hal yang harus dilakukan manusia agar ia dapat memenangkan per-tempuran agung itu, yaitu shalat dan sabar. Minta tolonglah kamu (dalam jihad akbar ini) dengan melakukan shalat dan sabar, sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS Al-Baqarah: 45). 


Sebagai guru, Anda juga sedang menempuh “pertempuran” agung. Dunia pendidikan memiliki dimensi yang luhur dalam perspektif profesi kerja. Seorang pendidik bukan saja bertarung dalam dirinya saat mengemban amanah menjadi “murobbiy”, Anda juga sedang bertarung dengan sifat bahimi diri Anda. Dalam profesi di bidang pendidikan Anda tidak bisa melihat anak didik seperti orang lain yang berprofesi di non pendidikan melihat obyek kerja mereka. Anda tidak bisa menyamakan output kerja Anda seperti output pekerja pabrik sepatu. Quality standard pada barang sepatu dapat diukur dengan mudah lewat mesin proses pengerjaan otomatis nan canggih. Petugas QC pun kini terbantu dengan alat canggih tersebut, juga dibantu oleh buruh pabrik sepatu yang menyortir sepatu ‘reject’ di keranjang khusus. Dalam kerja tersebut tidak perlu kesabaran melakukan proses pembuatan sepatu, yang dibutuhkan kecepatan dan ketepatan. Di dunia pendidikan? Tidak seperti itu. 


Dua kecerdasan besar dalam proses pendidikan 


Dalam sebuah obrolan, kawan saya pernah berkata, “kenapa ya, negara kita banyak orang yang pintar, tetapi sedikit orang cerdas?” “Maksudnya bagaimana?” Tanya saya. “Ia orang pintar, lulusan perguruan tinggi, bergelar profesor, doktor, dan lain sebagainya, tapi buruk mengelola negara!” Jawab kawan saya tersbut. Saya jadi teringat guyonan kawan saya yang lain tentang kepintaran, tentang lulusan, tentang gelar akademik; “gelar boleh profesor, boleh doktor, boleh master, tapi kelakuan anak SD!”. Bahkan dulu saat Gus Dur jadi presiden ia pernah menyebut, anggota DPR sebagai anak TK. Itu karena kebanyakan orang pintar secara otak, tetapi bodoh secara emosi. Pintar secara otak dibuktikan dengan embel- embel gelar dan lembar ijazah atau nilai. Namun kemampuannya mengelola diri, membangun hubungan dan berkomunikasi amat buruk. Dalam situasi tertentu, orang dengan emosi yang buruk lebih sulit untuk berpikir kreatif, memahami situasi. Jangan heran jika Anda melihat di zaman ini banyak guru bergelar master pendidikan, memegang sertifikat profesi, tetapi miskin kreasi, malas berinovasi.  


Daniel Goleman, dalam hasil penelitiannya menyebutkan ada yang jauh lebih penting dari kecerdasan otak untuk hidup sukses dan lebih baik selain kecerdasan intelejensi, yaitu kecerdasan emosi.  


Emosi sangat memengaruhi kehidupan manusia ketika dia mengambil keputusan. Tidak jarang suatu keputusan diambil melalui jalur kecerdasan emosi ini. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionya karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika kita memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi daripada akal sehat.


 Emosi yang begitu penting itu sudah lama ditinggalkan oleh para peneliti padahal kepada emosi itulah bergantung suka, duka, sengsara, dan bahagianya manusia. Bukan kepada rasio. Karena itulah Goleman mengusulkan selain memperhatikan kecerdasan otak, kita juga harus memperhatkan kecerdasan emosi. Ia menyebutkan bahwa yang menentukan sukses dalam kehidupan manusia bukanlah rasio tetapi emosi. Dari hasil penelitiannya ia menemukan situasi yang disebut dengan when smart is dumb, ketika orang cerdas jadi bodoh. Ia menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ di atas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. Artinya, orang yang cerdas umumnya menjadi pegawai kepada orang yang lebih bodoh dari dia. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan. 


Malahan orang-orang biasalah yang sukses dalam kehidupan.Lalu apa yang menentukan sukses dalam kehidupan ini? Bukan kecerdasan intelektual tapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional diukur dari kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri. 


Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosinya.

8B5C7659-2352-41B6-A6FA-999D03043B6C

Dalam proses pendidikan, guru yang memiliki kesabaran cenderung mampu  mengendalikan emosinya. Mengendalikan emosi tidak hanya sebatas menahan amarah, namun juga kemampuan mengolah informasi di dalam otaknya, kemudian ia melakukan hasil olahan otaknya itu dengan output yang baik dalam bentuk perilaku, komunikasi ataupun cara menyelesaikan masalah. Dalam perjalanan karir saya sebagai guru, saya dahulu pernah mengalami suatu kondisi di mana kecerdasan otak saya tinggi, kecerdasan emosi saya rendah, dan kemudian perilaku emosional saya tinggi.


Dampaknya, saya hanya bisa menerima hasil kerja murid-murid saya jika sesuai apa yang saya ingini. Dan hasilnya lebih banyak tidak baiknya untuk murid-murid saya dahulu. Astaghfirullah al ‘Adzim. Beberapa tahun kemudian saya ubah paradigma saya tentang mendidik, tentang mengajar dan tentang dunia pendidikan. Pasti Anda akan paham jika sering diskusi dengan saya. Meski sebagian belum mampu menangkap pemikiran saya. It’s okay.

Anda juga kini, saat menjalani proses mendidik dan mengajar– tidak bisa tidak, bahwa kesabaran harus menjadi “menteri” dalam kepemimpinan hidup Anda. Itu yang akan membuat Anda mampu mengembangkan potensi yang lebih besar, daripada “tertindas” angan-angan jangka pendek yang sering membuat kerja Anda sebagai guru seperti buruh pabrik pembuat sepatu. 

Jika mendidik adalah sama dengan menciptakan lulusan sekolah yang “pintar”, indikatornya adalah menuntaskan standar nilai minimum dan diberi predikat tuntas, kemudian selesai dengan ijazah dan diterima di sekolah favorit tingkat selanjutnya. Maka sebagai tenaga pendidik Anda tidak jauh berbeda dengan buruh sepatu. Malah lebih bagus buruh sepatu, kerja sesuai target, dibayar upah sesuai ketentuan yang berlaku secara standar, mendapat kesempatan dapat tambahan dari lembur, serta ada juga bonus perusahaan. Sementara Anda sebagai guru hanya menghitung tanggal menunggu gajian di awal bulan. Sebagai “hiburan”, bagi wali kelas ada waktu pengambilan raport akhir tahun, karena saat itulah Anda sebagai guru merasa  diperhatikan. Pulang ke rumah membawa “gembolan”. 

Kecerdasan emosi dalam bentuk kesabaran sejatinya membuat lembaga pendidikan menjadi medium utama menyiapkan simulasi bagi anak-anak menjalani hidup, bukan memaksa mereka hidup dengan tekanan guru dan tujuan prestis akademik. 

Berikut beberapa kompetensi dan nilai kesabaran yang perlu para pendidik hidupkan dan  jaga serta  menjadi bagian dari jiwanya, menjadi ruhnya: 


1.     Kemampuan memahami visi

Sikap sabar menurut agama Islam  adalah sebagian dari keimanan, sebagaimana Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak dan beberapa ulama’ rawi lain meriwayatkan dari Ibn Mas’ud:

“الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ”

“Sabar adalah separuh dari keimanan”


Iman adalah pondasi pokok yang mengikat hamba dengan Allah SWT, sebagai arah untuk menuju jalan keridhaanNya. Iman sebagai visi kehidupan seorang muslim dalam keyakinan eksistensi wujudnya di alam semesta. Sebagaimana kesabaran akan membuat visi manusia tentang kehidupannya menjadi kuat dan baik. Sikap sabar juga akan membuat seorang guru memahami visi pendidikan yang hakiki. Bukan sekedar visi lembaga pendidikan yang cenderung profan dan sebatas tulisan. Namun juga memahami visi pendidikan seperti yang disebut dalam makna dan tujuan tarbiyah menurut ar Raghib al Asfahani; “mengembangkan fitrah anak  secara bertahap sehingga mencapai batasan sempurna”. 


2.     Kesadaran diri – self consciousness.

Konsep kesadaran modern sering dikaitkan dengan esai John Locke, Concerning Human Understanding, yang diterbitkan pada tahun 1690.  Locke mendefinisikan kesadaran sebagai "persepsi tentang apa yang terlintas dalam pikiran manusia sendiri". Esainya memengaruhi pandangan kesadaran pada abad ke-18, dan definisinya muncul di kamus terkenal Samuel Johnson (1755).  "Kesadaran" (Prancis: hati nurani ) juga didefinisikan dalam Diderot 's Encyclopédie volume 1753 dan d'Alembert , sebagai "pendapat atau perasaan internal yang kita miliki dari apa yang kita lakukan".  Psikolog sering membedakan antara dua jenis kesadaran diri, pribadi dan publik. Kesadaran diri pribadi adalah kecenderungan untuk mengintrospeksi dan memeriksa diri dan perasaan batin seseorang. Kesadaran diri publik adalah kesadaran diri seperti yang dilihat oleh orang lain. Kesadaran diri semacam ini dapat mengakibatkan pemantauan diri dan kecemasan sosial. Baik kesadaran diri pribadi dan publik dipandang sebagai ciri kepribadian yang relatif stabil dari waktu ke waktu, tetapi mereka tidak berkorelasi. Hanya karena seorang individu tinggi di satu dimensi tidak berarti bahwa dia tinggi di sisi lain. Kesadaran diri akan mengasah seseorang berlatih kesabaran. Dengan adanya kesadaran diri, seseoramg lebih mampu melihat secara mendalam persoalan yang dia hadapi, kemampuannya merefleksikan hal-hal yang dialami dalam bentuk pikiran reflektif menuntun orang tersebut mampu mengontrol emosinya, tindakannya. Daya kontrol itulah yang bisa menjaganya dari berbuat hal-hal yang  merusak kemurnian jiwanya atau menyebabkan tindakan impulsif.


3.     Delayed gratification – menunda kepuasan untuk kebaikan jangka panjang  

Pada tahun 1960an psikolog Walter Mischel dari Universitas Stanford  mempelajari mengenai delayed gratification (kemampuan seseorang menunda kepuasan).  Percobaan ini kemudian dilakukan juga oleh peneliti lain. Mischel mengetes beberapa anak berumur empat dan lima tahun di Taman Kanak-kanak Bing di dalam kampus Universitas Stanford. Masing-masing dari anak tersebut dibawa ke dalam suatu ruangan, lalu sebuah marshmallow ditaruh di meja di depan anak-anak tersebut. Mereka diberitahu bahwa mereka boleh memakan marshmallow tersebut sekarang, tetapi apabila mereka menunggu 20 menit, Mishcel akan kembali dan memberikan mereka tambahan satu marshmallow. 

7B2980C8-E964-48D1-9769-6F01D4947743

Hasil dari percobaan tersebut adalah sepertiga dari anak-anak tersebut memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow dan sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda. Tujuan awal dari percobaan ini adalah untuk mengetahui proses mental yang membuat seseorang menunda kesenangannya saat ini untuk mendapatkan kesenangan yang lebih pada masa mendatang. 

 

Kemampuan menunda kesenangan sesaat untuk hal yang lebih baik di masa mendatang adalah  salah satu nilai kesabaran. Di alam al Quran Allah beberapa kali menyebutkan tentang keutamaan kehidupan akhiran dari kehidupan dunia. Itu adalah isyarat yang jelas bahwa keimanan seseorang saalh satunya diukur dari kemampuan ia menjaga dirinya selama di dunia, beramal shalih, bersabar untuk kehidupan akhiran yang kekal.



وَلَلْأَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولٰى


"dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan."(QS. Ad-Duha : 4)

 

4.   Melihat permasalahan dari berbagai perspektif dan mendalam.Ini adalah bagian dari keterampilan coping dan manajemen diri. Seorang guru hendaknya memikiki kemampuan untuk melihat permasalahan yang dihadapinya dengan perspektif yang beragam, dan mengelaborasi pengetahuannya dalam rangka problem solving. Memang tidak mudah ketika seseorang dihadapkan kepada kondisi yang menyakitkan, menyedihkan, membuat frustasi, untuk menempatkan dirinya pada sisi yang di “atas” agar dapat melihat ke “bawah” dengan pandangan yang lebih luas. Apalagi jika beberapa persoalan menariknya kepada situasi dilematis, situasi tidak menentu, dan hubungan yang “toxic” yang membuatnya sulit membedakan mana yang tulus dan mana yang pura-pura. Beberapa kasus bahkan orang banyak terpedaya dengan sikap kepura-puraan, lalu ia memilih jalan (aman) yang dipandangnya lebih baik dan menjanjikan.Dengan kemampuan melihat permasalahan secara multi perspektif, seorang guru akan memiliki visi jauh lebih baik dan dinamis. Ia akan mengoptimalkan kesabarannya kemudian untuk berpikir jangka panjang. Berpikir jangka panjang bernilai strategis, bernilai praktis dan juga kadang bernilai ekonomis.  


5.   Self talk – kemampuan berdialog dengan diri.  Jane Bolton Psy.D., MFT. Seorang analis pengawasan dan pelatihan dan asisten profesor di Institut Psikoanalisis Kontemporer di Los Angeles memberikan beberapa tips untuk menumbuhkan sikap sabar dalam diri melalui kemampuan selftalk. Ia bercerita tentang seorang klien pernah melaporkan bahwa dia terluka karena suaminya sepertinya melupakan hari ulang tahunnya.

 
A614A76F-C3C2-4ED2-AE87-9755BF6BD068

Ia bercerita tentang seorang klien pernah melaporkan bahwa dia terluka karena suaminya sepertinya melupakan hari ulang tahunnya. Ketika suaminya berangkat kerja, dia mulai menceritakan semua cara dalam hubungan mereka bahwa dia tidak memenuhi kebutuhannya, kemudian dia mempermalukan dirinya sendiri karena begitu "lemah untuk menikah dengannya." Dia bangun dan menyadari, "Oh, aku hanya kecewa, itu wajar. Tapi dia pria yang baik dan aku tahu dia mencintaiku." Dia tercengang pada kedamaian internal yang muncul ketika dia baru saja menghentikan ceritanya. seorang klien pernah melaporkan bahwa dia terluka karena suaminya sepertinya melupakan hari ulang tahunnya. Ketika suaminya berangkat kerja, dia mulai menceritakan semua cara dalam hubungan mereka bahwa dia tidak memenuhi kebutuhannya, kemudian dia mempermalukan dirinya sendiri karena begitu "lemah untuk menikah dengannya." Dia bangun dan menyadari, "Oh, aku hanya kecewa, itu wajar. Tapi dia pria yang baik dan aku tahu dia mencintaiku." Dia tercengang pada kedamaian internal yang muncul ketika dia baru saja menghentikan ceritanya.


Banyak masalah baru muncul setelah guru menghadapi masalah awal karena kesabarannya untuk menahan dan mengendapkan dalam diri amat lemah. Makah justru ia menemukan kesenangan dengan mengumbarnya dengan percakapan umum tentang masalah pribadi, atau lebih buruk mengumbarnya lewat media sosial. Padahal itu semua tidak sedikitpun membantu, karena hanya guru tersebut yang lebih paham cara mengurai dan melihat permasalahannya secara lebih mendalam dengan perspektif yang beragam. Dengan self talk, kita berlatih bersabar untuk mendalami masalah, alih-alih mengumbar masalah lewat media sosial.


Penutup


Kesabaran adalah penopang jiwa yang kuat, kemapuan guru dalam mendidik jika tidak diiringi sikap sabar, mampu berpikir jangka panjang, mampu melihat dengan kacamata yang lebih luas, maka akan membuat tugas mengajar sebagai bagian dari profesi guru tidak akan memberikan dampak yang baik dan manfaat yang besar untuk perkembangan karakter anak didik.


Kesabaran adalah ‘seni melihat berbagai persepktif dalam hidup’, seperti diceritakan dalam misah sufi berikut:


Alkisah seorang sufi berkunjung kepada temannya yang juga sufi. Temannya itu kebetulan sedang sakit dan ia mengeluh tentang sakit yang dideritanya. Sufi yang datang menengok itu berkata, “Bukan seorang pencinta sejati bila ia mengeluhkan penyakit yang diberikan oleh kekasihnya.” Lalu sufi yang sakit itu menjawab, “Bukan seorang pecinta sejati bila ia tidak menikmati pemberian kekasih sejati.”


Dari cerita di atas kita dapat menarik pelajaran berharga bahwa hendaknya kita harus merubah persepsi tentang sakit yang pernah kita alami. Persepsi kita selama ini adalah menganggap sakit itu sebagai suatu penderitaan yang diberikan Allah kepada kita. Dari anggapan ini kita berkesimpulan bahwa Allah tidak mencintai kita lagi. Sikap yang bijak adalah menikmati keindahan sakit seperti yang dialami sufi tadi. Menikmati bukan berarti berdiam, pasrah tanpa tindakan, tapi merenung lebih dalam akan hakikat sakit yang diberikan oleh Allah. Proses perenungan ini akan meng-hasilkan nilai atau pandangan yang akan mendatangkan kenikmatan bagi kita. Dan kita akan tahu betapa nikmatnya merasakan cinta Allah dalam bentuk sakit.


Sufi itu juga mengajarkan kepada kita hendaknya tabah dalam menerima cobaan Allah. Penderitaan akan mengantarkan kita kepada posisi mendekati Allah dan membuka pintu kasih sayang Allah. Bukankah Imam Ja’far As-Shadiq as pernah berkata, ”Kalau seseorang berada dalam kesedihan, bergegaslah berdoa. Karena pada saat itulah Allah akan mengijabah doa orang itu.” 


[BungRam-14062021]

  

————- 

 

Referensi :

 

Meraih Hikmah Menebar Berkah – A. Ramdani, penerbit Azkia, 2020.

 

Afkar Pengantar – Jalaluddin Rakhmat, penerbit Nuansa Cendekia, 2016

 

https://www.researchgate.net/profile/Jason-Kawall-2/publication/319354015_Patience/links/5c324f75458515a4c712a67e/Patience.pdf?origin=publication_detail

 

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/02/19/sabar-kunci-kecerdasan-emosional/

 

https://winnersstory.com/short-stories-patience-1/

 

https://www.psychologytoday.com/us/blog/your-zesty-self/201109/four-steps-developing-patience

  


Nice to read
275A6C13-28AA-4FBD-8779-E29DDF339284
10 hal menjadikan anak sukses
6FDD9364-A304-40D6-9324-E8D46313A80C
Mendidik anak mematuhi aturan
C02D73CA-AAF6-4B9D-8B1F-D4F89DF08F1E
Tips mengelola rutinitas pagi bersama anak
18FEFC71-895F-4D79-BCFB-666CFC088C9D
Sakit Secara Sosial, Perspektif Neurosains
6B75CCAB-9917-42E7-8522-525F5A4F859A
Menolak vaksin Covid-19
1003F8EA-FA1F-459D-BA8B-9252A804E2FF
Fakta menarik tentang orang kidal
BF90FB4E-EA91-4384-946C-F7DB89F59344
Pelajaran sejarah, pintu pendidikan politik generasi bangsa
C5BCFDFC-AD86-4A73-9738-3F04E3AAED5F
Pendidikan lingkungan hidup
142A8464-1D3C-4BE2-88A5-917615D1858A
Merdeka dari penjara kesenangan orang lain

Recomended

877E8EE5-7985-46A8-B162-9152630BAD9C

Melatih anak membuat keputusan sendiri - Sticky Notes Guru Kelas – #11

Anak-anak cenderung melakukan tindakan karena spontanitas, atau dipengaruhi oleh keinginan orang lain. Banyak kecenderungan anak-anak berbuat sesuatu bukan karena keputusannya sendiri, melainkan karena intruksi. Sehingga kemampuannya untuk belajar membuat keputusan menjadi kurang terasah. Anak-anak menjadi tidak independen. Mereka kurang percaya diri dan kurang mandiri.

Selengkapnya

C8BDFE64-836E-434A-A3BA-EEDA3DF07A56

Pelarangan Mudik Lebaran dan Politisasi Kebijakan

Pemerintah resmi melarang masyarakat untuk melakukan mudik lebaran tahun ini melalui surat edaran Satgas Penanganan Covid-19. Dalam SE tersebut, dijelaskan bahwa setiap anggota masyarakat dilarang melakukan perjalanan antarkota/kabupaten/provinsi/negara untuk tujuan mudik. Lantas, apakah mudik lokal atau jarak dekat tetap diizinkan? 


Menurut Doni Monardo, ketua Satgas Penanganan Covid-19, penularan Covid-19 terjadi karena adanya interaksi antar manusia. Oleh karena itu, Doni berharap agar mudik Lebaran tahun ini, baik jarak jauh maupun lokal, dapat ditiadakan. Hal tersebut ia sampaikan saat  Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Covid-19 Nasional.

Selengkapnya

Tulisan tentang pendidikan lainnya