Hubungi BungRam    

Ruh Guru – #3

Bagikan

Integritas

لِسَانُ اَلْعَاقِلِ وَرَاءَ قَلْبِهِ وَ قَلْبُ اَلْأَحْمَقِ وَرَاءَ لِسَانِهِ. (على ابن أبى طالب)



Ruh guru yang ketiga yang harus menyertai setiap pikiran, tindakan, dan menjadi pedoman dalam menjalani profesi sebagai tenaga pendidik adalah ‘integritas’. Apa itu integritas?

 

Sebelum mengetahui definisi linguistik makna integritas, saya ingin menceritakan salah satu contoh nyata menurut saya tentang bagaimana nilai integritas terimplementasi dalam sebuah aktifitas yang saya juga terlibat di dalamnya. 


Pada April 2016, kami para relawan gerakan Turun Tangan Jakarta mengadakan kegiatan yang kami beri nama ‘Olimpiade Negarawan Muda’. Kegiatan olimpiade itu bertujuan untuk memberikan edukasi dan juga sekaligus ajang mengasah kompetensi akademik di bidang pelajaran PPKn. Pesertanya sekitar  20 sekolah tingkat SMA se-Jabodetabek. 



Dalam olimpiade itu  saya menjadi konseptor materi kegiatan, dan sekaligus penyusun materi lomba dalam bentuk cerdas cermat dan presentasi siswa. Luar biasa kami menyiapkan acara ini, dan alhamdulillah kami dibantu untuk koordinasi dan diizinkan menggunakan salah satu ruangan sebagai “basecamp” persiapan menjalang kegiatan, di pojokan pantry salah satu staf kemendikbud waktu itu selama 3 hari.  


Saat saya dan tim acara meminta izin secara prosedural untuk penggunaan tempat acara olimpiade, kami bertemu dengan pejabat kemendikbud bidang puskurbuk. Ketua panitia mempresentasikan program dan rencana kegiatan ini di hadapan kepala puskurbuk waktu itu, dan alhamdulillah kami mendapat respon yang positif dan mendapat izin untuk menggunakan aula untuk acara olimpiade nanti. Namun ada satu hal yang di luar prosedur atau bagian dari tujuan kami mengajukan permohonan peminjaman tempat pada kegiatan presentasi tadi. (Sebagai catatan dan informasi, aula kemendikbud dapat digunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatan seminar atau hal lainnya yang berkaitan dengan pendidikan melalui pengajuan peminjaman ruangan, dan menempuh prosedur peminjaman ruangan yang berlaku, dan itu semua gratis!). Saat selesai presentasi kami mendengarkan komentar dan penyampaian dari Bapak kepala puskurbuk, tiba-tiba (di luar dugaan) kami ditawari “bantuan” dalam bentuk lain. Dan itu bagian dari apresiasi bapak puskur kepada kami melakukan kegiatan yang dinilai sangat baik dan baru pertama kali ada inisiasi kegiatan semacam itu. 

Sontak kami kaget, di sisi lain kami waktu itu belum memiliki dana yang cukup untuk memenuhi budgetseluruh kegiatan, terutama untuk hadiah dan keperluan perlengkapan teknis acara lomba. Akhirnya kami melakukan rapat dadakan untuk membahas tawaran “bantuan” dari Bapak kepala puskurbuk tadi. Demi menjaga integritas dan juga independensi gerakan kami, kami sepakat untuk tidak menerima “bantuan” yang bukan kami ajukan tersebut. Tentu ada banyak alasan prinsip dan nilai yang kami pegang teguh dari gerakan Turun Tangan ini, yang sudah kami pertimbangkan di saat kami juga butuh. Itulah menurut saya salah satu praktik integritas.

 

Arti integitas menurut KBBI; mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran, seperti

 ‘Integritas nasional’, wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan bernegara. Sedangkan berdasarkan kamus kompetensi perilaku KPK, yang dimaksud dengan integritas adalah bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut (nilai-nilai dapat berasal dari nilai kode etik di tempat dia bekerja, nilai masyarakat atau nilai moral pribadi). (https://aclc.kpk.go.id/)

 

Secara etimologi, integritas berasal dari kata Latin yaitu dari kata “Integer” yang artinya lengkap ataupun utuh. Jika diartikan dari asal katanya, maka kata integritas dapat diartikan sebagai sebuah usaha yang utuh dan lengkap yang didasari dengan kualitas, kejujuran, serta konsistensi karakter seseorang. Menurut Stanford Encyclopedia of Philosphy, integritas mengacu pada tingkat kejujuran seseorang, komitmen moral dan keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang benar.


Bagaimana seorang guru memiliki integritas?


Dalam Undang-undang No. 14 tahun 2005, tugas guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Tentunya untuk dapat memenuhi tugas dan perannya sebagaimana telah dikemukakan di atas bukankah hal yang mudah. Untuk itu diperlukan  integritas yang tinggi dari seorang guru. Integritas yang tinggi adalah komitmen yang muncul dari dalam diri seorang guru melaksanakan tugasnya dengan benar. Integritas guru tidak muncul dengan sendirinya,  tetapi harus dibentuk, dibangun dengan kesadaran yang tinggi pula. 


Membangun dan membentuk nilai integritas tenaga pendidik tidak terlepas dari kultur sekolah yang berlaku dan dijalani dengan baik. Sekolah yang memiliki kultur kejujuran, bersikap konsisten, mengedepankan sikap akademis, menanamkan sikap semangat dan tulus dalam bekerja akan mudah menumbuhkan dan memperkuat integritas dalam setiap guru yang menjadi tenaga pendidik di sekolah tersebut. 


A19E7095-F4A6-4B69-AAFD-4561E338581D

Sumber: https://www.corebusiness.com.au/

Kemudian, selain kultur sekolah, kepemimpinan yang berlangsung pun harus mengusung nilai-nilai integritas dalam pelaksanaannya. Para pemimpin dan satf harus memiliki integritas dalam bekerja. Setiap kebijakan juga diiringi dengan nilai, pertimbangan, perencanaan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai atau prinsip hidup berintegritas. 

 

Namun sebaliknya, jika pola kepemimpinan tidak memiliki integritas, tidak mengusung sikap kejujuran dan konsisten menjalani aturan, maka integritas sulit menjadi bagian dari kerja dan sikap guru, bahkan akan sulit juga tumbuh berdampak kepada apa yang di sebut sebagai ‘Ruh Guru’. Akhirnya kita akan laksana  ‘menggantang asap’, bagai ‘mencencang air’,  dalam istilah al Quran surat an Nahl: 92 disebut;


كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا.



Apa yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan integritas dalam diri seorang guru, agar ia tumbuh dan menguat menjadi ‘Ruh Guru’? 


1.    Menjaga lisan

Sikap menjaga lisan bukan saja terkait erat dengan kejujuran ( الصِدْق  ), namun juga menunjukkan kadar kemampuan dan kompetensi sikap serta pedagogik seorang guru. Sikap akademis seseorang, acapkali dapat terukur dan nampak dari cara ia berkomunikasi. Cara ia mengelola perkataan, cara ia menggunakan kosa kata atau memilih  diksi dalam berbicara. Anda boleh percaya atau tidak, orang  yang memiliki kompetensi akademik baik, akan mampu mengelola perkataan dengan baik, karena “isi otaknya” banyak, dan baik. Berbeda dengan orang yang senang mengumbar kata-kata kasar, dusta, ghibah, menjelekkan orang lain sebagai upaya impression  bahwa dirinya baik – bukan melalui prestasi atau karya, tapi dengan merendahkan orang lain, itu mengindikasikan “isi otaknya” sedikit, emosionalnya yang banyak, dan senantiasa menutupi kebodohannya dengan manajemen impressiontersebut di atas. Maka menjaga lisan sebagai salah satu bagian terpenting membangun integritas agar menjadi Ruh Guru yang kuat. Dan menjadi bagian dari penunjang profesionalitas seorang tenaga pendidik.

 

Nabi Muhammad SAW pernah memberi nasihat kepada Muadz ibn Jabal, dalam sebuah hadits tentang apa-apa saja yang memasukkan manusia ke surga. Di akhir hadits nabi SAW mengingatkan Muadz dengan memegang lidahnya dan berkata “ كُفَّ عَلَيْكَ هٰذَا  “ (jagalah ini! – lidah). Lalu kata Muadz, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “tsaqilatka ummuka!” (kalimat ini maksudnya adalah ungkapan hal yang memalukan, dan untuk memperhatikan ucapan selanjutnya). Tidaklah manusia tersungkur di neraka karena wajah atau karena hidung mereka, melainkan dengan sebab lisan mereka.’” (Hadits Riwayat Tirmidzi). Baca hadits lengkapnya di file pdf berikut di halaman 23,  bisa diunduh juga melalui link https://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/parts/Forty_Nawawi_Hadith/ar_Forty_Nawawi Hadith_Dar_Alsalam.pdf. Orang yang memiliki integritas akan mendahulukan pikirannya daripada lidahnya, seperi kata Imam Ali bin abi Thalib, “lidah orang orang berakal berada di belakang kalbunya, dan kalbu orang ‘ahmaq’ (yang kurang akalnya) berada di belakang lidahnya”.


     2. Pahami hal-hal yang berharga dalam kehidupan Anda sendiri.


Jika integritas adalah tentang membuat dunia luar Anda benar-benar mencerminkan dunia batin Anda, langkah pertama adalah meluangkan waktu dan pemikiran untuk menelusuri dan mengeksplorasi dan menemukan siapa Anda : Apa keunikan batin Anda? Karunia apa yang Anda miliki sendiri yang dapat Anda sumbangkan kepada dunia dan orang-orang di sekitar Anda? Anda dapat melakukan; Mencari apa sebenarnya tujuan hidup Anda. Syukurilah bahwa Allah telah menciptakan kita sebagaimmanusia, makhluq yang paling sempurna dibanding makhluq ciptaan Allah yang lain. Menjadi manusia adalah anugerah, bahkan Allah amanahkan kepada manusia tugas sebagai khalifah yang perlu kita hargai dan pegang. Oleh karenanya tujuan penciptaan, tujuan hidup dan tujuan yang diamanahkan oleh Allah sebagi khalifah harus kita temukan. Itu menuntun kita kepada integritas dalam menjalani hidup. Kemudian, ini tentang self control,  pisahkan antara keinginan diri, dengan apa yang seharusnya Anda capai. Itu memang tidak mudah pada awalnya kata Bob Tabibi, LCSW, seorang psikolog klinis,  terapis kesehatan mental pada keluarga, dan komunitas, dan penulis buku tentang kesehatan mental dan psikologi. Mengatur untuk memilah  apa  yang seharusnya daripada  keinginan adalah soal mengatur ulang otak Anda, mengubah dari mana informasi Anda tentang Anda berasal. Itu mengharuskan Anda menjaga telinga Anda dekat dengan hati Anda, dan kemudian mengambil tindakan. Proses mengatur ulang cara berpikir ini akan memudahkan Anda untuk menjauhi jebakan keinginan. Akhirnya menuntun Anda menemukan tujuan, menemukan nilai dalam hidup.

Anda akan belajar selanjutnya tentang hal-hal yang berharga dalam hidup. Berharga tidak identik dengan materiil, berharga karena Anda akan menjadikannya sebuah track record  hidup Anda kelak yang memberi kebanggaan bagi generasi setelah Anda.


40227971-D43B-4B0E-BE40-A37FBC4B101B

Sumber: www.adam-eason.com

 3.  Tentukan nilai dan visi Anda.

Nilai hidup adalah semacam pedoman yang diyakini. Visi Anda adalah gambaran tentang seperti apa jati diri Anda, terutama dalam memandang profesi tenaga pendidik. Jika Anda memandang profesi tenaga pendidik sebagai bagian dari perjuangan mulia dalam hidup Anda akan menjalani profesi dengan penuh integritas. Tapi jika Anda memandang profesi guru adalah sebuah pekerjaan “mencari uang, mencari jabatan dan gelar” semata, Anda sedang  mengarah pada kehidupan yang narsis , rakus, atau impulsif, serta tidak memiliki nilai daripada kehidupan yang berintegritas.  

Langkah  dalam proses penemuan ini adalah menyaring semua informasi  melalui nilai-nilai Anda sendiri—visi Anda tentang kehidupan yang "baik", orang "baik", pendidikan yang “baik”, yang dapat Anda banggakan. Kuncinya di sini adalah nilai - nilai Anda , bukan hanya menyalin nilai - nilai orang lain. Seperti tujuan, nilai juga harus ditemukan dan berkembang,  juga seperti tujuan, ia mengharuskan Anda meletakkannya di depan, dengan sengaja memutuskan apa yang Anda inginkan dari nilai dan visi hidup tersebut. 

Ketika Anda menemukan nilai dan visi pendidikan yang sesungguhnya, kemudian Anda yakini itu menjadi patron dan paradigma berpikir Anda tentang pendidikan, tentang profesi guru, tentang dunia anak-anak (peserta didik), maka Anda akan telah memiliki nilai berharga dalam hidup, melebihi materi. Yakinlah, dunia pendidikan masanya tidak terbatas, seseorang yang mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan, berarti menempatkan posisinya sebagai penerus misi kenabian. Tidak ada akhir, tidak ada “pensiun” meski secara aktifitas  tidak lagi mengajar secara formal di ruang kelas. 

Dari situ Anda akan menemukan bahwa integritas lebih berharga dari status Anda di lembaga pendidikan, lebih berharga dari ijazah Anda di perguruan tinggi, lebih bermanfaat daripada sertifikat profesi.

Untuk menambah wawasan tentang nilai hidup, bacalah biografi Umar bin Abdul Aziz khalifah kedelapan yang adil dalam sejarah bani Umayah. Atau bagus juga Anda baca biografi Frederick Douglass dan pidatonya yang terkenal tentang perbudakan di Amerika Serikat, yang dikenal dengan “pidato 4 Juli”. Atau di era saat ini, Anda ikuti sejarah hidup dan sepak terjang Anies Baswedan, Gubernur DKI. Mereka adalah orang-orang atau pemimpin yang berintegritas.

       4. Berkomitmen pada apa yang Anda yakini dan sepakati.

Keyakinan adalah pondasi dalam berbuat, berpikir, berkeinginan dan mencapai tujuan. Orang yang berkomitmen hanyalah orang yang secara teratur menepati  apa yang telah dia sepakati dengan orang lain. Komitmen menuntut kesadaran tentang menepati mengikat diri dengan setiap kesepakatan, tanpa berniat melakukan kecurangan. Ada banyak conttoh orang yang merusak hubungan dengan melanggar komitmen. Meskipun ia bisa saja mengatakan bahwa itu ia ubah karena pertimbangan pribadi. Dalam bahasa agama Islam itu salah satu ciri orang munafiq. Berikut beberapa saran dari Linda Bloom, LCSW, seorang konselor dan terapis keluarga tentang bagaimana menumbuhkan sikap komitmen dalam diri: 

a. Katakan yang sebenarnya tentang tingkat komitmen Anda.

b. Fokus pada kabar baik tentang apa yang Anda alami bersama rekan kerja, bangun sikap terbuka.

c. Nyatakan niat untuk bekerja dengan apapun yang muncul, bahkan jika materi yang muncul di permukaan tidak menyenangkan.

d. Hiduplah di saat ini daripada membiarkan fantasi menakutkan tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan. Atau terlalu sering Anda terkait dengan masa lalu. 

e. Bertanggungjawab atas segala tantangan atau kesulitan yang mungkin ditimbulkan dari pilihan Anda. 

f. Cari tahu apa yang diinginkan rekan kerja Anda dan bantu mereka mendapatkannya.

g. Gunakan semua kerusakan dalam hubungan (argumen, kesalahpahaman, frustrasi, kekecewaan,) sebagai kompos untuk berkembang. Semua kesulitan memberikan kesempatan untuk belajar yang lebih besar.

h. Menemukan nilai-nilai umum, tujuan, dan tujuan bersama akan memandu pilihan hidup Anda.

i. Hargai perbedaan dan saling belajar.

           j. Rayakan keberhasilan dan akui komitmen yang berkembang. 


         5. Terbuka dengan perubahan dan mau belajar

Berintegritas tidak akan berkembang tanpa memahami perubahan. Karena perubahan menguji kemampuan kita menyesuaikan diri. Bahkan menyesuaikan dengan sebuah keputusan di dalam komunitas kita, meskipun keputusan itu amat ‘absurd’. Persoalannya di sini bukan mengenai bagaimana sebuah keputusan yang absurd itu terjadi, tetapi bagaimana sikap seseorang yang memiliki integritas memandang itu sebuah fenomena yang harus dihadapi dengan cara dewasa dan menggunakan nalar. 

Betapa banyak kita saksikan kepemimpinan yang berdampak buruk kepada organisasi, masyarakat, bahkan negara akibat ketidakmampuan menumbuhkan dan merawat integritas dalam diri, yang mana disebabkan karena ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan dan malasa untuk belajar. Bisa belajar dari pengetahuan tekstual, atau bahkan belajar dari fakta dan pengalaman yang pernah ada.

Guru yang memiliki ruh integritas akan senantiasa berupaya mengantisipasi perubahan, menghadapi tantangan baru akibat adanya perubahan, baik secara gradual maupun spontan. Dengan itu ia akan belajar banyak, ia akan mengambil berbagai manfaat dan hikmah. 

Dekatkan telinga Anda dengan suara-suara batin itu, dan ketika kehidupan batin Anda berubah, seperti yang mungkin akan terjadi, luangkan waktu untuk memilah dan menyaring dan melihat apa yang harus disimpan dan apa yang harus dilepaskan. Tetapi kemudian integrasikan, berani, dan bawa versi Anda yang telah didefinisikan ulang ini ke dalam kehidupan sehari-hari Anda. Mengakui dan beradaptasi dengan perubahan adalah apa yang membuat kehidupan dalam dan luar Anda selaras.


Penutup

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengutip kisah inspiratif mengenai integritas, khususnya tentang berani berkata jujur meski kadang berdampak pahit. Tapi ketahuilah, kebohongan yang ditukar  dengan harga mahal (seperti reputasi, jabatan, nama baik, kekuasaan atau imbalan yang menggiurkan, tidak menempatkan Anda pada posisi mulia, meski orang melihat Anda terhormat atau berkuasa. Karena ketika atau saat orang tahu Anda berbohong, mereka tersenyum di hadapan Anda, tapi bukan senyuman orang-orang merdeka, melainkan senyuman mengejek atau senyuman penjilat yang mengambil untung dari kebodohan Anda yang terus hidup si lembah pura-pura.

Berikut kisahnya; pada Mei 2005, pemain tenis profesional Amerika Andy Roddick bermain melawan Fernando Verdasco, dari Spanyol, di babak 16 besar turnamen tenis Italia Masters di Roma, Italia. Roddick adalah unggulan nomor satu di turnamen dan favorit berat untuk memenangkan pertandingan dan maju. 

Roddick, salah satu pemain top di dunia, berada di puncak permainannya. Memang, hanya satu bulan kemudian dia akan mencapai final di Wimbledon sebelum kalah dari Roger Federer.


Roddick mendominasi seperti yang diharapkan dan memiliki triple match point ketika sesuatu yang sangat tidak biasa terjadi. Roddick tidak bisa membalas servis keras kedua Verdasco tetapi hakim garis membatalkan servis dan memberi Roddick poin dan pertandingan.


Dengan sorak-sorai penonton, Verdasco berlari ke net untuk menjabat tangan Roddick dan mengucapkan selamat atas kemenangannya. Namun, Roddick mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hakim garis, wasit, penonton yang bersorak, dan Verdasco sendiri. Servisnya belum keluar, tetapi mengenai garis, membuatnya masuk. 


Roddick bisa saja menyimpan informasi ini untuk dirinya sendiri dan menerima kemenangan. Memang, panggilan kehormatan tidak diharapkan dalam tenis. Sebaliknya, dia memberi tahu wasit bahwa bola telah masuk dan menawarkan untuk menunjukkan kepadanya tanda di tanah liat tempat bola dipukul untuk membuktikan maksudnya. Wasit membalikkan panggilan dan memberikan poin kepada Verdasco. 


Setelah diberi kesempatan kedua, Verdasco memanfaatkannya sebaik mungkin. Dia kembali untuk memenangkan permainan, set, dan pertandingan memberinya kemenangan yang sangat mustahil, terutama mengingat tidak lama sebelum dia berdiri di depan net siap untuk kebobolan.


Penulis olahraga Frank DeFord memperkirakan kejujuran Roddick merugikannya setidaknya "puluhan ribu dolar;" mungkin lebih banyak lagi jika dia memenangkan turnamen. Namun  Integritas jelas lebih penting bagi Roddick daripada menang atau uang. Andy Roddick kalah dalam pertandingan tenis hari itu tetapi memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting, dan dalam prosesnya memberikan contoh yang bagus tentang sportivitas bagi para pesaing di mana pun.  [BungRam-19082021]



Nice to read
275A6C13-28AA-4FBD-8779-E29DDF339284
10 hal menjadikan anak sukses
6FDD9364-A304-40D6-9324-E8D46313A80C
Mendidik anak mematuhi aturan
C02D73CA-AAF6-4B9D-8B1F-D4F89DF08F1E
Tips mengelola rutinitas pagi bersama anak
18FEFC71-895F-4D79-BCFB-666CFC088C9D
Sakit Secara Sosial, Perspektif Neurosains
6B75CCAB-9917-42E7-8522-525F5A4F859A
Menolak vaksin Covid-19
1003F8EA-FA1F-459D-BA8B-9252A804E2FF
Fakta menarik tentang orang kidal
BF90FB4E-EA91-4384-946C-F7DB89F59344
Pelajaran sejarah, pintu pendidikan politik generasi bangsa
C5BCFDFC-AD86-4A73-9738-3F04E3AAED5F
Pendidikan lingkungan hidup
142A8464-1D3C-4BE2-88A5-917615D1858A
Merdeka dari penjara kesenangan orang lain

Recomended

877E8EE5-7985-46A8-B162-9152630BAD9C

Melatih anak membuat keputusan sendiri - Sticky Notes Guru Kelas – #11

Anak-anak cenderung melakukan tindakan karena spontanitas, atau dipengaruhi oleh keinginan orang lain. Banyak kecenderungan anak-anak berbuat sesuatu bukan karena keputusannya sendiri, melainkan karena intruksi. Sehingga kemampuannya untuk belajar membuat keputusan menjadi kurang terasah. Anak-anak menjadi tidak independen. Mereka kurang percaya diri dan kurang mandiri.

Selengkapnya

C8BDFE64-836E-434A-A3BA-EEDA3DF07A56

Pelarangan Mudik Lebaran dan Politisasi Kebijakan

Pemerintah resmi melarang masyarakat untuk melakukan mudik lebaran tahun ini melalui surat edaran Satgas Penanganan Covid-19. Dalam SE tersebut, dijelaskan bahwa setiap anggota masyarakat dilarang melakukan perjalanan antarkota/kabupaten/provinsi/negara untuk tujuan mudik. Lantas, apakah mudik lokal atau jarak dekat tetap diizinkan? 


Menurut Doni Monardo, ketua Satgas Penanganan Covid-19, penularan Covid-19 terjadi karena adanya interaksi antar manusia. Oleh karena itu, Doni berharap agar mudik Lebaran tahun ini, baik jarak jauh maupun lokal, dapat ditiadakan. Hal tersebut ia sampaikan saat  Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Covid-19 Nasional.

Selengkapnya

Tulisan tentang pendidikan lainnya