Hubungi BungRam    

Seri Sekolah Abad 21 #2

#1. Tentang Lingkungan Belajar – bagian kedua


Memelihara lingkungan sosial emosional dengan  membangun komunitas   



“Educating the mind without educating the heart is no education at all” - Aristotle

Di kelas, guru dapat memulai  meluangkan waktu  dengan baik,  setiap hari bertemu sebagai sebuah tim. Kemudian memulai  hari dengan pertemuan, menyampaikan satu pepatah, ajaran kebaikan, hadits, atau perkataan orang-orang bijak sebagai “kredo” dan penyemangat pagi.

Kemudian secara acak memilih sebuah frasa dari kredo dan mendiskusikan apa artinya dan bagaimana kaitannya dengan kehidupan. Kemudian mengambil beberapa menit  kesempatan bagi setiap murid merasa bebas untuk berbicara tentang apa pun; topik berkisar mulai tentang bagaimana perasaan mereka pagi itu, bagaimana perjalanan menuju sekolah, apa yang mereka pikirkan tentang sebuah tontonan di TV, game bagus yang bisa memberikan inspirasi, kucing perliharaan hingga teman main yang tidak asyik.

94B07D46-2833-443C-9856-84F5F4091EDE

picture from: https://blog.definedlearning.com/hubfs/shutterstock_1181532505-3.jpg


Guru-guru adalah kumpulan ‘team guide’ bagi para murid yang mengembangkan kemampuan rasa solidaritas dan empati serta kekuatan kerjasama. Guru juga perlu mengagendakan acara santai bersama murid di luar aktifitas belajar kelas seperti makan siang bersama, membuat pameran karya seni, menonton, membuat konser amal. Hal tersebut dapat membangun motivasi belajar dan suasana sosial emosional yang positif.  

Lingkungan emosional ditandai dengan rasa hormat, kepedulian terhadap sesama, penerimaan, saling percaya, saling menghargai perbedaan, rasa bahagia dan dukungan.

Sekolah dengan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan sosial dan emosional memberi banyak manfaat untuk pengembangan keterampilan anak kelak ketika dewasa. Dan memberi pijakan kuat untuk mempersiapkan mereka di dunia kerja. Jika murid kita ingin terjun ke dunia kerja sebagai wirausaha mandiri, dengan perusahaan sendiri, sebagai pekerja lepas, atau di perusahaan lain, mereka harus memiliki kepercayaan diri, mereka harus melek emosi, dan mereka harus terampil dalam kolaborasi dan kerja tim.

 
Untuk membantu para murid  mengembangkan keterampilan tersebut, sekolah harus menyediakan konteks dan struktur yang dirancang dengan tepat dan sengaja. Sekolah harus memikirkan dan memfasilitasi sarana pengembangan itu dengan baik. Jadi bangunan sekolah seperti bangunan rumah tinggal yang nyaman akan memengaruhi perkembangan emosi, kemampuan diri, dan kecerdasan yang sesuai dengan karakter masing-masing murid.

 

 Lingkungan belajar mendukung pembelajaran berbasis proyek – project based learning 


Berikut adalah kutipan dari pendapat para ahli tentang mengapa sekolah perlu memfasilitasi aktifitas pembelajaran berbasis proyek saat ini:

 

Sylvia Chard

 

Sylvia Chard adalah profesor Emeritus Pendidikan Dasar di Universitas Alberta, penulis Engaging Children's Minds: The Project Approach , sebuah buku populer untuk guru anak-anak kecil tentang belajar melalui proyek.

Mengapa pembelajaran proyek itu penting?

"Salah satu keuntungan utama dari pekerjaan proyek adalah membuat sekolah lebih seperti kehidupan nyata. Dalam kehidupan nyata, kita tidak menghabiskan beberapa jam setiap kali mendengarkan otoritas yang tahu lebih banyak daripada kita dan yang memberi tahu kita apa yang harus dilakukan. dan bagaimana melakukannya. Kita harus bisa mengajukan pertanyaan dari orang yang kita pelajari. Kita harus bisa menghubungkan apa yang orang itu katakan kepada kita dengan apa yang sudah kita ketahui. Dan kita harus bisa membawa apa yang sudah kita ketahui dan pengalaman yang kita miliki yang relevan dengan topik di depan pikiran kita dan mengatakan sesuatu tentangnya."

Vicki Davis

 

Vicki Davis, seorang guru sekolah menengah dari Georgia, adalah salah satu pendiri Flat Classroom Project pemenang penghargaan dan penulis di blog. 

Mengapa kolaborasi harus dibangun menjadi sebuah proyek? 

"Jika seseorang mengajar matematika, Anda dapat membicarakannya sepanjang hari dan melihat masalah di papan tulis; namun, siswa mulai memahami matematika ketika mereka mengerjakan soal. Masalah adalah bagian penting dari matematika, dan kita tidak boleh menghindar. dari penggunaan kata itu."

“Untuk memahami kolaborasi, baik tatap muka maupun global, siswa juga harus bekerja pada masalah yang mereka hadapi satu sama lain. Kita harus mulai melihat perjuangan interpersonal antara siswa bukan sebagai masalah dalam arti sesuatu untuk dihilangkan. melainkan sebagai skenario pengajaran yang potensial. Memiliki masalah kehidupan nyata untuk melatih siswa akan membantu mereka memahami keterampilan yang mereka butuhkan untuk bertahan dan berkembang di dunia nyata ruang kolaboratif online dan off-line."

 

"Bisnis di mana-mana menuntut keterampilan seseorang, dan sekarang mereka juga mencari keterampilan manajemen proyek kolaboratif secara online. Ini bukan sesuatu yang akan terjadi besok; ini terjadi hari ini. Siswa dapat menjadi buku pelajaran terbaik untuk satu sama lain, tetapi jenis pembelajaran itu membutuhkan perubahan dalam cara kita, para guru, melihat masalah."

 

Chris Lehmann

 

Chris Lehmann adalah kepala sekolah pendiri Science Leadership Academy , di Philadelphia. Science Leadership Academy adalah sekolah menengah yang menarik,  yang menekankan pembelajaran berbasis proyek yang digerakkan  oleh aktifitas  inkuiri. Sebuah kemitraan antara School District of Philadelphia dan Institut Franklin, SLA berfokus pada sains, teknologi, matematika, dan kewirausahaan, dan menekankan nilai-nilai inti dari penyelidikan, penelitian, kolaborasi, presentasi, dan refleksi di semua kelas.

"Pembelajaran berbasis proyek dan inkuiri masuk akal bagi pelajar saat ini karena memberi mereka kesempatan untuk menghubungkan pekerjaan yang mereka lakukan di sekolah dengan dunia yang lebih luas di sekitar mereka. Kita harus berhenti mengatakan bahwa sekolah adalah "persiapan untuk kehidupan nyata" dan mengakui bahwa sekolah adalah kehidupan nyata bagi anak-anak saat mereka berada di dalamnya. Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan hal itu terjadi dengan cara yang kuat dan bermakna."

 

Menurut Buck Institute for Education (1999) belajar berbasis proyek memiliki karakteristik berikut :

1.    Siswa membuat kepuutusan dan membuat kerangka kerja

2.    Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya

3.    Siswa merancang proses untuk mencapai hasil

4.    Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan

5.    Siswa melakukan evaluasi secara kontinu

6.    Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan

7.    Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya

8.    Kelas memiliki atmosfir yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan. Selengkapnya di tautan ini.

 


[BungRam-02112021]

 

Artikel pendidikan

Artikel parenting