Hubungi BungRam    

Guru ‘Toxic’



#karakterguru


Istilah toxic sekarang banyak digunakan di berbagai term atau ungkapan dalam pergaulan masyarakat, mulai kalangan remaja, kalangan anak sekolah, kelompok pegiat media sosial hingga akademisi. 


Kata ‘toxic’ diartikan dengan ‘beracun’, biasanya identik dengan istilah dalam hubungan antar individu, kelompok, atau komunitas. Hubungan yang tidak sehat sering dianggap beracun karena sebenarnya secara emosional dan terkadang berbahaya secara fisik bagi satu orang. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Lillian Glass dalam bukunya tahun 1995 Toxic People dan digunakan untuk menunjukkan hubungan yang dibangun di atas konflik, persaingan, dan kebutuhan satu orang untuk mengendalikan orang lain.


Bagaimana dengan dunia pendidikan?

Dunia pendidikanpun tidak terbebas dari jerat hubungan ‘toxic’. Hubungan ‘toxic’ yang terjadi di dunia pendidikan umumnya bisa bersumber dari beberapa personal:

 

1. Siswa terhadap kawannya

2. Guru terhadap siswanya

3. Guru terhadap sesama guru

4. Kepala sekolah terhadap guru

5. Guru terhadap kepala sekolah

6898AC85-7F89-49A3-9DE4-8442E132CBEC

Source:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTMn-o5VUYvGYgOaiYwnFjWjqOQFBHUWR0W0w&usqp=CAU

6. Pimpinan/yayasan/pejabat tertinggi sekolah kepada seluruh guru dan karyawannya

7. Orangtua terhadap murid

8. Orangtua terhadap guru

9. Orangtua terhadap sesama orangtua

10. Antar tenaga non guru


Dari beberapa pengalaman saya di dunia pendidikan, selain pimpinan tertinggi, orangtua yang ‘toxic’, guru ‘toxic’ adalah personal yang sering saya dapati. Guru ‘toxic’ adalah yang memiliki sifat, atau sikap guru yang tidak layak ada dalam pribadi guru tersebut. Guru ‘toxic’ dapat merugikan sekolah, sesama teman sejawat, bahkan yang paling sering terkena dampak adalah peserta didik. 

 

Sikap/sifat ‘toxic guru yang paling teratas adalah tidak disiplin/malas, dan  pemarah/galak terhadap peserta didik. Seseorang yang malas, tidak disiplin, tidak layak menjadi guru. Karena sikap tersebut akan memengaruhi kinerja dan kelangsungan proses pendidikan di tengah-tengah kehidupan lembaga pendidikan, bersama teman sejawat, dan berpengaruh terhadap hak-hak peserta didik yang diajarnya.  Sementara sikap pemarah, bukanlah sikap yang baik, apalagi terhadap peserta didik yang seharusnya memerlukan hubungan yang hangat, membutuhkan dukungan moril, kepedulian, dan motivasi untuk memfasilitasi perkembangan diri dan kemampuan serta keterampilannya. 

 

Guru ‘toxic’ bisa jadi karena dipengaruhi oleh budaya sekolah yang negatif, atau pergaulan, komunikasi antar guru yang negatif. Tentang ‘Sekolah Toxic’ akan saya bahas di artikel mendatang.


 

Berikut ciri-ciri Guru ‘Toxic’:

 

1.  Malas, tidak disiplin

 

Ini sikap ‘toxic’ paling berbahaya jika ada dalam pribadi seorang guru. Guru ‘toxic’ malas belajar untuk pengembangan dirinya dan profesinya. Sebagian besar karena para guru ‘toxic’ ini mengambil jalan menjadi guru bukan karena ‘passion’ nya menjadi tenaga pendidik dan pengajar, berdasarkan kompetensi yang dimilikinya. Ketidakdisiplinan juga seringkali saya lihat sebagai problematika para guru di sebagian besar lembaga sekolah. Baik sekolah negeri maupun swasta. Dimulai dari ketidakdisiplinan dalam mengerjakan kewajibannya terkait persiapan mengajar, perangkat pendukung pembelajaran, disiplin mengikuti kegiatan serta  disiplin kehadiran di sekolah.

 

2. Tidak peduli kesulitan siswa


Sebagai seorang guru sudah seharusnya telaten dan sabar menghadapi kesulitan-kesulitan siswa dan berbagai macam permasalahan di kelas. Karena tidak semua siswa memiliki kemampuan atau kecerdasan intelektual yang sama. Guru yang tidak peduli dengan kesulitan siswa dalam belajar adalah guru yang ‘toxic’. Ketidakpedulian itu bisa disebabkan karena ketidakmampuan guru dalam mengembangkan keterampilan mengajar, kemampuan menggunakan berbagai strategi yang kreatif dan Inovatif dalam mengajar. Sehingga yang dilakukan adalah mengutamakan kemampuan murid yang cerdas, kuat menghafal, untuk mengikuti kegiatan belajar bersamanya.


 3. Galak dan suka menghukum


Belajar yang efektif adalah tatkala setiap anak telah siap untuk menerima pembelajaran, nyaman, dan dalam kedaan emosi yang positif. Anak yang takut akan hukuman, tekanan, atau ancaman dari guru karena memiliki sifat galak akan membuat emosi anak negatif, kemudian ia akan belajar di bawah tekanan dan rasa ketakutan. Maka dari itulah guru yang galak dan suka menghukum, termasuk guru yang ‘toxic’.

 

4.  Senang bergosip


Seorang guru yang menghabiskan waktunya untuk bergosip mungkin adalah seorang guru yang tidak menghabiskan cukup waktu untuk fokus pada persiapan dirinya dalam mengajar, yang buruk manajemen waktunya untuk meningkatkan kapasitas dirinya, dan kurang perhatian terhadap kebaikan siswanya. Guru penggosip adalah guru ‘toxic’. Kebanyakan dari mereka adalah tukang mengeluh dan tidak kreatif, bahkan menjadi “pengganggu” dan ‘toxic’ bagi guru lainnya dalam sebuah lembaga.


5.  Pencari muka


Ini adalah ‘toxic’ yang sering tersembunyi. Para ‘pencari muka’ dalam dunia kerja merupakan orang-orang yang memiliki kelemahan psikis dan sangat tidak percaya diri. Dalam beberapa kasus, sikap ‘toxic’ ini muncul berwujud sebagai pengadu domba dan penebar berita tidak benar alias hoaks, demi meraup citra diri sebagai bawahan yang loyal namun sesungguhnya perusak hubungan kerja di dalam lembaga. Kebiasaannya menjadi “pemuas” atasan dengan pencitraan diri dan penyampaian informasi sepihak, adalah cerminan bahwa guru pencari muka adalah pecundang yang tidak memiliki keterampilan kecuali merugikan teman sejawat dan juga suasana keakraban komunitas.


6.  Berorientasi materi


Guru ‘toxic’ berikutnya adalah para guru yang bekerja bukan atas dasar pengabdian, idealisme dalam meningkatkan profesi secara baik dan terhormat. Guru yang memiliki orientasi materil bekerja bukan karena ia menyukai perkerjaannya menjadi pendidik, namun karena ia merasa bahwa tugas mendidik adalah pekerjaan berbayar yang ketat dengan hitungan nominal uang. Guru ‘toxic’ seperti ini tidak pernah termotivasi  akan masa depan murid dan tujuan mulia pendidikan. Namun ia mengeksploitasi diri dan muridnya demi keuntungan materil dan tujuan jangka pendeknya sendiri. 


[BungRam-15122021] 


Artikel pendidikan

Artikel parenting