Hubungi BungRam    

Memahami konteks “al khonnas” di era digital

Bagikan

35F3975C-D87A-411C-AADE-92747D0651CC


 

وعن ابن عباس  - رضي الله عنهما - قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " الشيطان جاثم على قلب ابن آدم ، فإذا ذكر الله خنس ، وإذا غفل وسوس " . رواه البخاري

 

Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘an huma, bahwa Rasulullah SAW berkata; Sesungguhnya setan itu bercokol di hati anak Adam. Apabila ia berzikir, setan itu mundur menjauh, dan bila ia lengah, setan berbisik” (HR. Bukhari)

Jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini diperkirakan 63 juta orang. Sekitar 95 % dari jumlah tersebut adalah pengguna media sosial, atau lebih banyak menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. 


Menurut Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) , Selamatta Sembiring situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India. Kemudian, dari sekian media sosial, masyarakat Indonesia termasuk pengguna Twitter aktif menduduki peringkat 5 di dunia.


Media sosial seperti Facebook dan Twitter merupakan media komunikasi digital yang  secara massif sering disusupi berita atau ujaran negatif. Bahkan kampanye negatif dalam urusan politik. Para pegiat media sosial menyebutnya dengan istilah buzzer, yang secara umum awalnya sama dengan influencer dalam hal komunikator jasa atau produk suatu perusahaan. Namun ketika para ‘pendengung’ ini dilibatkan dalam ajang pertarungan politik, buzzer mendapat cap negatif sebagai pihak yang dibayar untuk memproduksi konten negatif di media sosial.


Istilah ‘al khonnas’ bisa kita tarik ke dalam terminologi konsep buzzer dalam hal perannya mendengungkan melalui berita, opini, atau memengaruhi orang lain untuk menarik perhatian atau membangun percakapan, lalu bergerak dengan motif tertentu. Dan dalam komunikasi digital, kegiatan mendengungkan itu bisa disebut “waswas” – sebagaimana di  dalam surat an Naas ayat ke-4. 

Secara etimologi al khonnas artinya  kembali, mundur, bersembunyi. Kata yang digunakan dalam kalimat pada ayat ke-4 surat an Naas mengandung makna sering kali atau banyak sekali. Dengan demikian makna ‘al khonnas’ dimaknai oleh ulama tafsir, setan yang sering kali kembali menggoda manusia pada saat sedang lengah dan melupakan Allah. Sebaliknya, setan sering kali mundur dan bersembunyi saat manusia berdzikir dan mengingat Allah. 


Imam Thabari di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa “al khonnas” (setan pembisik) adalah semua yang tak tampak yang membuat ragu dan lengah dari zikir/ingat Allah, yaitu setan (sifat, bukan wujud). Jelasnya, khannas adalah yang membisikkan sesuatu untuk melakukan perbuatan tidak baik dari dari jin maupun manusia. Jika seorang hamba ingat kepada Allah, maka khannas pergi, jika lupa dan lengah, ia kembali.


Era digital, media komunikasi  bertransformasi, dari sebelumnya memiliki keterbatasan visual dan minim eksposur, yang awalnya hanya dapat diakses satu arah (monolog). Kini menjadi media komunikasi mampu memfasilitasi berbagai kepentingan yang membuka pintu lebar kepada setiap penggunanya. Setiap orang bisa menjadi objek konten  komunikasi secara digital, atau bisa menjadi pembuat konten digital. 


Setiap pembuat konten digital di media sosial, bisa menjadi ujung tombak suatu produk, memberikan kesempatan pihak tertentu mengambil jasa marketing darinya, untuk menyebarkan informasi, merevitalisasi performa, atau bahkan memanipulasi.


Memaknai konteks ‘bisikan’ setan ‘al khonnas’ – waswas al khonnas  saat ini dari aktifitas masyarakat dalam berkomunikasi via media sosial, memberikan beberapa sisi pemahaman jika dikaitan dengan apa yang dilakukan ‘pembisik’ (al khonnas) dari bangsa jin, dengan apa yang dilakukan oleh pembuat konten media sosial, dalam hal ini para buzzer. Karena dalam ayat terakhir surat an Naas, bahwa ‘al khonnas’ itu terdiri dari dua macam, dari bangsa jin, dan dari manusia, (minal jinnati wan naas).


Pertama, memahami apa yang diistilahkan dalam al quran sebagai ‘waswas’ dengan arti membisikkan, yaitu membisikkan sesuatu kepada hati manusia untuk melakukan maksiat, atau berpaling dari Allah SWT. Setan (dari bangsa jin) masuk melalui pintu waswas tersebut. Ia membisikkan hal-hal yang negatif, mengajak, memberikan ilusi dan memanipulasi secara halus. Menurut Imam al-Qusyayri, “al khonnas” masuk melalui waswas, yang berarti bisikan untuk mengikuti hawa nafsu, agar menyimpang dari agama, untuk melakukan perbuatan maksiat, atau agar memiliki perangai yang buruk. Hanya dengan pintu waswas ini setan ‘al khonnas’  bisa masuk ke manusia. 


Para pembuat konten media sosial pun bisa kita pahami sebagai seseorang yang melakukan aktifitas komunikasi massa berbasis digital dengan tujuan membisikan (pesan implisit) dari postingannya, ujaran, narasinya atau visualisasinya di media sosial. Tentunya ketika konten atau “bisikan” tersebut bermuatan negatif (yang kadang sulit dipahami oleh orang awam – lengah fakta atau pengetahuan), karena bias dengan berbagai informasi hoaks. 


Dalam kondisi massifnya informasi yang disebarkan via media sosial, para buzzer masuk melalui keawaman masyarakat penikmat media sosial (yang lengah) dan melakukan seperti apa yang dilakukan ‘al khonnas’ dari bangsa jin, yaitu memalingkan atau memanipulasi kebenaran. 


Kedua, dalam arus informasi serba instan dan rawan disusupi berita bohong atau hoaks ini, orang-orang yang berprofesi sebagai ‘pendengung’ (buzzer) dapat meraih keuntungan dari pihak tertentu yang menginginkan segala tujuannya tercapai melalui pemanfaatan media komunikasi berbasis digital. Eksistensi buzzer yang awalnya adalah semacam endorser, influencer,  kemudian bermetamorfosis menjadi “pembisik” kelompok atau orang tertentu dalam politik. Mereka meramaikan media sosial dengan tujuan menyebarkan propaganda yang pro atau anti sari kelompok, partai, pemerintah, atau politisi. Mengalihkan isu penting, melakukan polarisasi, bahkan membully pihak lain yang berlawanan.

Dari sisi ini, konteks ‘al khonnas’ dari golongan manusia bukan saja mengambil untung untuk dirinya, namun memberikan keuntungan untuk pihak lain yang menggunakan jasa “waswas”nya melalui media sosial. 


Ketiga, dunia digital dan perkembangan komunikasi melalui media sosial memberikan peluang orang terjebak dalam budaya amplifikasi berita, isu, atau opini telah dipahami sebagai keniscayaan lompatan perubahan dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia secara global. 


Perangkat digital, selain memudahkan kerja dan praktik marketing,  juga sebagai sarana media sosial  yang memfasilitasi setiap orang berinteraksi secara personal atau kelompok dalam waktu yang bersamaan dan bisa saling berkirim pesan, berita,  secara teks atau gambar,  lebih cepat dan mudah. 

Perubahan itu tentunya memiliki dua sisi utama sebagaimana layaknya kemajuan teknologi dalam bidang lain, misalnya dalam hal teknologi persenjataan, yang memiliki sisi positif dan juga negatif.


‘Al khonnas’ dari sisi keterlibatan seseorang dalam grup-grup chat yang sering tidak memfilter apapun yang dibagikan di dalam grup, tanpa disadari melakukan amplifikasi berita hoaks. Apalagi jika isunya sedang hangat. Penyebaran hoaks dari grup-grup chat bisa jadi lebih efektif, karena di medium itu, kerja ‘al khonnas’ lebih powerful dilakukan oleh ‘pembisik’ dari golongan jin dan juga manusia.


Jadi, dari konteks interaksi di grup-grup chat, di lini masa akun media sosial, kita memahami bahwa seseorang akan mudah terseret jaringan kerja para “pembisik” di media tersebut, dan kemudian tanpa  disadari bisa juga berubah menjadi “al khonnas” berikutnya.


Budaya komunikasi yang sudah berubah ini, paling tidak memberikan banyak pelajaran kepada kita semua jika saja kesadaran kita cukup baik dalam memahami  dampak dari pekerjaan membisikkan pesan negatif secara implisit atau eksplisit via layar gadget.  Lalu memberikan kuasa kepada hati kita untuk menolak ajakan ‘al khonnas’  untuk melakukan “waswas” bersama. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas di atas dari sabda Rasulullah SAW, Apabila ia berzikir, setan itu mundur menjauh, dan bila ia lengah, setan berbisik. Kelengahan disebabkan karena kita tidak membentengi hati kita, pikiran kita dengan wawasan tentang bagaimana seharusnya bermedia sosial. 


Dengan “berzikir” atau memahami konteks dampak perilaku ‘membisikkan’ berita, menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya, atau menyebarkan ujaran kebencian, fitnah dan narasi negatif lainnya, kita akan selamat, dan membuat setan dari jin dan manusia mundur, dan melemah.

Nice to read
002BB3D9-38E3-47BF-BF21-8A31E9E89ABA
Bagaimana melatih anak berpikir kritis?
18FEFC71-895F-4D79-BCFB-666CFC088C9D
Sakit Secara Sosial, Perspektif Neurosains
1003F8EA-FA1F-459D-BA8B-9252A804E2FF
Fakta menarik tentang orang kidal
BF90FB4E-EA91-4384-946C-F7DB89F59344
Pelajaran sejarah, pintu pendidikan politik generasi bangsa
C5BCFDFC-AD86-4A73-9738-3F04E3AAED5F
Pendidikan lingkungan hidup
142A8464-1D3C-4BE2-88A5-917615D1858A
Merdeka dari penjara kesenangan orang lain

Recomended

877E8EE5-7985-46A8-B162-9152630BAD9C

Melatih anak membuat keputusan sendiri - Sticky Notes Guru Kelas – #11

Anak-anak cenderung melakukan tindakan karena spontanitas, atau dipengaruhi oleh keinginan orang lain. Banyak kecenderungan anak-anak berbuat sesuatu bukan karena keputusannya sendiri, melainkan karena intruksi. Sehingga kemampuannya untuk belajar membuat keputusan menjadi kurang terasah. Anak-anak menjadi tidak independen. Mereka kurang percaya diri dan kurang mandiri.

Selengkapnya

C8BDFE64-836E-434A-A3BA-EEDA3DF07A56

Pelarangan Mudik Lebaran dan Politisasi Kebijakan

Pemerintah resmi melarang masyarakat untuk melakukan mudik lebaran tahun ini melalui surat edaran Satgas Penanganan Covid-19. Dalam SE tersebut, dijelaskan bahwa setiap anggota masyarakat dilarang melakukan perjalanan antarkota/kabupaten/provinsi/negara untuk tujuan mudik. Lantas, apakah mudik lokal atau jarak dekat tetap diizinkan? 


Menurut Doni Monardo, ketua Satgas Penanganan Covid-19, penularan Covid-19 terjadi karena adanya interaksi antar manusia. Oleh karena itu, Doni berharap agar mudik Lebaran tahun ini, baik jarak jauh maupun lokal, dapat ditiadakan. Hal tersebut ia sampaikan saat  Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Covid-19 Nasional.

Selengkapnya

Tulisan menarik lainnya