Hubungi BungRam    

Membangun Rasa Percaya Diri Anak

Inilah Kebutuhan Dasar Anak Untuk Membangun Rasa Percaya Diri



#percayadirianak

“You are not your mistakes, they are what you did, not who you are.” 

(Lisa Lieberman)



Dalam sebuah sesi parenting, seorang Ibu bertanya tentang permasalahan kepercayaan diri anak. Pasalnya ia merasa anaknya yang berusia 8 tahun sangat pemalu, dan sering sulit bercerita tentang apa yang telah ia lakukan dari aktifitasnya di sekolah. Beberapa keadaan, si anak disebutkan kurang mampu bersosialisasi dengan teman sebayanya, dan cenderung menutup diri beraktifitas  di rumah. 

Rasa percaya diri erat hubungannya dengan harga diri – self esteem. Sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1969, di mana psikolog Nathaniel Branden berpendapat bahwa sebagian besar masalah mental atau emosional yang dihadapi orang dapat ditelusuri kembali ke harga diri yang rendah. Branden meletakkan dasar untuk aktifitas  harga diri dengan pernyataannya bahwa meningkatkan harga diri seseorang tidak hanya dapat menghasilkan kinerja yang lebih baik tetapi bahkan dapat menyembuhkan patologi.

Rasa percaya diri pada seorang tentu memiliki ‘benang merah’ dengan pengalaman hidupnya bersama orangtua, bersama keluarga, bersama teman sebaya. Secara mendasar, ada beberapa kebutuhan emosi anak yang harus dipenuhi agar masa tumbuh kembangnya dapat memiliki harga diri yang menguatkan rasa percaya dirinya.


Apa saja kebutuhan dasar emosi anak yang perlu diperhatikan dan difasilitasi oleh orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya diri?


1. Merasa aman dan nyaman


Rasa aman dan nyaman yang dirasakan anak dalam masa tumbuh kembangnya melahirkan ‘self esteem’ yang baik. Itu kemudian akan membangun pondasi kepercayaan diri yang baik pula.

86847C31-8DE8-4B15-9056-3CE046EFB447

Source: https://youthincmag.com/wp-content/uploads/2017/10/self-confidence.jpg


Dalam beberapa kasus, saya mendapati  anak yang pemalu, penakut di kelas, bahkan sulit belajar disebabkan permasalahan ketidakamanan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan keluarganya.


2. Merasa dicintai dan disukai


Pada tahun 2010, Duke University  Medical School melakukan penelitian terhadap  kurang lebih 500 anak sejak bayi hingga mereka tumbuh di usia 35 tahun, dan menemukan bahwa bayi yang tumbuh dengan Ibu yang penyayang dan penuh perhatian tumbuh dengan menjadi orang yang tangguh, bahagia dan tidak terlalu merasa cemas dalam hidupnya.


Rasa cinta mudah dikenal oleh anak dari sikap seorang Ibu. Secara emosi, anak yang diperhatikan, disukai, akan merasa dicintai. Hubungan emosi yang terjalin dari orangtua yang mencintai dan menyukai anaknya membentuk emosi positif sebagai pondasi awal harga diri dan kepercayaan diri.



Family enjoying in a cafe. Children are smiling and drinking a juice while the parents are drinking coffee. 

[url=http://www.istockphoto.com/search/lightbox/9786778][img]http://dl.dropbox.com/u/40117171/family.jpg[/img][/url]

[url=http://www.istockphoto.com/search/lightbox/9786682][img]http://dl.dropbox.com/u/40117171/children5.jpg[/img][/url]

Source: https://wordpress.com/2012/10/family-communication.jpg

3. Merasa terhubung dan hangat


Hubungan secara emosional dan sosial merupakan bagian penting menciptakan suasana positif dalam emosi anak. Harga diri yang terbangun dari sikap hangat orangtua terhadap anak juga membentuk emosi positif, memberikan dukungan rasa percaya diri, sehingga anak tumbuh dengan harga diri yang baik.


4. Merasa didengarkan, dipahami dan diakui


Orangtua yang menjadi pendengar yang baik terhadap anak-anaknya akan membangun pola komunikasi yang baik di lingkungan keluarga. Menurut para ahli,  anak yang sejak kecil merasa didengarkan, diperhatikan, akan tumbuh sebagai komunikator yang baik dan sekaligus pendengar yang baik. Kebiasaan berkomunikasi positif menunjukkan perhatian dan pemahaman. Pola asuh tersebut kemudian mendorong terbentuknya rasa percaya diri dalam diri anak.


5. Merasa didorong dan didukung

 

Dukungan adalah bentuk kasih sayang yang baik. Dukungan menunjukkan emosi positif dan karakter yang membentuk rasa percaya diri. Dukungan tentu bukan mengambil alih tanggungjawab. Dukungan dilakukan sebagai sikap keterlibatan orangtua dalam memfasilitasi kebutuhan anak untuk melakukan dengan kemampuan sendiri. Hal tersebut akan membangun rasa percaya diri dan keterampilan hidup.

 

6. Merasa tidak takut untuk berkata jujur

 

Mampu berkata jujur dalam berbagai situasi adalah modal dasar seorang anak  tumbuh dan berkembang dengan moral yang mengagumkan. Itu adalah nilai integritas awal yang bisa dibentuk oleh orangtua, bagaimana? Hindari ancaman dan hukuman saat anak bercerita tentang dirinya dan apa yang telah dilakukannya sebagai sebuah kekeliruan. Jika terpaksa orangtua memberikan sebuah konsekwensi sebagai sebuah “peringatan”, jangan membuat mereka putus asa dan trauma melakukan sebuah kekeliruan. Karena pada prinsipnya setiap kesalahan dapat diatasi dan diperbaiki. Rasa harga diri yang rendah berawal dari kehilangan kepercayaan dari orang lain, yaitu orangtua sebagai sosok pertama yang memberikan kepercayaan bagi anak untuk tumbuh. Berikan kesempatan bagi anak  untuk memperbaiki kesalahannya, memahami kekeliruannya, maka rasa percaya diri mereka akan menjadi kuat.



[BungRam-26122021] 

F44C29FF-437F-4191-A4A2-E0767410FF8F

Ruh Guru – #2

{"uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1625403749532","source":"other","origin":"unknown"}

Ruh Guru – #1 

Artikel pendidikan

Artikel parenting