Hubungi BungRam    

Mengembangkan Kemampuan ‘Self Compassion’

#personaldevelopment


"Aku tidak peduli!" Harry berteriak kepada mereka, menyambar lunascope dan melemparkannya ke perapian. Tidak peduli lagi!"

"Kau memang peduli," kata Dumbledore. Dia tidak bergeming atau membuat satu gerakan pun untuk menghentikan Harry menghancurkan kantornya. Ekspresinya tenang, hampir terpisah. "Kamu sangat peduli sehingga kamu merasa seolah-olah kamu akan mati kehabisan darah dengan rasa sakit itu."

Di bawah tekad membara Harry untuk mengalahkan Voldemort yang kejam, terdapat kesedihan yang luar biasa . Orang tuanya telah dibunuh ketika dia masih balita, dan meskipun dia telah menemukan teman-teman yang baik dan penyihir pelindung, dia sendirian dalam kesedihan itu. Menghubungkan lebih dalam dengan rasa sakit yang memicu tekadnya sepertinya akan membunuhnya juga.

Mungkin Anda pernah merasakan sesuatu seperti Harry. Perasaan sedih karena dukacita, istilahnya disebut ‘grief’; rasa sakit akut yang menyertai kehilangan. Karena itu adalah cerminan dari apa yang kita cintai, itu bisa terasa mencakup segalanya. Kesedihan tidak terbatas pada kehilangan seseorang, tetapi saat disertai kehilangan orang yang dicintai, itu mungkin diperparah oleh perasaan bersalah dan kebingungan, terutama jika hubungan (dengan seseorang) itu teramat dekat.

 

Kesedihan, duka cita akibat kehilangan dapat dilalui dengan mengembangkan kemampuan ‘self sompassion’. Seperti ungkapan dan reaksi  Harry Potter dalam cuplikan ‘Harry Potter and the order of the phoenix (5), respon Dumbledore kepada tindakan Harry sangat bagus. Ia mencoba memberitahu Harry bahwa kedukaan tidak akan mengembalikan kesedihan akibat kehilangan, atau perbuatan kejam orang lain. Dumbledore’s menyebutkan bahwa sesungguhnya Harry Potter sangat peduli (terhadap situasi) dirinya. Ia perlu memberikan perhatian, welas asih terhadap diri sendiri, alih-alih mengutuk, menyalahkan diri atau keadaan. 

Seseorang harus mampu memiliki welas kasih terhadap diri sendiri selain kemampuan berempati terhadap orang lain.  Memiliki welas kasih untuk diri sendiri  tidaklah berbeda dengan memiliki welas asih terhadap orang lain. Karena untuk memberikan sikap belas kasihan kepada orang lain, peduli atau berempati, Anda harus mampu merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh orang lain tersebut. 


Welas asih melibatkan perasaan tergerak oleh penderitaan orang lain, sehingga hati Anda merespons penderitaan mereka, seakan itu juga bagian dari penderitaan Anda sendiri. Anda mungkin akan menggunakan imajinasi, seandainya Andalah yang berada di posisi mereka. Ketika Anda datang ke kamp pengungsian bencana alam, membawa bantuan, Anda merasakan bagaimana jika Anda dan kekuarga ada dalam daftar pengungsi tersebut.


Dalam agama Islam sikap welas asih digambarkan dalam sebuah hadits: 

4F16B853-76FE-4752-BDF3-4428D767DB00

Source: https://blackwells.co.uk/jacket/l/9781914403903.jpg


''Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR Bukhari dan Muslim).


Mengembangkan kemampuan ‘self compassion’, memberikan pengalaman untuk menguatkan kepribadian. Ketika kita merasa sedih dan duka, atau menerima musibah. Sesungguhnya kita dapat melihat kondisi diri sendiri itu sama seperti ketika diri kita yang asli melihat tubuh kita sendiri dari sudut pandang luar. Bisa jadi kita menyesali dan menyakahkan diri sendiri, mengumpat atau mengutuk diri, namun akan lebih baik jika kita melihatnya sebagai sesuatu yang bisa dipahami dan dimengerti sebagai bagian dari jalan kehidupan, taqdir. .



Baca juga artikel tentang ‘personal development’



‘Self compassion’ mencegah dari menghakimi diri sendiri. Tindakan ini berarti kita berupaya bersikap positif, memandang ini adalah hal yang biasa. Karena sesungguhnya orang lain atau hidup ini tidak menuntut setiap kita untuk sempurna, bebas rasa sedih dan tidak boleh mengalami kegagalan.

Berikut saran Margaret Robinson Rutherford, Ph.D., penulis buku  Perfectly Hidden Depression: How to Break Free from the Perfectionism that Masks Your Depression bagaimana langkah mengembangkan kemampuan ‘self compassion’:

 

1. Lihat diri Anda sebagaimana Anda memandang orang lain — dengan belas kasih dan risiko merasa rentan. Seandainya Anda melihat orang dewasa melempari anak kecil dengan batu, apakah Anda pernah memberi tahu anak itu bahwa ketakutan atau kebingungan mereka tidak penting? Karena sesungguhnya sebagaimana anak tersebut (yang oenting) adalah Anda layak mendapatkan kasih sayang dan perlindungan. Jadi perasaan takut dan rentan itu didahului dengan sikap  memberikan kebaikan kepada diri Anda sendiri. Tentu dalam hal cerita anak dilemlari batu, perlindungan didahulukan dari sara takut dan renran. Hal itu mungkin perlu waktu bagi Anda berjuang melewatinya. Karena rasa takut memang bagian dari respons diri terhadap keadaan.

2. Kenali mekanisme pertahanan atau strategi yang Anda gunakan di masa lalu untuk mengatasi atau melepaskan diri dari rasa sakit atau trauma . Apa yang Anda katakan pada diri sendiri untuk tetap aman? Ketika tidak ada yang membantu — ketika tidak ada yang menghentikan orang tua Anda untuk meneriaki Anda, tidak ada yang memperhatikan intimidasi , saudara lelaki Anda memberi tahu Anda bahwa dia akan menyakiti Anda jika Anda pernah memberi tahu tentang pelecehan itu — Anda harus bertahan secara emosional, untuk menciptakan semacam keamanan. Jadi Anda mulai melepaskan diri dari rasa sakit dari apa yang terjadi.

Namun emosi itu tidak hilang; ia hanya disembunyikan atau ditekan. Dan ada harga yang harus dibayar untuk itu. Bisa jadi kondisi itu tidak menimbulkan efek  pada pilihan Anda, dan hidup Anda. Mulailah melihat bagaimana dinamika ini bisa terjadi. Kenali strategi masa lalu Anda sebagai membantu Anda bertahan hidup, tetapi juga melihat bagaimana hal itu bisa menciptakan masalah bagi Anda di masa sekarang.

3. Ganti strategi lama dengan strategi yang memungkinkan lebih bebas daripada  masa lalu, lebih spontanitas di masa sekarang, dan penerimaan diri yang baru ditemukan. Pada akhirnya, Harry Potter mengalahkan Voldemort. Dia menggunakan ingatan emosionalnya yang tersiksa — kesedihannya dari dan hubungannya dengan masa lalu yang sangat menyakitkan — untuk memberinya kekuatan untuk melakukannya.

Karena rasa sakit emosional mungkin terasa seolah-olah akan membunuh Anda. Namun jika Anda merasakannya, Anda tidak akan menjalaninya secara membabi buta. Saat Anda membutuhkan bantuan, silakan memintanya. Itu untuk membantu Anda  berbelas kasih, peduli terhadap diri Anda sendiri. [BungRam-27122021]


F734A09E-B9C1-4392-80A3-BC64014C37AF

Ruh Guru – #3

F44C29FF-437F-4191-A4A2-E0767410FF8F

Ruh Guru – #2

{"uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1625403749532","source":"other","origin":"unknown"}

Ruh Guru – #1 

Artikel pendidikan

Artikel parenting