Hubungi BungRam    

Meraih ‘Values’ dari Bulan Suci Ramadhan

#ramadhan

 Bagaimana kita meraih kesempurnaan Ramadhan?

Perkuat kemampuan kita belajar akan values dari bulan yang mulia ini.

Ada banyak pengalaman yang bisa kita jalani, ada banyak hikmah yang bisa kita raih. Namun jangan sampai kekhususan bulan suci ini kembali menarik kita hanya kepada semangat  mengikuti riuh ramai cita rasa makanan berbuka dan gempita iklan berbelanja, meyambut bulan puasa.

Bulan puasa bukan bulan khusus belanja. Bulan puasa justru harus sepi dari keinginan diri yang selama ini sudah terpuasi. 

Hidupi Ramadhan dengan keheningan, evaluasi diri, menyisir berbagai noda hati, membangun pagar mawas diri, sekaligus meruntuhkan dinding ego dan keserakahan.

Jika bulan Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun, mestinya dampaknya berkali-kali dalam hidup. Tentu itu tidak cukup dengan cerita dan ceramah retorik dari atas mimbar, tidak dari penuhnya shaf masjid memasuki putaran awal tarawih yang berjubal. Bulan  ini harus bisa menjadi kalibrasi bagi perilaku di bulan-bulan lainnya. 

Dari situ kita berpeluang meraih derajat taqwa.


#ramadhankareem #ramadanvibes🌙 #thevalues #insan

Jangan “kambing hitamkan” Ramadhan - Permasalahan TOA dan Ajaran Nabi

Perkembangan dinamika sosial  saat ini, menurut saya perlu disikapi dengan baik, rasional, tanpa memposisikan seluruh aktifitas ritual kegamaan sebagai bagian pokok dari sebuah ajaran, atau ibadah.  

Maksudnya, jika zaman dulu yang tidak seramai sekarang, aktvitas keagamaan tidak seheboh atau “terkontaminasi”  sentimen perbedaan. Karena pluralitas adalah hal yang sudah dinikmati dengan baik. Berbeda dengan zaman sekarang, pluralitas justru menghadapi tantangan yang tidak ringan, karena pengaruh kemajuan zaman, kemajuan berpikir sebagian orang, dan kejumudan sebagian yang lain. Dan situasi tersebut menjadikan orang mudah tersulut emosinya, disebabkan  kegagapan bermedia sosial, dan minimnya literasi keagamaan yang rada terdistorsi. 

Tapi hal menarik lainnya menurut saya saat ini, adalah masalah sensitifitas, terkait juga dengannya masalah kepekaan sosial dan berpikir rasional.“Kebisingan” acara keagamaan (di bulan Ramadhan) menurut saya sudah ada sejak zaman sebelum twitter dan media sosial lainnya jadi ajang “lembah perang”. Khusus untuk twitter, karena medianya adalah  tempat “mengoceh bebas” secara digital, jadi platform yang satu ini amat mudah menimbulkan “kebisingan” melebihi bisingnya ‘TOA’ masjid. 

Lalu permasalahan TOA masjid kembali muncul, terutama di bulan Ramadhan. Salahkah orang yang bersikap ‘kritis’ terhadap penggunaan pengeras suara di bulan ini, karena dianggap “mengganggu”?Meski sebagian masyarakat yang melihat aktifitas tersebut justru harusnya dianggap wajar (di bulan Ramadhan) dengan dalih membangunkan sahur? Atau membaca Quran di malam hari menggunakan pengeras suara?

Selengkapnya…


Info GTK Kemendikbudristek

Menarik untuk dibaca