Hubungi BungRam    

Modeling Behavior
28E7AD7E-74E0-4E07-AE22-6233D35DA775

Bagikan

Bagaimana anak mencontoh orangtua mereka?

  

Orangtua, baik Ayah atau Ibu, atau orang dewasa lainnya adalah model yang paling ideal di masa awal-awal tumbuh kembang anak di lingkungan rumahnya. Seorang ahli hubungan keluarga menceritakan kisah seorang ayah yang pulang kerja dan dimarahi oleh putranya karena terus menatap gadgetnya, alih-alih mendengarkan apa yang dikatakan putranya. Di bangkuntempat duduk di area olahraga, seorang Ayah terlihat menyemangati anak-anak yang sedang bertanding sepintas, menyoraki sejenak, namun kembali wajahnya fokus ke layar telepon selularnya. 

 

Seorang Ibu, mengeluh dan mengumpat saat mengetahui masakannya gosong karena ia lupa mengecilkan api. Seorang Ibu lebih asyik menatap layar TV sambil mengatakan letak kaus kaki putranya yang sedang mencarinya,  daripada menoleh dan berbicara langsung untuk menunjukkan letaknya.

 


    
24600B59-9B4D-4B4C-BFC3-7791348FEF66

Situasai yang terjadi di atas itu adalah bagian dari ‘modeling behavior”, pemodelan perilaku. Yaitu perilaku orangtua yang, disadari atau tidak,  kerap dicontoh oleh anak-anak mereka.

 

Beberapa kebiasaan dan preferensi ayah atau Ibu  kita tertanam dalam jalinan akan menjadi siapa kita kelak  — bahkan karakteristik itu, di masa muda kita, sering  kita abaikan.  Anak-anak tanpa disadari oleh kita, atau mungkin kita sadari juga sejak kecil meniru perilaku kita. Beberapa meniru perilaku orang lain yang memiliki hubungan emosional dengan mereka.



Apa yang dilakukan oleh orangtua menjadi pelajaran riil dan aktual sebagai patron perilaku bagi anak-anak. Juga di sekolah, bagaimana teman sebaya, guru dan orang-orang di sekitar memberikan pengaruh terhadap pembentukan perilaku. Oleh jarenanya kita perlu memperhatikan apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan terhadap anak-anak, di rumah dan di sekolah.


Berikut hal-hal yang acapkali dijadikan model oleh anak-anak dari perilaku orang dewasa di sekitarnya:


 

1.    Bagaimana orangtua mengatasi suatu kesalahan

 

Saat orangtua melakukan kesalahan, entah disengaja atau tidak terhadap anaknya, atau terhadap oranglain, lalu bagaimana orangtua mengatasi perilaku salah dengan berkata atau bertindak dan itu diketahui oleh anak, maka anak akan merekam cara tersebut. Orangtua yang tidak mengakui bahwa itu kesalahan dia dengan melakukan manipulasi atau berapologi, secara tidak disadari anak-anak akan melihat polanya. Meniru gaya dan ungkapannya.  

  

2.    Bagaimana orangtua menyelesaikan masalah

  

Apakah Anda termasuk ‘good promblem solver?’ Atau Anda selalu bereaksi negatif jika menghadapi situasi sulit seperti masalah ban mobil kempes, listrik padam di malam hari, keterlambatan datang ke stasiun kereta, kehilangan barang kesayangan, atau terjebak di tengah kemacetan yang cukup lama. Jika Anda termasuk pengumpat dan mudah emosi menghadapi masalah tersebut, ketahuilah, mungkin ada perilaku tersebut pada anak Anda. 

 

3.    Bagaimana kita “mengatakan” untuk diri sendiri dan orang lain

 

Banyak Ayah atau Ibu senang mengatakan sesuatu tentang diri mereka di hadapan anak-anak. Atau bagaimana Anda ketika berbicara dengan tamu Anda. Saat Anda menyampaikan sebuah permohonan atau sanggahan kepada lawan bicara Anda. Anak-anak memperhatikan dan mengambil sebagian atau keseluruhan sikap Anda dalam situasi itu.

 

Di masa pertumbuhan dasar anak, penyerapan informasi secara auditori amat kuat pengaruhnya di dalam otak. Selanjutnya visual anak akan lebih peka merekam setiap gerakan dan kejadian di hadapannya kemudian menjadi model perilaku untuknya.

  

4.    Bagaimana kita meminta maaf dan memperbaiki (kesalahan)

 

Perilaku meminta maaf dan memperbaiki kesalahan adalah model yang patut dicontohkan untuk anak-anak. Ketika kita berbuat atau melakukan kesalahan, ungkapkan kalimat yang jelas bahwa itu adalah kesalahan kita, kemudian katakan “saya minta maaf”. Sebagai reaksi positif daripada kita berdebat dan mempertahankan  argumen sedemikian rupa, walau itu mungkin kita lakukan. Di hadapan anak, perilaku keberanian dan ketulusan meminta maaf adalah perilaku mulia yang seharusnya dipelajari oleh anak sejak dini.

 

5.    Bagaimana kita menavigasi konflik

 

Konflik adalah situasi perselisihan dan perbedaan pandangan atau argumen yang serius. Ketidaksepakatan antara ide dan kepentingan. Cara orangtua menavigasi adanaya konflik, baik antara Ayah dengan Ibu, dengan orangtua, mertua atau tetangga, menunjukkan kemampuan keterampilan memenej situasi dan emosi. Konflik ringan dapat diselesaikan dengan cara yang lebih mudah. Begitupun konflik yang berat, sejauh mana orangtua mengarahkan pokok permasalahan atau akar konflik menjadi tersentral   pada area untuk membicarakannya  sebagai tahapan penyelesaian. Perilaku mendahulukan proses komunikasi dalam menavigasi konflik dapat menjadi model yang amat baik untuk anak-anak. Karena biasanya anak-anak memiliki sifat impulsif, jika mereka tidak terbiasa menyaksikan metode komunikasi yang positif dari orangtuanya, kelak ia mudah marah, atau memukul kawannya.

 

6.    Bagaimana kita mendengarkan (pembicaraan) orang lain.

 

Keterampilan mendengarkan tidak muncul pada anak-anak dengan sendirinya. Keterampilan mendengarkan harus dilatih dan juga dicontohkan. Apakah Anda termasuk orangtua yang sering memotong percakapan anak saat meminta sesuatu? Apakah Anda termasuk orangtua yang biasa langsung menyelesaikan rengekan anak dengan imbalan atau hadiah? Ketahuilah itu adalah sebuah model bahwa Anda  bukan pendengar yang baik. Saat anak menangis meminta sesuatu, Anda hanya perlu bertanya, “Apa yang kamu inginkan nak?” Agar anak itu mau berbicara dan Anda siap mendengarkan. Pola itu akan ngajak Anak untuk memahami, bahwa tangisan bukan untuk mencapai apa yang ia inginkan, dan jakan lebih baik jika ia mengatakannya, karena Ayah atau Ibu pasti akan mendengarkan.

 

Kita adalah model perilaku bagi anak-anak kita. Sikap-sikap negatif berikut umumnya ditiru oleh anak sebagai bentuk ‘modeling behavior’:

 

·      Kikir

·      Pendendam

·      Possessive 

·      Memotong pembicaraan

·      Tidak mau mengalah

·      Mendominasi

·      Boros

·      Tidak higienis / jorok

·      Suka meminta 

·      Menyalahkan orang lain

·      Mengumpat

·      Mengeluh

·      Menyakiti hewan

·      Memukul


Sebagai orangtua, tugas kita memberikan hak-hak anak sesuai dengan fitrahnya. Pendidikan yang kongkret adalah perilaku yang dicontohkan secara nyata. Selebihnya adalah pengetahuan yang akan diserap sesuai dengan kemampuan dan anugerah Tuhan yang telah ada dalam setiap anak. Mari berikan yang terbaik dari diri kita dan berikan kemerdekaan anak untuk menjadi dirinya sendiri.


[BungRam-11062021]

Nice to read
C5FD7966-2D95-4A8E-A163-48095D88B2FC
Membangun Profesionalisme Guru di Sekolah
18FEFC71-895F-4D79-BCFB-666CFC088C9D
Sakit Sosial Perspektif Neurosains
BF90FB4E-EA91-4384-946C-F7DB89F59344
Pelajaran Sejarah, Pintu Pendidikan Politik Generasi Bangsa
C5BCFDFC-AD86-4A73-9738-3F04E3AAED5F

UNESCO menyatakan pendidikan lingkungan harus menjadi komponen kurikulum inti pada tahun 2025

Organisasi PBB, dalam hal ini UNESCO terus mengorganisir dan mengkampanyekan program penyelamatan lingkungan lewat jalur pendidikan. Maksudnya, dengan menegaskan pentingnya perhatian lebih banyak lagi dalam memberikan informasi dan pemetaan rencana jangka panjang pendidikan mengenai lingkungan hidup melalui kurikulum inti di setiap sekolah di seluruh jenjang.


Konferensi tersebut, diikuti secara online oleh lebih dari 10.000 penonton, diselenggarakan oleh UNESCO bekerja sama dengan Kementerian Federal Pendidikan dan Riset Jerman dan Komisi Jerman untuk UNESCO sebagai mitra penasihat. UNESCO telah menyerukan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan menjadi komponen inti dari semua sistem pendidikan di semua tingkatan pada tahun 2025Sebagaimana dilansir dari laman en.unesco.org mengenai berita hasil pertemuan Deklarasi Berlin beberapa waktu yang lalu, lebih dari 80 menteri dan wakil menteri dan 2.800 pemangku kepentingan pendidikan dan lingkungan berkomitmen untuk mengambil langkah konkret untuk mengubah pembelajaran demi kelangsungan planet kita dengan mengadopsi Deklarasi Berlin tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) di akhir Konferensi Dunia virtual selama tiga hari diadakan dari 17 hingga 19 Mei.  


Peluncuran publikasi baru UNESCO , yang menganalisis rencana pendidikan dan kerangka kurikulum di hampir 50 negara menginformasikan diskusi tersebut. UNESCO menemukan bahwa lebih dari setengahnya tidak merujuk pada perubahan iklim, sementara hanya 19% yang berbicara tentang keanekaragaman hayati. 


Sekengkapnya

Tulisan menarik lainnya