BB8BB7E9-5613-4B5D-B9FB-ED4518E4C148

2 November  2021 

{"source":"other","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1635854326859","origin":"gallery","fte_sources":[],"used_premium_tools":false,"used_sources":"{"version":1,"sources":[]}","premium_sources":[],"is_remix":false}

Seri Sekolah Abad 21 - #2

Tentang Lingkungan Belajar – bagian kedua 

Memelihara lingkungan sosial emosional dengan  membangun komunitas   

Sekolah dengan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan sosial dan emosional memberi banyak manfaat untuk pengembangan keterampilan anak kelak ketika dewasa. Dan memberi pijakan kuat untuk mempersiapkan mereka di dunia kerja.  


Selengkapnya

1 November  2021 

{"source":"other","uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1635733299873","origin":"gallery","fte_sources":[],"used_premium_tools":false,"used_sources":"{"version":1,"sources":[]}","premium_sources":[],"is_remix":false}

Seri Sekolah Abad 21 - #1

Tentang Lingkungan Belajar – bagian kesatu

Pemikiran tentang bagaimana sebuah kingkungan belajar dirancang untuk mendukung proses pendidikan dan pengajaran, memfasilitasi terlaksananya aktifitas belajar yang memberikan kemudahan mencapai penguasaan keterampilan abad 21 adalah hal penting yang kita harus perhatikan dan siapkan. Lingkunan fisik akan mendukung emosional dan sosial untuk kesuksesan belajar.


Selengkapnya

9 Oktober  2021 

0B923F40-40D7-4409-96DA-2E4CAE15E01D

Karakteristik Guru Abad 21

Perbincangan mengenai pendidikan di abad ke-21 menarik kita kepada pemikiran sebuah konsep dan sistem baru dalam dunia pendidikan, selain membicarakan tentang perkembangan teknologi. Pendidikan di abad ke-21 adalah upaya yang lebih serius, dinamis, kritis, derta jauh melompat kepada mendekatkan konektifitas secara integratif dan adaptasi perubahan yang cepat bersama lajunya dunia teknologi informasi berbasis digital. 

Untuk mengisi  celah di antara perubahan sistem, mode, dan tata cara dalam proses mendidik, dunia memerlukan guru yang cakap dan berkarakteristik sebagai guru abad ke-21.


Selengkapnya

1 Oktober  2021 

0CD71062-CBBD-4A60-89CB-7E25F629C512

Membuat Aktifitas SEL Pada Masa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Banyak orang, khususnya para guru mengakui bahwa belajar secara daring saat pandemi memengaruhi daya belajar dan kemampuan konsentrasi siswa. Selain itu, secara emosional anak-anak yang terlalu lama (pada masa pandemi) tidak melakukan interaksi secara langsung dalam proses pembelajaran bersama guru dan teman-teman kelasnya, dapat mengalami berkurangnya kepekaan sosial dan emosional.  

Praktik pembelajaran sosial dan emosional (SEL- Social Emotional Learning) di sekolah saat menjalani Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas dapat membantu siswa belajar memecahkan masalah, mengelola emosi mereka, meningkatkan dan membangun hubungan. Mengintegrasikan praktik SEL ke dalam budaya sekolah membantu memastikan bahwa siswa memperoleh keterampilan hidup yang penting ini.

Selengkapnya

31 Agustus 2021 

3DBB1945-2970-4A48-8887-46D5630E05AD

Membuat kerangka kerja penilaian karakter


Pengembangan kompetensi dan karakter murid dalam bentuk AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) merupakan tolak ukur dalam menilai kompetensi siswa dari dua hal utama; literasi dan numerasi. Kemudian penilaian karakter dalam bentuk survey karakter, adalah satu bagian yang menurut saya amat penting dalam melakukan proses pemetaan (sebagaimana tujuan utama yang telah ditetapkan oleh kemendikbud dari Asesmen Nasional ini). Karena Asesmen Nasional ini dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah untuk “memotret” dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan.


Kemudian, selain Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), instrumen Asesmen Nasional sebagai pemetaan kualitas pendidikan mencakup juga survey karakter dan survey lingkungan belajar. 


Bagaimana kerangka kerja penilaian karakter yang perlu dipahami dan disiapkan oleh para pendidik?

Selengkapnya

20 Agustus 2021 

F734A09E-B9C1-4392-80A3-BC64014C37AF

#3 Integritas


Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan.  Membangun dan membentuk nilai integritas tenaga pendidik tidak terlepas dari kultur sekolah yang berlaku dan dijalani dengan baik. Sekolah yang memiliki kultur kejujuran, bersikap konsisten, mengedepankan sikap akademis, menanamkan sikap semangat dan tulus dalam bekerja akan mudah menumbuhkan dan memperkuat integritas dalam setiap guru yang menjadi tenaga pendidik di sekolah. 


Apa/bagaimana membentuk, menumbuhkan integritas bagi seorang guru, agar menjadi ‘Ruh’ yang memperkuat kepribadian dan profesionalisme? 

Selengkapnya

10 Agustus 2021 

D61B2F60-5047-4815-9F4B-73A4903B7CC6

Menemukan Tujuan Dalam Proses Pendidikan


Ketika para siswa beraktifitas dengan guru di kelas atau di sekolah, maka proses belajar sedang berlangsung secara alami dan juga melalui kondisi yang disengaja oleh para guru atau instruktur. Ketika siswa menghadiri aktifitas sekolah secara teratur, ia sedang membangun hubungan, membangun komunikasi, melatih skill berinteraksi satu sama lain. Secara bertahap proses itu kemudian menjadi pola dalam perilaku belajar atau gaya belajar siswa. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi mengistilahkannya sebagai “flow”, keadaan di mana orang begitu terlibat dalam suatu aktivitas sehingga tidak ada hal lain yang tampak penting; pengalamannya sangat menyenangkan sehingga orang akan melakukannya bahkan dengan konsekwensi atau beban  biaya. 

Bagaimana pendidikan membantu para siswa menemukan tujuan-tujuan dirinya? Memberikan makna atas apa yang dilakukan secara rutin di sekolah sebagai aktifitas “flow” tersebut di atas, agar apa yang mereka alami, apa yang mereka ikuti, menerima arahan, instruksi dan lain sebagainya membantu menghadirkan sebuah konektifitas  yang baik, bermakna dalam hidup mereka?

Siswa Unggul Ketika Mereka Menemukan Tujuan—Bagaimana Guru Membantu Mereka? 

Selengkapnya

14 Juli 2021 

8F8A1D37-EF6F-4EE6-BFD8-C7781577DF90

Kesabaran

"Jadikan sedekah sebagai pelindungmu, zakat sebagai bentengmu, rasa malu sebagai pemimpinmu, kesabaran sebagai menterimu, tawakkal sebagai tamengmu.” 

Imam Syafi'i.


Dalam sebuah kisah, suatu ketika ada seorang raja besar, yang bepergian sendirian di hutan. Kemudian ia tersesat dan melihat sekeliling dari puncak bukit,  tetapi tidak dapat melihat orang atau desa di dekatnya. Hari mulai gelap. Setelah beberapa waktu, dia melihat semacam cahaya di kejauhan. Dia mulai berjalan ke arah itu dan segera mencapai sebuah gubuk. Di luar gubuk, ada seorang wanita tua yang sedang membersihkan tempat itu. Setelah melihat raja, dia menyambutnya tanpa mengenali siapa sesungguhnya orang tersebut. Wanita tua itu dengan berpikir bahwa laki-laki asing itu  adalah seorang prajurit dari pasukan Raja yang tersesat di hutan.Dia memberi raja air untuk membersihkan dirinya dan air untuk diminum.

Dia kemudian membentangkan tikar baginya untuk beristirahat. Rajapun mulai duduk meredakan lelahnya. Setelah beberapa waktu, dia memberi raja makanan, namun masih dalam keadaan panas, lalu meletakkannya di hadapannya. Raja yang merasakan sangat lapar dengan cepat meletakkan jarinya di atas makanan panas. Makanan panas membakar jari-jarinya, rajapun kesakitan dan menumpahkan nasi ke lantai secara spontan. Wanita tua itu melihat  dan berkata, “Oh, kamu tampak terlalu tidak sabar dan tergesa-gesa seperti rajamu, itu sebabnya jarimu terbakar dan kehilangan makanan”. 

Selengkapnya

04 Juli 2021 

{"uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1625403749532","source":"other","origin":"unknown"}

Keikhlasan

Keikhlasan adalah ruh seorang guru yang paling mendasar dan paling utama. Ikhlas artinya mengikatkan segala niat, keinginan, harapan dan realisasi perbuatannya dengan Allah SWT. Yaitu menjadikan apa yang seseorang lakukan, mulai dari mempersiapkan mengajar, membuat perencanaan kegiatan dan pelaksanaannya bersama murid semata-mata karena keterikatannya dengan Allah SWT. Tujuannya adalah mencapai kedekatan dan keridhaan Allah SWT.


Ikhlas, menurut Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, bermakna mengosongkan sesuatu dan membersihkannya. Menurut Hamka, arti ikhlas adalah bersih dan tidak ada ikut campur sesuatu apa pun. Sementara menurut Abu Thalib Al Makki, ikhlas mengandung pemurnian agama dari hawa nafsu dan perilaku menyimpang, pemurnian amal dari bermacam-macam penyakit dan noda yang tersembunyi, pemurnian ucapan dari kata-kata yang tidak berguna, dan pemurnian budi pekerti dengan mengikuti apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. 

 

Mengapa keikhlasan sangat penting menjadi pondasi utama bagi seorang guru dalam menjalani profesinya sebagai tenaga pendidik? Bagaimana nili-nilai keikhlasan ada kaitannya dengan profesionalisme di dunia  pendidikan dan dunia kerja pada umumnya saat ini?

Selengkapnya
Sticky Notes Guru Kelas – #11 - Melatih Anak Membuat Keputusan Sendiri

05 Juni 2021 

Anak-anak cenderung melakukan tindakan karena spontanitas, atau dipengaruhi oleh keinginan orang lain. Banyak kecenderungan anak-anak berbuat sesuatu bukan karena keputusannya sendiri, melainkan karena intruksi. Sehingga kemampuannya untuk belajar membuat keputusan menjadi kurang terasah. Anak-anak menjadi tidak independen. Mereka kurang percaya diri dan kurang mandiri. 


Guru perlu melatih anak untuk belajar membuat keputusan sendiri secara independen. Guru perlu mengenalkan kepada anak langkah-langkah mengambil keputusan sendiri. Langkah-langkah mengambil keputusan itu akan membantu anak belajar bagaimana mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi mereka, dan kemudian memilih putusan yang tepat sebagai langkah akhir untuk bertindak.

Selengkapnya
877E8EE5-7985-46A8-B162-9152630BAD9C
Personal Development – Membangun Profesionalisme Guru di Sekolah

Setiap sekolah ingin membuat iklim dan suasana proses pendidikan di dalam sekolahnya tampil lebih baik, nyaman dan memberikan dukungan kepada semua pihak yang terlibat dalam segala bentuk kegiatan. 

 

Dukungan yang paling utama diberikan oleh sekolah, mulai dari lingkup manajemen hingga kepala-kepala bidang tertentu akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kualitas pendidikan dan pengajaran di sekolah tersebut. 


Melaksanakan program pengembangan kepribadian guru di sekolah  meliputi kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun sumber daya manusia dan memfasilitasi kelayakan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi pada realisasi impian dan aspirasi para guru tatkala bekerja, hidup, berinteraksi dengan seluruh individu di dalam sekolah. 

 

Konsep ‘personal development’ bagi para pendidik tidak terbatas pada ‘self-help’, tetapi mencakup kegiatan formal dan informal untuk mengembangkan kemampuan individu dalam peran sebagai tenaga pengajar/pendidik,  pembimbing, konselor, manajer, atau mentor.  

Selengkapnya
C5FD7966-2D95-4A8E-A163-48095D88B2FC
Puasa, Latihan Menghadapi Intimidasi Keinginan Diri

Suatu hari seorang anak dari kawan amirul mu’minin Umar bin Khattab – Hafs, datang kepada khalifah dan mengomentari tentang kehidupan khalifah Umar bin Khattab yang sangat sederhana. Bahkan ia mengkritik makanan Umar, ia katakan bahwa makanan di rumahnya jauh lebih baik daripada makanan khalifah. Umar bin Khatab berkata, “jika aku mau, aku bisa saja menikmati makanan terbaik dan mengenakan pakaian terindah, aku tidak melakukan itu semua karena aku ingin menyisakan kesenanganku untuk hari akhirat kelak."


Puasa adalah latihan menunda kesenangan untuk kebaikan dan kesenangan yang lebih baik di masa mendatang. Bisa jadi kebaikan yang diperoleh adalah suatu kebaikan yang dirasakan di dunia, dan terlebih di akhirat.

 

Sekitar tahun 1960-an, seorang profesor dari Stanford University melakukan penelitian perilaku tentang kemampuan mengendalikan keinginan yang kelak dinamakan dengan ‘marshmallow test’.  Profesor Walter Mischel menggunakan subjek asli dari 'tes marshmallow' ini adalah Ingin menentukan apakah kemampuan untuk menunda kesenangan sesaat dapat memengaruhi perilaku  anak-anak dan akan menuntunnya menjadi orang dewasa yang sukses.

Selengkapnya
53C276F4-B26A-46FB-83B2-A5B01B2C6C9D
BFD8F7D6-5FFB-4BF1-914E-FE7ADB357CD6

Mengembangkan Keterampilan Belajar Pasca Pandemi COVID-19

Perbincangan dan diskusi seputar pandemi, khususnya pendidikan selama dan pasca pandemi, menarik perhatian dan juga boleh dikatakan sebuah tantang pemikiran baru era digital dan masyarakat modern sekarang ini.
 

Kita semua mungkin mengharapkan perubahan pada pendidikan selama pandemi — di mana hampir setiap siswa, mulai dari tingkat SD hingga SMA mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya, yaitu secara daring — akan membantu sebagian besar anak untuk siap menghadapi era industri 4.0 atau 5.0, bekerja di tempat kerja digital di masa depan.


Momen pandemi justru tidak memberikan kerangka baru dalam pengembangan sistem pendidikan berbasis teknologi. Karena perangkat digital, buku ajar, dan guru sebagai pusat belajar masih mendominasi pola belajar di rumah. Sehingga penyesuaian dalam perubahan pendidikan jarak jauh tidak hadir untuk memberikan keterampilan baru selama pandemi, bahkan kebutuhan akan keterampilan lainnya pasca pandemi COVID-19 ini.

  

Apa saja keterampilan belajar yang perlu ditanamkan/dipelajari oleh anak selama dan pasca pandemi?


Apa keterampilan yang perlu dikembangkan dan diprioritaskan dalam sistem pendidikan dan  perencanaan pembelajaran pasca pandemi COVID-19?


Baca selengkapnya

9B52A668-8F05-4C42-82AD-4F83765AAE72

Analisis ‘Critical point’ dalam proses pendidikan di sekolah menengah

Pembelajaran di tingkat menengah pertama – SMP, merupakan awal transisi anak-anak melewati masa pendidikan yang mengarahkan kepada kemampuan dasar akademik, sikap sosial, kemampuan logika, kemampuan belajar dengan cara dan keunikan diri masing-masing, kekuatan imajinasi dan berkreasi, serta  kemampuan beradaptasi di berbagai situasi. 


Anak-anak yang telah lulus dari tingkat pendidikan dasar – SD memasuki tahap baru dalam kegiatan belajar di sekolah. Usia 12 – 15 tahun adalah usia masa pra remaja, di mana anak-anak sudah memasuki masa pubertas. Secara emosional, kemampuan berpikir dan bersosialisai, anak pra-remaja mengalami peningkatan yang cukup signifikan. 

 

Bagi beberapa anak, transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah tidak mulus, karena cakupan area belajar yang semakin luas, butuh tingkat kemandirian yang lebih tinggi, dan  munculnya tuntutan tanggung jawab yang lebih besar dari mereka.  

Bagaimana guru memahami perkembangan dan berbagai situasi perubahan dalam diri anak usia SMP? Bagaimana hal-hal kritis pelu disikapi dalam upaya memaksimalkan proses belajar dan cara belajar anak pra-remaja?

Baca selengkapnya

7DF526B3-FF3A-4196-B812-BE393D21DC34

Memaksimalkan Tipe Kecerdasan Majemuk Lewat Berbagai Aktivitas di Kelas

Pada tahun 1983, Howard Gardner mengajukan teori kecerdasan majemuk (Kecerdasan Ganda), meskipun dia terus merevisi teorinya selama bertahun-tahun. Ia menguasai kecerdasan tradisional tidak lengkap dan membaca berbagai jenis kecerdasan, awalnya ada 8 jenis kecerdasan:


1. Linguistik (terampil dengan kata-kata dan bahasa)

2. Logis-matematis (terampil dengan logika, penalaran, dan / atau angka

3. Kinestetik-tubuh (ahli dalam mengontrol gerakan tubuh seperti olahraga, tarian, dll.)

4. Visual-spasial (terampil dengan gambar, spasial, dan / atau teka-teki)

5. Musikal (terampil dengan suara, ritme, nada, dan musik)

6. Interpersonal (terampil berkomunikasi dengan / berhubungan dengan orang lain)

7. Intrapersonal (terampil dalam pengetahuan diri, refleksi, dll.)

8. Naturalistik (memahami / berhubungan dengan alam)


Kemudian pada tahun 1999 Gardner menambahkan satu lagi kecerdasan yang delapan, kecerdasan eksistensial. Karena secara spiritual, seseorang bisa memiliki sebuah keistimewaan, dan itu merupakan salah satu bagian dari bentuk lain perkembangan kecerdasan. Iapun disebut sebagai “kecerdasan eksistensial” (eksistensial intelligence).


Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas tentu guru perlu memperhatikan kecerdasan majemuk tersebut pada diri anak dan memfasilitasinya dalam kegiatan di kelas.

Bagaimana pelaksanannya dalam bentuk aktivitas di kelas?


Baca selengkapnya



A6CCE137-0000-4970-B75E-62AC57D0DF6D

Membangun Kultur Positif di Sekolah

“Sebagai guru, kami memiliki kesempatan untuk mendorong perubahan positif, pada pengalaman sehari-hari   di sekolah kami. Menginvestasikan waktu untuk meningkatkan budaya sekolah adalah nilai dan usaha. "  [Brad Kuntz]

  

Apa yang membuat sebuah sekolah menjadi tempat yang tepat untuk tumbuh kembang anak? Apakah pola didik dan pola asuh memberikan apa yang benar-benar di utuhkan dan mendukung terwujudnya pendidikan dan pengasuhan bagi anak sebagai peserta didik? Apakah guru telah menjadi tenaga pendidik yang mewakili tanggung jawab orangtua dalam proses pendidikan selama di sekolah? Sebagai salah satu miliu pendidikan yang penting setelah rumah, sekolah harus memiliki  'kultur positif'  yang memfasilitasi tumbuh kembang anak sebagai peserta didik dengan baik. 'Kultur positif'  di sekolah berdampak, tidak hanya pada sikap siswa dan guru, tetapi pada seluruh pengalaman belajar. Anda sebagai guru atau pemimpin sekolah yang memiliki peran penting dalam menciptakan budaya sekolah yang positif. 

 

Bagaimana membangun kultur positif di sekolah?


Lanjut membaca
DB34F471-CC56-4540-B438-BC275B540CCD

Sticky Notes Guru Kelas - #10 Mengatur Kelas Lebih Efektif Secara Daring

“Classroom management is a part of a journey, we need not a goal, we need a best preparation to start the trip.” [BungRam]

  

Saya sering mendapati kegiatan kelas, baik secara tatap muka langsung, dan saat masa belajar jarak jauh di tengah pandemi, para guru terobsesi untuk mengejar dan mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal hingga level sempurna sesuai kondisi dan kemampuannya secara individu. 

 

Tahukah Anda bahwa kelas yang efektif diatur dan direncanakan secara baik, sesungguhnya bukan untuk mengejar target pembelajaran berdasarkan muatan kurikulum semata, namun yang lebih utama adalah bagaimana peserta didik menjalani proses belajar, baik secara langsung maupun secara daring, mampu mengikuti prosesnya, menikmati “petualangannya” menemukan berbagai hal, dari pengetahuan kurikuler, hingga keterampilan yang mereka pelajari dalam aktifitas bersama guru dan kawan-kawannya. 

 

Pada ‘Sticky Notes’ ke-10 ini, saya akan berbagi tips manajemen kelas yang efektif untuk memfasilitasi “perjalanan” para peserta didik bersama Anda: 


Lanjut membaca

3BD3E8BD-6CAF-4910-91D9-CE1B00CAF232

Karakter Baru Pendidikan Pasca Pandemi

Tahun pandemic adalah salah satu peta adanya berbagai pertumbuhan dan perubahan yang tidak bertahap. Yang berdampak terhadap sistim pendidikan dan pola belajar dan mengajar di sekolah.  Pola pikir guru, murid dan orangtua.  Jadi saat kita melewati tahun yang sulit ini dan melihat ke tahun berikutnya, saya pikir kita perlu merenungkan apa yang mungkin terbukti sulit dan apa saja yang akan mempertahankan berbagai hal permanen dalam pendidikan.

 

Semua insan pendidikan kini mulai akrab dengan berbagai perangkat teknologi, sudah ada yang menerapkan bermigrasi dari pendekatan konservatif dengan pendekatan kolaboratif yang sebelumnya dipandang tidak terlihat dalam praktik pendidikan.  Atau dipandang tidak layak dilihat sebagai sebuah proses belajar.

 

Perubahan dan pertumbuhan pedagogis saat ini adalah bagian dari terbangunnya konstruksi “karakter pendidikan”.  Mengembalikan prioritas meraih sebuah survei, atau memprioritaskan kembali komunitas belajar dan perhatian yang intens terhadap konten belajar sebagai dampak positif pada kurikulum dan prestasi siswa.


Beberapa hal yang diprediksi akan menjadi melekat dalam dunia pendidikan, bisa disebut sebagai perubahan “karakter pendidikan”, apa sajakah itu?


Lanjut membaca

589BD8FB-22E4-4F46-8A6A-BF7EBD031EDD

Sticky Notes Guru Kelas - #7 – Menata Kelas Untuk Mendukung Efektifitas Belajar

“Aturan dalam kelas itu penting, tapi aturan bukan segalanya untuk keefektifan kelas.”

  

Ruang kelas yang efektif lebih dari keteraturan dan kontrol mengikuti aturan. Ruang kelas yang efektif adalah tempat pembelajaran terjadi. Ruang kelas adalah tempat di mana siswa terlibat dan mencapai tujuan pembelajaran. Aturan dalam kelas itu penting, tetapi aturan kelas itu sendiri sesuai dengan tujuan. Aturan kelas membantu mendukung pembelajaran.

Selengkapnya

Artikel dan berita lainnya