Hubungi BungRam    

Sekolah ‘Toxic’

#schoolmanagement


“When school practice built on profits and loss goals, education is not the light for all human beings. But as storefront that sells learning program”


Pak Kamil adalah guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah swasta. Ia telah mengajar lebih dari 5 tahun dan memiliki keterampilan mengajar yang cukup baik. 

 

Sekolah tempat pak Kamil bekerja memiliki cukup banyak murid, dan memiliki sarana sekolah terbilang lengkap. Beberapa kelas nampak baru karena tahun lalu telah mendapat perawatan dicat ulang, dan dilengkapi layar untuk proyektor selain papan tulis. Proyektorpun tergantung dengan apik di bagian atap kelas.

 

Kegiatan sekolah selama ini telah berjalan sebagaimana tertuang dalam rencana kerja dan program semester sekolah. Namun belakangan pak Kamil  mengeluh perihal kondisi di sekolahnya. Carut marut penerapan aturan, inkonsistensi, misorientasi tujuan pendidikan di sekolah tersebut, egoisme pembuat kebijakan, tidak adanya komunikasi/kebiasaan dialog yang terbuka,  indisipliner dan kemalasan sebagin rekan kerja, hingga absurditas cara berpikir pemilik sekolah membuatnya pesimis untuk melanjutkan karirnya di lembaga tersebut.

 

Apa yang dialami pak Kamil menurut saya bagian dari “toxic culture” di sekolah. Budaya kerja yang unconditioned and disordered situations,

, profesionalisme dan integritas yang runtuh, hingga untrust yang muncul membuat lembaga sekolah menjadi “toxic”.

 

Jadi seperti apa yaa tanda-tanda sekolah (dengan budaya) yang “toxic” Itu?

 

1. Sekolah mulai mengalami disorientasi, dan menjauh dari tujuan yang yang telah ditetapkan. Tenaga pendidik dan non pendidik pun tidak memahami tujuan-tujuan lembaga secara kongkret. Sehingga mereka tidak memiliki tujuan yang sama, mereka akan bekerja berdasarkan agenda mereka sendiri, yang pada akhirnya akan menciptakan konflik.


2. Hubungan negatif antara staf, guru, guru dengan pimpinan, atau bahkan antar pimpinan. Hubungan negatif itu bisa muncul disebabkan banyak hal, salah satunya (yang paling penting) adalah komunikasi. Karena antara fakta dan opini ada ilusi. “The single biggest problem in communication us the illusion that it has taken place” kata George Bermard Shaw.    Hubungan negatif dawali dengan komunikasi yang buruk, akarnya ilusi.  Ketika ilusi yang mengambil tempat, seseorang akan mengesampingkan fakta dan tidak mampu menghadirkan opini obyektif, atau sekedar beropini saja. Sekedar contoh “toxic” yang dihasilkan dari buruknya komunikasi; si A sering datang terlambat, bekerjanya tidak sesuai aturan dan prosedur yang berlaku. Si A punya sedikit “keahlian”, ia “baik” di depan orang yang menyebutnya “ahli”. kemudian dibangun opini bahwa si A itu sebenarnya pribadi yang baik, ia kreatif. Opini itu kemudian berubah menjadi Ilusi sebagai pengambil  tempat tentang personifikasi A di depan publik. Si A adalah orang baik (karena dia “ahli”). Tanpa melihat bahwa sebenarnya si A bekerja dengan kinerja yang buruk.


3. Tidak konsisten terhadap kesepakatan dan aturan.  Sekolah yang “toxic” memiliki kebiasaan inkonsistensi dalam menegakkan kesepakatan dan aturan. Dalam banyak kasus, relasi kuasa dan otoritas kelembagaan atas praktik inkonsistensi dan pelanggaran aturan amat erat. Malah kadang otoritas merasa itu bukan sebuah pelanggaran.


4. Tidak adanya medium dialog yang terbuka. Pimpinan yang sulit berdialog dengan terbuka menunjukkan sekolah memiliki masalah. Guru yang enggan menjelaskan permasalahan secara terbuka menunjukkan ruang untuk berpikir konstruktif ditutup demi kenyamanan. Orangtua yang sulit mendapatkan penjelasan tentang permasalahan  anaknya atau kebijakan sekolah karena menghindari pendapat berbeda dan kritik atas kebijakan mendukung suasana tidak kondusif, dan  akhirnya menjadi “toxic”.

 

 


5. Jalur belakang lebih aktif daripada  jalur pertemuan formal. Jika lebih banyak yang dikatakan dan kemudian disepakati di luar  pertemuan tidak resmi rapat guru atau pimpinan, itu pertanda bahwa guru dan lembaga tidak saling percaya. Jika pabrik rumormengendalikan segalanya, itu meninggalkan celah bagi orang untuk membuat narasi subyektif mereka sendiri. Siapapun yang mengontrol narasi, maka mengontrol budaya sekolah. Dan budaya itu menjadi “toxic”.

97180FD3-9505-489D-B48E-FF241FF54E85

Source: https://bicycling.com


6. Disiplin negatif. Hukuman lebih dianggap efektif daripada dialog dan penyelesaian masalah. Hal itu akan membuat siswa berpikir bahwa dirinya hanya dipandang baik jika tidak melakukan kesalahan. Guru kemudian hanya melihat siswa dari seberapa banyak melakukan yang benar atau yang salah.  Bukan membangun kesadaran melakukan evaluasi dan memperbaiki kesalahan. 


7. Kurangnya rasa aman yang berpendapat. Jika orang takut untuk berbicara, mereka tidak dapat mengatasi masalah secara langsung. Ketika guru atau siswa tidak bebas menyampaikan pendapat secara bebas, mereka  rentan, mereka tidak merasa aman dalam percakapan, dan sulit terbangun kedewasaan bekerja dalam komunitas.


8. Proses pendidikan tidak memfasilitasi dan mendukung pertumbuhan siswa dari berbagai aspek. Ketika sekolah membatasi proses pendidikan hanya pada pencapaian prestasi secara akademik, lalu menafikan kebutuhan tumbuh kembang anak secara komprehensif, maka lembaga sekolah akan menjadikan peserta didik sebagai obyek regulasi pendidikan. Bukan subjek dirinya sendiri sebagai pembelajar.



Baca juga artikel tentang guru’toxic’


9. Kelompok mendukung otoritas dan menafikan komunitas. Dalam sebuah komunitas selalu ada kelompok kecil yang berusaha mengontrol situasi. Mereka seperti menjadi “agent” pemilik otoritas untuk sekedar bisa exist. Atau memperkuat posisi aman dalam bekerja. Karena budaya integritas dan disiplin rapuh, kelompok “pengatur” ini akan membuat gap komunitas melebar atau bertambah. Pemegang otoritas sejatinya tak ingin ada gap antar komunitas, namun ketika gap itu terbentuk untuk menjadi semacam dukungan, maka akan dipelihara oleh pemegang otoritas.


10. Program tidak berpihak kepada rasio kebutuhan siswa. Program dibuat sesungguhnya untuk kebutuhan siswa. Meskipun di awal ada cabang  program yang dikhususkan untuk pengembangan lembaga dari sisi fasilitas dan finansial, maupun sumber daya manusia. Program sekolah yang tidak berpihak kepada rasio kebutuhan siswa akan menyebabkan motivasi belajar dan harapan pencapaian kompetensi siswa tidak terwujud.  

 

[BungRam-04022022]]


F734A09E-B9C1-4392-80A3-BC64014C37AF

Ruh Guru – #3

F44C29FF-437F-4191-A4A2-E0767410FF8F

Ruh Guru – #2

{"uid":"2176AF49-EE37-47E7-9CF4-86179503AA26_1625403749532","source":"other","origin":"unknown"}

Ruh Guru – #1 

Artikel pendidikan

Artikel parenting